<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pakacil Banjarbaru &#187; Sudut Lain</title>
	<atom:link href="http://pakacil.com/category/sudut-lain/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pakacil.com</link>
	<description>Berbagi cerita dari sebuah sudut di Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 11:59:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tawar Menawar Harga Pas</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 22:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pembeli]]></category>
		<category><![CDATA[penjual]]></category>
		<category><![CDATA[untung rugi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[<p>2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/03/tunjukin.jpg" alt="" title="tunjukin harganya !!!" width="100" height="100" class="alignleft size-full wp-image-911" />2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal antara penjual yang sedang bangun dan pembeli yang bukan saya.</p>
<p>Tangannya memegang roti, tangan itu pembeli maksudnya. Bertanyalah ia, tentu kepada penjual, &#8220;berapa ini harganya?&#8221;. Lalu itu penjual menyahut dengan santai, &#8220;itu ada harganya, di bungkusnya&#8221;. Lantas saya interupsi-lah itu penjual dengan pesanan 2 kotak minuman dingin dan 2 pak barang yang selalu disertai peringatan pemerintah minus peringatan DPR-RI itu. Interaksi mereka berlanjut. 2 orang itu. Bukan saya. saya cuma mendengar dan memperhatikan.<br />
<span id="more-900"></span><br />
&#8220;Oh iya&#8230; ini harganya Rp 1500,-. Jadi kembalian punya saya sisa Rp 1000,-&#8221;, pembeli punya suara sambil menghitung kembaliannya sendiri. Turut membantu mungkin niatnya.<br />
&#8220;Berapa harganya?&#8221;, penjual malah tanya sama pembeli, dan percayalah sodara, ini hal bikin saya bingung. Penjual tanya harga barang sama pembeli.</p>
<p>&#8220;Seribu lima ratus&#8230;&#8221;, ucapnya lagi.<br />
&#8220;mana? 1500?&#8221;, itu yg jual seperti tak percaya.</p>
<p>&#8220;iya ini tulisannya 1500&#8243;, berusaha meyakinkan rupanya. Namun jempolnya kemudian bergerak, dan membuat tulisan harga agak terlindungi. Namun tenang, mata saya rupanya cukup terlatih dalam urusan lirik melirik.</p>
<p>&#8220;sini&#8230;&#8221;, itu penjual ambil bungkusan roti dari tangan pembeli, memperhatikan bungkusnya, tak lama kemudian berucap, &#8220;mana 1500-nya&#8230; ini harganya 3500 (tiga ribu lima ratus)&#8221;.</p>
<p>Sungguh sodara, saya menahan tawa. Saya ulangi ya&#8230; biar meyakinkan. Sungguh&#8230; saya menahan tawa, karena mata saya secara lincah melihat dan memperhatikan itu bungkusan roti, dengan jelas tertera harga hasil print-out komputer, tercetak tebal alias bold, menggunakan font sejenis Arial, dengan ukuran setidaknya 10px. Tercetak jelas harganya, <strong>3000</strong> !!!<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Percayalah, antara pembeli dan penjual itu punya satu kesamaan, yakni sama-sama cari untung, paling kurang sama-sama tidak mau rugi.</p></blockquote>
<p>Keterlaluan sekali saya ini, malah maunya tertawa, bukannya ikut bantu menyelesaikan. Tapi ya, saya pikir-pikir itu soal sederhana saja, mungkin hanya karena malam hari, lantas agak-agak kabur pandangannya dalam membaca angka-angka yang tertera jelas. Lagi pula, saya meyakini, itu tawar menawar, bargaining, kompromi, atau apapun namanya, untuk kelas begini ini jauh lebih mudah, demikian pula kalau belanja dipasar.</p>
<p>Hal yang sulit itu kalau proses tawar menawarnya berlangsung di/atau menyangkut pusat kekuasaan. Bargaining-nya bakal alot. Naik turunnya jauh susah. Bisa berlapis-lapis layar yang menutupinya. Lantas, kenapa tidak saya nikmati saja proses yang menarik tersebut? Karena jauh lebih mudah dinikmati dari pada proses tawar menawar semisal terkait century dan sejenisnya.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_cool.gif" alt="" title="kuuuul" width="44" height="42" class="alignnone size-full wp-image-389" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Memang Harus Memilih</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pemilukada kalimantan selatan 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:</p> <p>Saya mengerti dan memahami bahwa: Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun. Segala akibat yang timbul dari tulisan ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.</li>
<li>Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.</li>
<li>Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.</li>
<li>Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian penulisnya.</li>
</ol>
<p></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;">Klik <strong>Next</strong> untuk melanjutkan atau <strong>Cancel</strong> untuk membatalkan</span> <span style="color: #993300;">:</span><br />
<a href="http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#pilihan" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih"><img class="alignnone size-full wp-image-888" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih" src="http://pakacil.com/file/2010/02/next.jpg" alt="next" width="73" height="21" /></a> &nbsp;  &nbsp; <a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
</blockquote>
<p><span id="more-887"></span><br />
• <a name="pilihan">Skenario Pemilihan Darurat</a></p>
<p>Saya membayangkan, <strong>seandainya saja</strong>, di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kalimantan Selatan 2010 yang akan datang <strong>terdapat kondisi ekstrim</strong> dengan hanya ada 2 (dua) kandidat dengan latar belakang sebagai berikut:</p>
<blockquote><p><strong>Kandidat 1</strong><br />
Bukan orang alim, belum berhaji, isterinya dua, masuk kantor sering telat, pengelolaan keuangan daerah tertib, mampu meningkatkan investasi dan perekonomian daerah, perhatian tinggi pada pendidikan dan kesehatan.<br />
Pendek kata, nakal tapi memang bisa kerja.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kandidat 2</strong><br />
Alim, kerap ceramah atau khutbah dimana-mana, sudah haji, isterinya cuma satu, tertib masuk kantor, pengelolaan keuangan daerah amburadul, tak bisa bikin terobosan pembangunan atau peningkatan kesejahteraan.<br />
Pendek kata, alim tapi cuma bisa ceramah.</p></blockquote>
<p>Maka, dengan dasar pemikiran sebagai berikut:<br />
