Kandangan, Tanuhi dan Doa Saya

Sudah beberapa hari rupanya saya tidak menuliskan atau bercerita sesuatu, mungkin ini tidak masalah. Tapi berbanding lurus dengan itu, saya juga belum menjawab pesan dari beberapa rekan, ini yang bisa jadi masalah bagi saya. Beberapa hari terakhir ini saya tenggelam dalam kepadatan akhir tahun dan juga beberapa hal, tapi saya harus kembali, dan hari ini saya kembali.

28 Desember 2008, saya mengawali hari dengan cukup cepat karena akan ikut serta berangkat ke Kandangan. Sebuah acara yang telah dipersiapkan selama beberapa waktu sebelumnya. Setrika pakaian sudah saya lakukan pada malam harinya, dan saat pagi menjelang, saya tinggal mandi untuk kemudian mengenakannya. Setelah anggota rombongan komplit terkumpul, iring-iringanpun berjalan. Satu lagi hari yang indah akan dilalui. eng… ing… eng….
 

Hanya Sebuah Perjalanan Kecil

{mosimage}Beberapa hari terakhir ini, saya kerap bolak-balik ke Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Tentu saja karena urusan pekerjaan. Sejujurnya, saya sangat menyenangi setiap perjalanan ke Tanah Laut. Alasannya cuma satu, suasana. Perjalanan ke Tanah Laut adalah salah satu yang paling membuat saya merasa nyaman. Tidak  ada sesak debu dan aroma pekat polusi, melihat hamparan pepohonan, aroma tanah dan rerumputan basah yang selalu membuat saya bahagia, melihat pegunungan walau saya tak bisa naik-naik ke puncak gunung, yang mungkin tinggi tinggi sekali.
 

Entah Sampai Kapan Keyakinan Itu Ada

Bagaimana Bang? Berikanlah kesempatan ini kepadanya, setelah itu, kita bisa atur posisi yang tepat untuk Abang…” Lelaki yang dipanggil abang itu tersenyum, diteguknya es teh, salah satu minuman favoritnya, dan kemudian meletakkan kembali gelasnya pada tatakan yang telah tersedia. Sejenak dipandangnya sang gadis, kemudian ia tersenyum.

An…”, demikian lelaki itu menyebut sepenggal nama sang gadis, “ini adalah sebuah permainan. Semua orang memiliki hak yang sama dalam permainan ini. Marilah kita bermain secantik mungkin dan lihatlah bagaimana hasilnya nanti“. Lelaki itu menjawab sembari tersenyum dan sang gadispun tersenyum, samar terlihat kecut.
 

Saya Tahu Rasanya

Dulu, sewaktu kecil, rumah saya, maaf maksudnya rumah orang tua saya, berbentuk agak panggung. Maksudnya agak tinggi. Kurang tepat saja rasanya kalau rumah bukan dari kayu sekalipun tinggi tetap disebut rumah panggung. Mungkin sampai saat ini, kecamatan tempat saya tinggal pada masa kecil itu, seringkali kebanjiran, namun seingat saya dulu tidak sampai masuk ke dalam rumah seperti yang dirasakan seorang kawan saat ini.

Air setinggi hampir 1 meter itu hanya sampai di pekarangan, dan tidak sampai ke atas teras. Saya tidak tau kalau itu adalah sebuah musibah, yang saya tau persis itu adalah sebuah kesempatan berharga untuk berbasah-basah mandi di kala banjir. Sebuah kesempatan lain untuk bergembira.
 

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain

 

Pakacil - Banjarbaru, Kalimantan Selatan © www.pakacil.com