
“Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka”.
“Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya”.
“Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin”.
“Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia”.
“Bapak artinya juga tidak suka dikurung ya Bu ?”
Sang ibu tertegun sejenak. Sesaat pandangannya menerawang. Jauh menembus dinding papan rumah sewaan ia dan anaknya yang satu-satunya itu. “Sudahlah Min. Kamu lapar kan ? Ibu masak dulu ya”.
Anak kecil yang bernama Amin itu kini berlari menuju lapangan di mana ia biasa berkumpul dengan teman sebaya. Menghabiskan waktu kecil dengan begitu bahagia. Syaifullah Aminuddin, begitu nama lengkapnya. Dengan bangga ia menceritakan arti namanya kepada orang-orang yang ditemuinya, apabila mereka menanyakan nama lengkapnya.