<img src="http://pakacil.com/file/2010/02/menunjuk_pakacil.jpg" alt="menunjuk pakacil" title="menunjuk pakacil &copy; www.pakacil.com" width="85" height="135" class="alignleft size-full wp-image-890" />
<ol>
<li>Religiusitas adalah persoalan yang tak bisa diukur oleh mata.</li>
<li>Pembangunan adalah keputusan bumi, bukan keputusan langit.</li>
<li>Orang lapar itu diatasi dengan makan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Pengangguran itu diatasi dengan motivasi kerja dan terbukanya kesempatan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Daerah bisa maju dengan kerja riil, bukan dengan pasang baliho.</li>
<li>Rendahnya kesejahteraan memiliki potensi lebih untuk menimbulkan keresahan.</li>
<li>Kalau sekedar soal warna kopiah, di pasar juga banyak pilihan !!!</li>
<li>dan lain-lain yang sejenis</li>
</ol>
<p>Jelas, saya akan memilih Kandidat Nomor 1 !!!  </p>
<p>Sebenarnya, masih ada item persetujuan lainnya, yang ketinggalan pada bagian awal di atas itu, yakni sebagai berikut:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Inti utama dari tulisan ini adalah persoalan <strong>tugas dan kewajiban utama</strong> seorang kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) dan bukan menghadapkan secara <em>vis-a-vis</em> persoalan religiusitas dan politik.</li>
<li>Kesejahteraan tidak bisa dibangun melalui baliho dan proses pencitraan yang luar biasa, melainkan dengan kenyataan dan kerja.</li>
</ol>
<p></span></p></blockquote>
<p>Namun, bagi Anda yang sudah terlanjur selesai membacanya, maka saya anggap bahwa Anda juga menyetujui klausa terakhir ini, lagi pula setuju atau tidak, toh Anda sudah terlanjur baca. Namun lagi, jika memang Anda tetap tak sependapat, silakan klik Cancel di bawah ini untuk membatalkan :<br />
<a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span class="init">B</span>anjarbaru, yang ada di Kalimantan Selatan<br />
di tengah gegap gempita promosi calon kepala daerah<br />
serta tertular <a href="http://marsudiyanto.info/" target="_blank" title="It’s Not Just a Blog - It’s a Metamarsphose  Blog">Pak Mars</a> yang posting macam² dipakai itu<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kabur.gif' alt=':kabur:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bernyanyi, Ououo &#8230;</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 18:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[bernyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi. Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera “bebas mimpi buruk” sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas spring bed saja. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/bebas_lepas.jpg" alt="bebaskan lepaskan" title="bebaskan lepaskan &copy; www.pakacil.com" width="85" height="94" class="alignleft size-full wp-image-882" />Bisa jadi anak muda itu ingat bahwa kami pernah bersua pada satu kesempatan, karena itulah ia tersenyum dan mengangguk tatkala melihat wajah saya. Saya pun tersenyum dan mengangguk. Ia tetap dengan properti yang sama, sebuah gitar. Mulailah ia memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya kenal judulnya. Ah&#8230; pasti itu lagu anak band abad 21.</p>
<p>Sore itu, saya dan <a title="Aap - Abahnya Najmy" href="http://aap.adacerita.com" target="_blank">Abahnya Najmy</a> tengah menikmati bakso, pakai <em>es</em>. Sebab bakso kalau tidak pakai <em>es</em> jadinya <em>bako</em>.</p>
<p>Seingat saya, dari seluruh pengamen yang pernah saya jumpai di Banjarbaru, anak muda inilah yang memiliki suara paling bagus. Pada perjumpaan kami yang pertama dulu, saat ia mau beranjak pergi, kami bilang, &#8220;eit&#8230; mau kemana, nyanyi satu lagu lagi, Ibu, lagunya Iwan Fals&#8221;. Satu lagu terfavorit dalam hidup saya, karena kesederhanaan dan isinya yang luar biasa.<br />
<span id="more-881"></span><br />
Anak muda itu menjawab, &#8220;maaf <abbr title="saya tidak hafal">ulun kada hafal</abbr> lagu itu&#8230;&#8221;. Sayang sekali, ia tak bisa membuat saya mendengar suaranya menyanyikan lagu yang pada keadaan tertentu, sungguh dapat membuat saya menitikkan air mata kalau menyanyikannya sembari memainkan gitar.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':|' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Namun sore itu, saya tidak lagi mengajukan request lagu. Saya biarkan ia selesai dan kemudian berkeliling mendatangi meja² mereka yang makan, untuk sekedar menjemput tanda jasa seusai ia bernyanyi. Saya hanya memperhatikan dan menunggu, sembari tangan kanan saya bergerak menarik kursi.</p>
<p>Sampailah ia di meja kami.. Saya pegang dan tarik lengannya sambil berucap, &#8220;duduk dulu kamu sini, ngobrol, sambil makan bakso&#8221;. Seporsi bakso pesanan tambahan untuknya pun tiba. &#8220;Sekarang giliranmu makan, saya sudah. Tak baik menolak rejeki&#8230;&#8221;, saya berucap menyuruhnya makan.</p>
<p>Sembari ia makan, saya ambil itu dia punya gitar, ah&#8230; saya pinjam sebentar maksudnya, saya pinjam pula <em>pick</em>-nya yang terbuat dari potongan plastik entah apa itu. Genjrang.. genjreng&#8230; saya mainkan dan mengalirlah sebuah lagu yang bertarikh dari akhir abad 20, Seperti Kekasihku, milik Padi.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Lagu yang mungkin ia juga kenal. Benar saja, kadang ia menimpali, duet ceritanya. Lagi pula sepertinya suaranya tak cocok untuk menyanyikan lagu² macam Biarkan Aku Menangis-nya Tommy J Pisa. Aap memilih jadi pendengar saja. Entah apa yang ada di kepala pemilik warung bakso dan para pelayannya melihat kami, biarkan saja. Lagi pula, lagu itu sendiri bagi saya masih masuk kategori lagu terbaru.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_joged.gif' alt=':dance:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebuah lagu telah usai. Anak muda itu tetap sambil menikmati bakso-nya sembari kami berbincang tentang banyak hal. Saya juga bilang ke dia untuk ikut audisi Indonesian Idol kalau ada dilaksanakan di Kalsel, kalau tak ada ya apa boleh buat.</p>
<p>Sore yang indah &#8230;</p>
