
30/05/2009
Personal
“Turun !”, ucapan tegas keluar dari seorang lelaki sembari menengadahkan kepalanya ke atas sebatang pohon. Seorang anak kecil, yang tengah riang bermain diantara cabang-cabang pohon itu sontak terdiam, pucat wajahnya, kelu lidahnya. Terdiam ia sejenak.
Anak kecil itu beringsut turun, perlahan menapaki dahan demi dahan. Happ… dengan sedikit meloncat ke bawah, sepasang kaki mungilnya kembali menapak bumi, namun tak setegar sebelumnya. Kali ini kepalanya terus tertunduk, jelas kalah pengaruh dari seorang lelaki yang merupakan ayahnya.
Tak perlu menunggu lama setelah mendarat, kaki bocah kecil itu berjalan gontai, lemas ketakutan, karena ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi akibat ulahnya kali ini. Perlahan namun pasti bocah itu menapaki anak tangga sebuah rumah panggung. Rumah neneknya, yang berjarak sekitar 20-an kilometer dari rumahnya beserta orang tuanya.
Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seseorang yang kebetulan menjadi seorang kepala bagian di salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan. Dalam obrolan sampai pagi tersebut, beliau bertanya, “…dari mana sebenarnya sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Banjarbaru yang nampak terus mengingkat itu? Padahal Banjarbaru tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan dan tidak sebesar Kota Banjarmasin…”
Berawal dari pertanyaan itulah obrolan berkembang ke banyak sisi, termasuk tentu saja isu-isu seputar pemilihan walikota Banjarbaru 2010 nanti, soal ini memang selalu menarik bagi sebagian orang di Banjarbaru. Obrolan lebih mengarah pada diskusi dalam bentuk studi kasus beberapa hal di kabupaten beliau dan di Banjarbaru, sepanjang yang saya tahu tentu saja.

25/05/2009
Sudut Lain
Tapi saya yakin, Pak Hobnur akan kesulitan untuk melancarkan lelucon yang sama. Karena akan sangat sulit untuk menemukan komedian sekelas Mr. Bean untuk diupload ke akun FB beliau. …
Saya terdiam, melongo, tak bersuara. Itulah reaksi saya pertama kali melihat lalapan sewaktu dulu baru tinggal di Bandung pada medio 90-an. Reaksi itu timbul setelah saya bertanya, “Bi, sayurnya mana ya?”. Bibi yang masak untuk kami menjawab, “Itu, di meja kan ada”. Saya langsung menuju meja makan dan membuka tudung saji. Tarrrraaaa… tampak terlihat kumpulan dedaunan berwarna hijau disana. Itulah yang membuat saya terdiam, melongo dan tak bersuara itu. “Ooo… jadi inilah yang dinamakan orang lalapan itu…”, demikian saya membatin.

Mempersiapkan Pesanan Pelanggan
Ya… kali ini saya memang akan bercerita tentang lalapan. Sedikit tentang mereka yang bergelut dalam bidang usaha lalapan ini. Tentu saja hal ini ditunjang oleh sebuah kenyataan tak terbantahkan bahwa lalapan lele dan bebek merupakan salah satu makanan favorit saya.
Jika anda berkeliling di Kota Banjarbaru, atau bahkan seluruh kota di negara ini, bukan mustahil Anda akan menemukan jenis usaha yang satu ini. Usaha warung makan lalapan dengan berbagai nama. Di Banjarbaru, saya memiliki 2 (dua) buah warung makan lalapan langganan. Demikian pula kalau saya ke Malang, masih ada salah satu warung lalapan saya yang masih buka, sementara yang satu lagi sudah tutup. Karena ibu yang berjualan sudah tua dan katanya ingin istirahat. Niat yang saya dengar langsung dari beliau bertahun-tahun lalu.