<p>Apa kabar kau, Ainun kawanku, pengamen dari sudut terminal? Bagaimana kiranya kabarmu bapak teman bicara, yang kerap jaga parkir di depan deretan pertokoan itu? Bagaimana kabarmu Dik&#8230; yang biasa bernyanyi dari warung ke warung di pinggir jalan Banjarmasin dan pernah kumintakan sebuah lagu untuk kau nyanyikan itu? Dimana kau Mas&#8230; rekan duduk dan tidur di emperan terminal bertahun lalu? Pak.. Bu.. kalian yang kerap menjajakan makanan kecil keliling, yang kita kerap bercanda di pinggiran jalan, apa kabarmu malam ini?</p>
<p>Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi.</p>
<p>Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera &#8220;bebas mimpi buruk&#8221; sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas <em>spring bed</em> saja.</p>
<p>Paling tidak, marilah kita bernyanyi, untuk mengusir sepi, merajut mimpi &#038; tetap berdiri&#8230;<br />
<span style="color: #993300;">&#8230;<br />
nyanyian jiwa, bersayap menembus awan jingga  /  mega-mega, berberai diterjang halilintar<br />
mata hati, bagai pisau merobek sangsi  /  hari ini, kutelan semua masa lalu<br />
&#8230;<br />
menjeritlah, menjeritlah selagi bisa  /  menangislah, jika itu dianggap penyelesaian<br />
&#8230;<br />
aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai  /  <strong>tapi aku tetap berdiri</strong> &#8230; </span><br />
(Nyanyian Jiwa • Iwan Fals &#8211; SWAMI II 1991)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, suatu hari yang entah kenapa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istilah Titik-Titik di bawah Ini</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 21:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[istilah]]></category>
		<category><![CDATA[substansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Istilah bisa jadi hanya sekedar sebuah istilah, namun bisa jadi pula jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya sendiri. Istilah, bisa jadi begitu sederhana bisa jadi pula begitu rumit, begitu tinggi. Ada yang memposisikan istilah sebagai ciri sebuah kasta intelektualitas, ada pula yang suka-suka saja, mengalir apa adanya. Istilah bisa begitu lugas, bisa begitu mumet. Bahkan ada yang sampai menjadi tren. Istilah bisa juga dipakai untuk menggiring opini, bisa dipakai untuk pencitraan, bisa dipakai menutupi sesuatu, pendek kata, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan. Dari era ’salah prosedur’ sampai ke era ‘dampak sistemik’ saja sudah banyak istilah yang beredar dari telinga ke telinga. Tapi yang pasti, mau istilahnya hitam, hirang, black, ireng, hideung, schwarz atau zwart, tetap saja kode warnanya #000000. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/salto_bingung.jpg" alt="salto bingung" title="salto bingung" width="85" height="81" class="alignleft size-full wp-image-868" />Ada 2 (dua) kategori tema yang biasa saya pegang kalau mengisi program-program semacam diklat keorganisasian. Pertama adalah <strong>Leadership</strong> dan yang kedua adalah <strong>Humanisme</strong>. Kalau kemudian mendapatkan jatah mengisi materi yang berbeda, maka biasanya itu karena kepepet. Sekalipun kedua materi itu berbeda dalam substansi, namun perbedaan itu sama sekali tidak berada pada substansi lain yang bernama honor.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_tidak.gif' alt=':ogah:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebelum terlanjur khilaf menulis panjang lebar soal honor, perlu saya tegaskan, bahwa tulisan ini sama sekali bukan masalah honorarium, bukan, sama sekali bukan! Cuma entah kenapa tiba-tiba saya teringat soal <strong>istilah</strong>. Padahal sebelumnya saya sudah mulai asik ngetik tulisan yang berjudul &#8216;Andai Saya jadi Hobnur&#8217; yang kemudian cuma saya simpan sebagai draft dan buka tulisan baru, ya soal istilah ini.<br />
<span id="more-867"></span><br />
Menurut <strong>KBBI</strong>, atau <strong>Kamus Besar Bahasa Indonesia</strong>, istilah itu adalah:</p>
<blockquote class="note">
<ol>
<li>kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu;</li>
<li>sebutan; nama;</li>
<li>kata atau ungkapan khusus.</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Sementara, menurut saya, <strong>istilah</strong> itu adalah, ya&#8230; nurut saja sama KBBI. Apa susahnya sih ngikut yang sudah ada, tinggal pakai, tak perlu pusing. Lagi pula, itu sudah resmi.</p>
<p>Masalahnya adalah&#8230; Saya kadang kala suka mengobrak-abrik istilah resmi, menjadi setengah resmi, atau malah bisa jadi amburadul. Contoh :</p>
<p>Kalau bicara soal <strong>leadership</strong>, saya seringkali bilang, bahwa sebenarnya itu adalah campuran dari bahasa inggris dan indonesia, yakni <strong>leader</strong> dan <strong>sip</strong>. Sehingga &#8216;leadership&#8217; itu berarti sebuah proses dimana seorang leader atau pemimpin dapat menjadi sip atau oke. Itu saja.</p>
<p>Kalau bicara soal <strong>humanisme</strong>, maka secara ngawur kerap saya katakan, kalau itu juga terdiri dari bahasa inggris dan indonesia, yakni <strong>human</strong> dan <strong>manis</strong>. Sehingga, humanisme adalah bagaimana caranya agar seorang human atau manusia itu menjadi manis, tentu saja tidak dalam artian fisik.</p>
<p>***<br />
Pada suatu waktu, seorang kawan bertanya, &#8220;apa itu kemerdekaan, apa itu kebebasan?&#8221;<br />
Saya jawab, &#8220;kebebasan adalah turunan pertama kemerdekaan terhadap aktivitas dan kehidupan sosial&#8221;.  <span style="color: #c0c0c0;">*mungkin habis mabuk gara-gara kalkulus*</span></p>
<p>&#8220;referensimu apa?&#8221;, itu kawan bertanya lagi.<br />
&#8220;kau tanya pendapatku, atau kau tanya pendapat orang lain?&#8221;, saya jawab sambil tanya.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>***<br />
Istilah bisa jadi hanya sekedar sebuah istilah, namun bisa jadi pula jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya sendiri. Istilah, bisa jadi begitu sederhana bisa jadi pula begitu rumit, begitu tinggi. Ada yang memposisikan istilah sebagai ciri sebuah kasta intelektualitas, ada pula yang suka-suka saja, mengalir apa adanya. Istilah bisa begitu lugas, bisa begitu mumet. Bahkan ada yang sampai menjadi tren.</p>
<p>Istilah bisa juga dipakai untuk menggiring opini, bisa dipakai untuk pencitraan, bisa dipakai menutupi sesuatu, pendek kata, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan. Dari era &#8216;salah prosedur&#8217; sampai ke era &#8216;dampak sistemik&#8217; saja sudah banyak istilah yang beredar dari telinga ke telinga. </p>
<p>Tapi yang pasti, mau istilahnya <em>hitam</em>, <em>hirang</em>, <em>black</em>, <em>ireng</em>, <em>hideung</em>, <em>schwarz</em> atau <em>zwart</em>, tetap saja kode warnanya <strong>#000000</strong>.</p>
<p>Lantas, apa maksudnya <strong>Istilah Titik-Titik di bawah Ini</strong> pada judul itu?<br />
Oh, tidak ada maksud apa-apa, sekedar judul, dari pada berjudul isilah titik-titik di bawah ini? nanti malah dikira UN. Hemmm&#8230; punya istilah favorit?<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, pada suatu dini hari<br />
dari isi kepala yang lagi tidak jelas mau apa<br />
istilah tepatnya, bingung &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Batu yang Tak Berputar</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[batu ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[batu cincin]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[martapura]]></category>
		<category><![CDATA[paranormal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Itu dua orang teman saya mendatangi seorang paranormal, orang pintar katanya. Seorang teman bercerita bahwa sewaktu tidur ia bermimpi aneh, ia diberikan oleh seseorang batu dan diminta untuk menjaga. Sesaat setelah bangun tidur, ia menemukan batu di sisi bantalnya, sebagaimana batu yang dilihat dalam mimpinya. Batu itu lantas diserahkan pada si orang pintar atawa paranormal itu. Sang Paranormal memperhatikan batu itu dengan saksama. Lalu ia menjelaskan bahwa batu itu adalah batu sakti, batu ajaib, memiliki pengaruh itu dan ini, serta beruntunglah ia yang dititipi batu itu lewat mimpi yang menjadi nyata. Karenanya ia wajib untuk menjaga batu itu, jangan sampai hilang. Demi mendengar penjelasan sang paranormal, tentu yang lain sakit perut menahan tawa. Kok bisa? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_858" class="wp-caption alignleft" style="width: 135px"><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/batu2.jpg" alt="Produk Batu-Batuan" title="Produk Batu-Batuan" width="125" height="94" class="size-full wp-image-858" /><p class="wp-caption-text">Bukan Punya Saya !!!</p></div>Saya lupa namanya, yang jelas dia senior saya di kampus dulu. Mas &#8230;. saya memanggilnya, walau saya sendiri selalu membiasakan adik kelas untuk tidak sungkan panggil nama saya langsung. Siang itu, beberapa orang duduk-duduk santai di depan himpunan, mengelilingi sebuah meja. Termasuk saya dan si Mas *benar² lupa namanya saya*.</p>
<p>Saya lihat di salah satu jarinya memakai sebuah cincin, batu akik. Saya betul² perhatikan itu cincin sampai akhirnya si mas itu sadar dan bertanya, &#8220;ada apa?&#8221;, begitu tanya si mas, pendek sekali bukan?  Merasa mendapat pertanyaan, saya pun memberi jawaban, &#8220;&#8230; oh, gak apa-apa mas. bisa liat cincinnya gak sebentar&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;oh boleh&#8230;&#8221;, kata si mas sembari melepaskan cincinnya. Ia bertanya lagi ada apa sembari menyerahkan itu cincin pada saya. Kali itu saya tidak memberikan jawaban, hanya menerima cincin itu yang lantas saya perhatikan dengan beragam gaya. Saya angkat keatas itu cincin, supaya jelas terkena matahari, saya turunkan ke bawah supaya terlindung cahaya. Semua dengan ekspresi serius, sangat serius bahkan. Tak lupa sambil manggut-manggut.<br />
<span id="more-856"></span><br />
Akhirnya, saya serahkan kembali itu cincin kepada si empunya sambil berucap, &#8220;bagus mas, bagus, dipakai saja dan jangan sampai hilang&#8221;. Si mas menerima cincinnya lagi sambil tersenyum, senanglah dia. Saya pun senang telah membuat orang senang. Walau sebenarnya saya tak mengerti apa-apa dan ada apa dengan itu cincin. Sebab yang saya tau cuma cincin itu memang bagus, dan memang harus dipakai, serta sudah seharusnya dijaga jangan sampai hilang. Soal muatan magis? ah&#8230; saya kan tak tau soal itu, kalau si mas merasa ada yang gaib gara² cara saya memperhatikan itu cincin, ya saya mohon maaf.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>• Jauh bertahun-tahun sebelumnya, <em>pada kantin sebuah SMA</em></p>
<p>Saya dan seorang kawan tengah duduk-duduk di kantin. Mudah-mudahan waktu itu memang waktunya istirahat, karena kalau tidak, berarti kami sedang bolos. Tak lama kemudian seorang guru muncul. Beliau mengenakan sebuah cincin dengan batu yang cukup besar di jarinya. Saya dan teman lirik-lirikan, sama-sama faham. <em>It&#8217;s show tiiiime </em>&#8230;</p>
<p>Setelah dikasih ijin, itu Bapak Guru melepaskan cincinnya dan menyerahkannya pada kami. Kami telaah dengan seksama dalam tempo yang tidak singkat. Teman saya melihat pada saya, dan saya mengerti maksudnya, untuk saling mendukung.</p>
<p>&#8220;luar biasa Pak&#8230; cincin Bapak ini, batunya, bisa menghilangkan haus&#8221;, katanya. Bapak itu terdiam penasaran dan menyimak. &#8220;Caranya begini Pak&#8230; kalau bapak haus, lepas cincin ini dari jari, ambil air segelas dan masukkan cincin ini ke dalam gelas itu. Lantas minum airnya&#8221;, urai teman saya menjelaskan. Bapak itu bengong dan sebagaimana biasa, saya dan teman tetap pasang tampang serius. Ah&#8230; maafkan kami Pak ya&#8230; Namun yang jelas, sampai sekarang komunikasi saya dengan Bapak itu masih berjalan baik.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_tepuktangan.gif' alt=':tepuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>• Bertahun-tahun lalu, <em>di rumah seorang paranormal</em></p>
<p>Itu dua orang teman saya mendatangi seorang paranormal, orang pintar katanya. Seorang teman bercerita bahwa sewaktu tidur ia bermimpi aneh, ia diberikan oleh seseorang batu dan diminta untuk menjaga. Sesaat setelah bangun tidur, ia menemukan batu di sisi bantalnya, sebagaimana batu yang dilihat dalam mimpinya. Batu itu lantas diserahkan pada si orang pintar atawa paranormal itu.</p>
<p>Sang Paranormal memperhatikan batu itu dengan saksama. Lalu ia menjelaskan bahwa batu itu adalah batu sakti, batu ajaib, memiliki pengaruh itu dan ini, serta beruntunglah ia yang dititipi batu itu lewat mimpi yang menjadi nyata. Karenanya ia wajib untuk menjaga batu itu, jangan sampai hilang. Demi mendengar penjelasan sang paranormal, tentu yang lain sakit perut menahan tawa. Kok bisa?</p>
<p>Soalnya paranormal itu tidak tau kejadian sebenarnya. Batu itu bukannya di dapat dari mimpi, melainkan iseng-iseng diambil sekenanya di pinggir jalan dan iseng² pula ditanyakan pada sang paranormal dengan sedikit improvisasi hikayat penemuannya. Benar² bisa berjudul &#8216;jatuhnya kredibilitas seorang paranormal alias dukun&#8217;.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_ngakak.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="aligncenter" title="liner" src="/file/img/line.gif" alt="liner" width="252" height="9" /></p>
<p><div id="attachment_857" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-857" title="batu mulia kalimantan" src="http://pakacil.com/file/2010/02/batu.jpg" alt="batu mulia kalimantan" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Pusat Batu Mulia Kalimantan</p></div>Pada dasarnya, tulisan ini memang seputar batu namun sama sekali bukan tentang batu yang berputar, namun sebagai salah satu penunaian janji saya atas komentar saya pada <a href="http://ourlovenotes.com/hadiah-itu-aquamarine.html">tulisan mba sovi tentang batu</a>. Karena saat itu saya berjanji untuk menuliskan tentang <strong>pengalaman saya dengan batu</strong>. Lagi pula saya tak memiliki pengetahuan tentang batu-batu mulia. <del>usil terstruktur tengah kambuh</del></p>
<p>Namun, khususnya <strong>Kota Martapura</strong> di Kalimantan Selatan, memang terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan batu mulia di Indonesia. Beragam jenis batu mulia dapat diperoleh di Martapura.</p>
<p>Bahkan konon, kualitas intan yang berasal dari Kalimantan Selatan adalah salah satu yang terbaik di dunia, dan produksinya memang tak berlimpah macam di afrika. Sampai kadang makelar intan dari luar negeri lansung datang ke Banjarbaru atau Martapura untuk mencari intan. Kebetulan salah satu dari mereka juga pernah berkunjung ke rumah untuk sebuah urusan lain, namun setelah saya desak, lelaki dari Belgia itu mengaku ke Kalsel memang khusus untuk mencari intan. *<em>Belgia adalah salah satu pusat penggosokan intan terbaik</em>.</p>
<p>Karenanya, jika kebetulan jalan ke Kalimantan Selatan, tak salah kiranya untuk mengunjungi pusat batu mulia di Martapura. Sudaaaah&#8230; selesai&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang, Kamu Tau itu Apa?</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/yang-kamu-tau-itu-apa</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/yang-kamu-tau-itu-apa#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 02:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[air mata]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[<p>Yang&#8230; kamu tau itu, laut?</p> <p>benar Yang&#8230; lautan itu air, basah. Banyak ikan di sana, terumbu karang yang katanya indah juga ada. Bahkan ada yang bilang, kalau Deni manusia ikan juga tinggal di situ. Sebagaimana laut, sungai, danau, bahkan comberan juga ada airnya, yang&#8230;</p> <p>Sebuah kabar mengatakan, Yang&#8230; kalau air sungai, danau dan lautan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2009/10/marah.jpg" alt="marah" title="marah" width="69" height="100" class="alignleft size-full wp-image-817" />Yang&#8230; kamu tau itu, laut?</p>
<p>benar Yang&#8230; lautan itu air, basah. Banyak ikan di sana, terumbu karang yang katanya indah juga ada. Bahkan ada yang bilang, kalau Deni manusia ikan juga tinggal di situ. Sebagaimana laut, sungai, danau, bahkan comberan juga ada airnya, yang&#8230;</p>
<p>Sebuah kabar mengatakan, Yang&#8230; kalau air sungai, danau dan lautan itu sebenarnya adalah air mata yang terkumpul. Air mata itu menjadi satu, air mata duka lara kecewa itu. Namun, pada saat kian banyak yang menangis, maka air mata itu juga akan kian banyak, Yang&#8230; terus terkumpul dan terus menyatu. Sampai pada suatu saat, ia tak lagi tertahankan. Menjadilah ia banjir yang menerjang ke sana kemari, murka dan mengancurkan.<br />
<span id="more-816"></span><br />
***<br />
Yang&#8230; kamu tau itu, awan?</p>
<p>tepat sekali yang&#8230; awan itu lembut, jauh lebih lembut dari pada kapas yang juga putih. bahkan katanya, kemampuannya menyimpan air melebihi pembalut terhebat sekalipun. Ada desas desus bilang, kalau di balik awan itulah kadang kala Gatot Kaca dan Superman mengadakan konferensi untuk perdamaian dunia, yang&#8230;</p>
<p>tapi Yang&#8230; katanya pula awan itu adalah kumpulan kekecewaan yang menguap. Rasa kecewa yang keluar dari ubun-ubun manusia itu berkumpul sedikit demi sedikit. Pada tingkat tertentu ia akan membentuk awan, nampak indah dan mampu melindungi kita dari panasnya matahari. Tapi Yang&#8230;, kalau kekecewaan itu sudah sedemikian menggumpal, maka ia akan bertumpuk-tumpuk, sehingga membuat awan itu menghitam, gelap dan pekat.</p>
<p>Pada saatnya nanti, ia akan berontak mengeluarkan amarahnya. Kekecewaan itu tidak lagi indah dan menjadi hiasan, Yang&#8230; ia mewujud dalam amarah, ia turut dalam hujan, dalam badai, dalam petir, bahkan dalam gerimis.</p>
<p>***<br />
Yang, kamu tau itu, bukit dan gunung?</p>
<p>Tepat sekali, Yang&#8230; itu semacam tanda kekuatan alam, paku bumi katanya. Ragam tumbuhan dan hewan ada di sana, saling memerlukan satu sama lain. Mereka adalah istana sesungguhnya di bumi ini. Katanya pula, tinggal di situ seorang pemuda yang menjadi raja, bernama Tarzan si Raja Rimba.</p>
<p>Gunung-gunung itu katanya terbentuk dari tekad dan semangat juang manusia. Kobaran semangat yang menjulang itu mengkristal, perlahan-lahan seiring waktu. Kokoh dan siap menghadapi segala mara bahaya. Namun, jika segala kekuatan itu tak diacuhkan, bahkan dilecehkan, maka semangat itu akan mengendor, pecah ia menjadi batu-batuan kecil. Gemeretaknyapun bergemuruh, sangat mengerikan, dan membinasakan.</p>
<p>***<br />
Air, Awan dan Gunung di negeri ini tinggal menunggu waktu saja. Perlahan-lahan kehancuran itu mengejawantah dalam apa yang disebut dengan ketidakpercayaan pada sistem. Demi Dia, yang memiliki segala Cahaya, air mata saya telah kembali tumpah beriringan dengan apa yang akhir-akhir ini terjadi. </p>
<blockquote class="alert"><p>Karenanya, bagi kalian yang telah mempermainkan keadilan dan RASA KEADILAN demi kepuasan perut dan kelamin kalian, saya hanya sanggup menyampaikan satu pertanyaan untuk kalian: KAPANKAH KALIAN AKAN PUAS ???
</p></blockquote>
<p align="right">suatu malam di Banjarbaru, untuk 31 Oktober 2009<br />
disertai harapan agar seluruh institusi hukum terus saling &#8216;berperang&#8217;<br />
agar saling bongkar, saling buka, saling sibak dan saling sikat<br />
asal jangan saling sepakat untuk mengkhianati rakyat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/yang-kamu-tau-itu-apa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Bertanya</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/tempat-bertanya</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/tempat-bertanya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 08:08:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[antri]]></category>
		<category><![CDATA[bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Ada seseorang yang memandang dengan gimana yaa… pokoknya pandangannya begitu deh, yang kira-kira saya tafsirkan begini, “Makanya mas, sudah tau di sini cuma jualan tahu goreng, malah nanya soto sama nasi sop. Tampang imut-imut kok pas nanya gak pada tempatnya…” “eits…. nanti dulu !”, nah yang ini saya yang lagi membantah tafsiran itu. Nanya gak pada tempatnya? Siapa bilang? Itu tempat jualan makanan, makanya saya nanya makanan. Masih bagus saya gak nanya apa ada jual majalah komputer terbaru, atau bertanya bisa tidaknya rental dipidi pelem terbaru di situ. Lagi pula, kalau memang saya bertanya gak pada tempatnya, memangnya di situ ada tulisan ‘tempat bertanya’, sebagai tanda layanan khusus bagi yang mereka ingin bertanya. Gak ada kan? ya? ya? ya? *iyaaaaa… gak adaaaaa…* ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2009/10/antri.jpg" alt="antri" title="antri" width="79" height="100" class="alignleft size-full wp-image-809" />Orang-orang itu berjejer di kursi yang tersedia di pinggir meja. Serius sekali mereka menunggu pesanan makanan itu selesai dibikin. Datanglah saya, berjalan kaki. Tentu setelah sebelumnya memarkirkan kendaraan sebagaimana mestinya dan sebagaimana biasa, semua roda tetap di bawah, bukan ke atas.</p>
<p>Bapak-bapak dan ibu-ibu ada di sana. Juga ada seorang perempuan yang nampak masih muda, saya taksir usianya masih belum genap 30 tahun, berjilbab, manis pula, juga ada di situ bersama seorang anak kecil. &#8220;Pasti ponakannya&#8221;, kata saya, pelan, sangat pelan sekali sampai tak terdengar. Karena ucapan itu ada di dalam hati.</p>
<p>Perlahan, saya mendekat. Tahukah kawan, kemana saya mendekat? saya itu berjalan ke sebuah warung makan. Kecil saja warungnya, murah harganya, enak rasanya.<br />
<span id="more-808"></span><br />
&#8220;Sotonya ada?&#8221;, saya bertanya.<br />
&#8220;&#8230;&#8230;&#8221;, lelaki pemilik merangkap pelayan itu tak menjawab. Mungkin tak mendengar.<br />
tapi orang-orang yang duduk itu sontak memandang ke arah saya. Heran saja saya dibuatnya. Atau justru mereka yang saya buat heran? entahlah&#8230; </p>
<p>&#8220;Mas, sotonya ada?&#8221;, ini saya lagi yang bertanya pada si mas penjual itu.<br />
&#8220;oh, gak ada mas..&#8221;, eh&#8230; lelaki itu menjawab akhirnya. Sudah dengar rupanya.<br />
Orang-orang itu kian memandang saya, memangnya saya sebangsa makhluk apaaaa pikir mereka. Heran saya. Orang bertanya kan wajar saja.</p>
<p>&#8220;ooo&#8230; mmm, kalau begitu, nasi sop? ada nasi sop?&#8221;, lagi-lagi saya bertanya.<br />
&#8220;sama mas, juga gak ada..&#8221;, lelaki yang asyik masak itu lagi menjawab.<br />
Lagi-lagi ada ibu yang menatap saya aneh. Bapak-bapak juga ada yang begitu. Tapi tidak perempuan yang terlihat muda dan bersama anak kecil itu, ia tersenyum. Amboiii.. ia tersenyum.</p>
<p>Karena Soto Banjar dan Nasi Sop tiada, akhirnya saya bilang, &#8220;ooo&#8230; jadi, yang ada cuma tahu goreng ya? ya sudah, kalau begitu tahu gorengnya dibungkus, satu, pakai telur ya &#8230;&#8221;, demikian  saya memberikan kalimat penutup.</p>
<p>Ahai&#8230; perempuan muda itu tersenyum lagi, beberapa orang juga ikut tersenyum, masih di tempat itu, warung <a target="_blank" title="Tahu Goreng Sekumpul yang memang khusus jualan tahu goreng" href="http://pakacil.com/cerita-sekitar/2009/tahu-goreng-sekumpul-itu-panas-lagi/">Tahu Goreng Sekumpul</a> yang pernah saya ceritakan tempo hari itu, yang memang cuma jualan tahu goreng, tiada yang lain.</p>
<p>Ada seseorang yang memandang dengan gimana yaa&#8230; pokoknya pandangannya begitu deh, yang kira-kira saya tafsirkan begini, &#8220;Makanya mas, sudah tau di sini cuma jualan tahu goreng, malah nanya soto sama nasi sop. Tampang imut-imut kok pas nanya gak pada tempatnya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;eits&#8230;. nanti dulu !&#8221;, nah yang ini saya yang lagi membantah tafsiran itu. Nanya gak pada tempatnya? Siapa bilang? Itu tempat jualan makanan, makanya saya nanya makanan. Masih bagus saya gak nanya apa ada jual majalah komputer terbaru, atau bertanya bisa tidaknya rental dipidi pelem terbaru di situ. Lagi pula, kalau memang saya bertanya gak pada tempatnya, memangnya di situ ada tulisan &#8216;tempat bertanya&#8217;, sebagai tanda layanan khusus bagi yang mereka ingin bertanya pada tempatnya? Gak ada kan? ya? ya? ya?  *iyaaaaa&#8230; gak adaaaaa&#8230;*</p>
<p>Hal yang tidak mungkin adalah, kalau tiada angin tiada hujan tiba-tiba saya pidato:<br />
&#8220;makanya, kalau lagi nunggu antrian itu, apa salahnya sih kalau santai saja, kalau perlu ngobrol dengan mereka yang ada disampingmu. minimal kasih senyum, biar dunia ini kian indah&#8221;.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_alis.gif" alt="ting...ting.." title="ting...ting.." width="32" height="32" class="alignnone size-full wp-image-387" /></p>
<p align="right">suatu sore yang cerah di Banjarbaru<br />
beberapa hari lalu sebelum karantina<br />
yang memang niatnya saya memang pingin makan tahu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/tempat-bertanya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Profesi Terlarang Versi Kakek</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/3-profesi-terlarang-versi-kakek</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/3-profesi-terlarang-versi-kakek#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 18:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[kakek]]></category>
		<category><![CDATA[profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[Tiga profesi tersebut nampaknya dilarang keras olah kakek untuk menjadi pekerjaan dan ladang penghidupan bagi anak cucunya. Benar saja, anak cucu kakek kini umumnya menjalani 2 profesi yakni menjadi tenaga pendidik dan kesehatan. Ibarat data, saya mungkin adalah pencilan, yang tak berada di dunia pendidikan dan kesehatan itu. Tapi saya jelas selalu hormat pada pendidik yang memiliki dedikasi, serta tak mungkin menjadi petugas kesehatan, mengingat betapa mudah ‘tersentuhnya’ hati dan lutut saya oleh darah dan alkes. Jelas, seluruh anak cucu kakek sampai saat ini secara langsung atau tidak, telah menuruti pesan beliau tersebut, untuk tak menjadi polisi, jaksa atau hakim. Jika saja waktu kakek masih hidup KPK itu sudah berdiri, saya tidak bisa dan tak berani menebak-nebak, apakah berkarir di KPK juga termasuk profesi terlarang menurut kakek. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-801" title="gendong bayi" src="http://pakacil.com/file/2009/10/gendong_bayi.jpg" alt="gendong bayi" width="52" height="85" />Satu dua hari ini saya mencoba mengingat, apakah sewaktu kecil memiliki sebuah cita-cita layaknya anak kecil lainnya. Konon menurut banyak kisah melalui tipi dan lain sebagainya, anak-anak itu kalau ditanya, &#8220;apa cita-citanya?&#8221;, maka akan jawab mau jadi dokter, jadi pilot, jadi tentara atau lain sebagainya. Saya? entahlah, sampai saat ini saya masih belum menemukan rekam sejarah tersebut, baik melalui orang tua atau sodara lainnya.</p>
<p>Setengah mati saya coba mengingat, mencari tau apa pernah mengucapkan mau jadi apa kalau sudah besar, tetap saja saya tak mampu membalik  buku sejarah hidup masa kecil itu. Gelap&#8230; Apa yang muncul hanyalah sejumlah snippet yang tak memiliki korelasi dengan pertanyaan pribadi saya. Namun, konon kakek pernah berpesan tentang profesi anak cucunya.<br />
<span id="more-800"></span><br />
Momen terkait cita-cita yang saya ingat betul hanyalah sewaktu lebih kurang kelas 3 SMA. Waktu itu saya sudah menancapkan niat dengan gagah perwira, bahwa saya tidak akan pernah menjadi pegawai negeri sipil atau karyawan apapun. Saya maunya berwirausaha saja.</p>
<blockquote class="note"><p>Berbekal niat tersebut, akhirnya sampai dengan saat ini, hanya sebagai contoh, saya sama sekali tak pernah gagal tes PNS atau seleksi penerimaan karyawan di perusahaan manapun. Benar-benar tak pernah gagal. Rahasia tak pernah gagal seleksi penerimaan pegawai ini hanya satu: yakni jangan ikut tes !!!</p></blockquote>
<p><img alt="" src="http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_siul.gif" class="alignleft" width="22" height="18" />Lagi pula, ada perbedaan besar antara tak pernah gagal dan selalu berhasil. Saya berada pada maqam tak pernah gagal itu. Soal keberhasilan? mana saya tau, namanya juga tak pernah ikut kok&#8230;</p>
<p>Waktu berjalan, perlahan saya mengawali usaha sendiri, dan mungkin nanti suatu waktu akan ada cerita soal hal ini, sekarang kembali ke cita-cita dan pesan kakek saja dulu.</p>
<p><span class="kutip">&#8220;&#8230; jadi polisi, jaksa dan hakim &#8230;&#8221;</span>Konon, pada suatu waktu Kakek pernah berpesan untuk anak cucunya. Pesan kakek tersebut saya dengar dari Mama saya (-demikian saya dan urang banjar umumnya, biasa memanggil ibu dengan sebutan Mama-), bahwa Kakek, ibunya Mama saya pernah berpesan agar anak cucu dan keturunannya jangan ada yang menjadi polisi, jaksa dan hakim.</p>
<p>Tiga profesi tersebut nampaknya dilarang keras olah kakek untuk menjadi pekerjaan dan ladang penghidupan bagi anak cucunya. Benar saja, anak cucu kakek kini umumnya menjalani 2 profesi yakni menjadi tenaga pendidik dan kesehatan. Ibarat data, saya mungkin adalah pencilan, yang tak berada di dunia pendidikan dan kesehatan itu. Tapi saya jelas selalu hormat pada pendidik yang memiliki dedikasi, serta tak mungkin menjadi petugas kesehatan, mengingat betapa mudah &#8216;tersentuhnya&#8217; hati dan lutut saya oleh darah dan alkes.</p>
<p><img alt="" src="http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif" class="alignleft" width="15" height="15" />Seluruh anak cucu kakek sampai saat ini secara langsung atau tidak, telah menuruti pesan tersebut. Jika kakek masih hidup KPK itu sudah berdiri, saya tidak bisa menebak, apakah berkarir di KPK juga termasuk profesi terlarang menurut kakek.</p>
<p>Atau, apakah ada yang bisa ikut menebak-nebak isi kepala kakek? kenapa gerangan sampai beliau melarang kami, anak cucunya ini untuk menjadi polisi, jaksa atau hakim?<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-405" title="pakacil mikir" src="http://pakacil.com/file/emo_mikir.gif" alt="pakacil mikir" width="32" height="32" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/3-profesi-terlarang-versi-kakek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jerit Guru Sekolah Berlabel Agama</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/jerit-guru-sekolah-berlabel-agama</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/jerit-guru-sekolah-berlabel-agama#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 21:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[kuping]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sistem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah lembaga pendidikan berlabel agama tidaklah dengan serta merta berarti suci dan bersih. Pihak-pihak yang terkaitpun seyogyanya tidak memiliki rasa sungkan untuk mengusut apa yang sebenarnya terjadi. Tak sebagaimana pertanyaan iseng yang saya ajukan pada salah seorang jaksa di Kalimantan Selatan ini tahun lalu, “Pak, misalnya saja di pondok pesantren anu ada indikasi korupsi, berani ngusut gak?”. Pak Jaksa tersebut tersenyum, dan berkata, “susah mas…”. Hmmm… entah takut kualat atau apa, saya juga pura-pura tak mengerti kompleksitas permasalahan yang mungkin timbul. Lagi pula, hal yang paling penting adalah kapasitas saya yang mungkin hanya sekedar diminta menyediakan kuping untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Sebagaimana saya juga menyediakan kuping yang sama untuk orang-orang yang berbeda yang selama ini datang atau saya datangi. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2009/10/mengajar.jpg" alt="mengajar" title="mengajar" width="61" height="85" class="alignleft size-full wp-image-787" />&#8220;Saya berharap, bapak ibu tidak merealisasikan rencana aksi atau demo tadi, setidaknya dalam waktu dekat. Kita usahakan langkah lain. Aksi massa adalah langkah terakhir&#8230;&#8221;.<br />
Setidaknya itulah sebagian kalimat penutup yang saya sampaikan beberapa malam lalu, saat diminta menyediakan kuping mendengarkan keluh kesah plus kegeraman sejumlah guru atas kondisi yang ada pada sebuah yayasan yang menyelenggarakan pendidikan berlabel agama di Kalimantan Selatan ini.</p>
<p>Malam itu dingin, perjalanan yang saya tempuh untuk menemui merekapun sangat dingin. Namun seketika berubah terasa gerah. Karena mendengar apa disampaikan itulah membuat saya merasa gerah. Belum lagi saat mendengar keterangan dari sebuah jaringan media, &#8220;Informasi ini hampir mustahil akan naik cetak mengingat kedekatan pimpinan dengan ketua Yayasan tersebut&#8221;. Hah&#8230; namun ini memang hal yang sudah lumrah.<br />
<span id="more-786"></span><br />
Masalah pertama, para guru tersebut tidak memiliki kontrak kerja atau sejenisnya. Sungguh, saya terdiam saat pada guru tersebut menjelaskan memang tak memiliki kontrak atau kesepatakan kerja tertulis sama sekali. Semua pengangkatan dan pemberhentian mungkin hanya didasarkan pada (-<em>kalau istilah saya</em>-)  SK alias Selera Komendan a.k.a Selera Ketua Yayasan. Setidaknya itulah yang saya fahami dari apa yang mereka sampaikan.</p>
<p>Amat sangat banyak turunan permasalahan yang dapat terjadi, hanya karena satu faktor tersebut. Tidak, tidak mungkin untuk mambabi buta mendorong mereka melakukan aksi.</p>
<p>Bagaimana dengan komite sekolah?&#8221;, demikian salah satu pertanyaan saya. Sebagian dari mereka terdiam, sebagian lagi tersenyum sinis, dan ada yang tertawa. Saya yakin yang tertawa ini adalah mereka yang dapat mengatasi masalah dengan <em>cool</em>&#8230; Bukan karena menghadapi beragam reaksi yang membuat saya kaget, tapi justru atas karena jawaban yang diberikan, yakni tidak ada itu yang namanya komite sekolah. Kalaupun ada, tak bakalan dipakai oleh Pak Ketua. <em>Jederrrr</em>&#8230;.</p>
<p>Serasa kian lengkap saja keajaiban pada sekolah yang menyandang label agama tersebut, di samping banyaknya keajaiban lain semisal :</p>
<ul>
<li> Para guru janganlah bicara soal pendapatan, soal tunjangan dan sejenisnya, sebab ini adalah sekolah berlabel agama. Mendidik itu harus ikhlas, berkorban demi agama. Kalau tak mau bekerja dengan gaji di bawah KHM (Kebutuhan Hidup Minimal) itu, silakan berhenti dan keluar.</li>
<li> Para guru jangan coba-coba cuek atau tak senyum saat berpapasan dengan isteri pak ketua yayasan, sekalipun guru baru yang belum kenal sang ibu. Sebab itu berarti masalah besar.</li>
<li>Para guru dan karyawan lainnya, jangan sekali-kali bermasalah dengan putera atau puteri ketua yayasan, sekalipun mereka amat sangat tak sopan. Sebab dengan tegas mereka katakan bahwa mereka bisa dengan mudah memberhentikan seseorang, karena mereka anak pemilik yayasan.</li>
<li>Jangan pernah bertanya atau utak-atik permasalahan pengelolaan keuangan, sebab itu wilayah khusus keluarga pemilik yayasan. Orang lain tak perlu tau, cukup berprasangka baik saja, sebab prasangka buruk itu dilarang. Kalaupun tau persoalan terkait bantuan yang diterima dan bagaimana realisasi yang sebenarnya, tak perlu diungkit-ungkit, tidak baik.</li>
<li>dll..</li>
</ul>
<p>Namun, saya kurang begitu tertarik dengan persoalan yang cenderung kasuistis macam itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kok ya saya juga percaya, hal besar selalu muncul dalam gambaran-gambaran kecilnya. Ada persoalan sistem yang sangat serius.</p>
<blockquote><p>Perlu pula digarisbawahi, bahwa saya sangat percaya bahwa agama dan pemeluknya akan dijembatani oleh interpretasi. Tulisan ini <strong>sama sekali tidak</strong> bicara tentang agama, melainkan tentang sebuah sistem yang kebetulan menempelkan label agama pada dirinya.
</p></blockquote>
<p>Terbuka dooong&#8230; sebutkan identitas yayasan dan sekolahnya sekalian&#8230;<br />
Tidak, tidak perlu, karena siapa tau diantara banyak yayasan yang mengelola pendidikan berlabel agama di Kalimantan Selatan ini ada yang baca, dan cukuplah mereka melakukan introspeksi, sebagaimana saya juga perlu untuk melakukannya. Lagi pula, untuk hal macam ini saya lebih tertarik pada persoalan sistem, bukan pada kasus. Pendekatan yang digunakan pun haruslah pendekatan sistem. </p>
<p>Sebuah lembaga pendidikan berlabel agama tidaklah dengan serta merta berarti suci dan bersih. Pihak-pihak yang terkaitpun seyogyanya tidak memiliki rasa sungkan untuk mengusut apa yang sebenarnya terjadi. Tak sebagaimana pertanyaan iseng yang saya ajukan pada salah seorang jaksa di Kalimantan Selatan ini tahun lalu, &#8220;Pak, misalnya saja di pondok pesantren anu ada indikasi korupsi, berani ngusut gak?&#8221;. Pak Jaksa tersebut tersenyum, dan berkata, &#8220;susah mas&#8230;&#8221;. Hmmm&#8230; entah takut kualat atau apa, saya juga pura-pura tak mengerti kompleksitas permasalahan yang mungkin timbul.</p>
<p>Lagi pula, hal yang paling penting adalah kapasitas saya yang mungkin hanya sekedar diminta menyediakan kuping untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Sebagaimana saya juga menyediakan kuping yang sama untuk orang-orang yang berbeda yang selama ini datang atau saya datangi.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_setuju.gif' alt=':ok:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/jerit-guru-sekolah-berlabel-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak&#8230; Jangan Main Pepet Dong&#8230;</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/mbak-jangan-main-pepet-dong</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/mbak-jangan-main-pepet-dong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 18:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[genit]]></category>
		<category><![CDATA[lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian ketat]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sudut lainnya, dalam remangnya cahaya, terlihat 3 sosok wanita dengan pakaian ketat nampak asyik bersenda gurau sesama mereka. Seorang ibu penjual jajanan tengah malam ada pula di antara mereka. Tingkah mereka sepertinya terlihat cukup genit. Sesekali terlihat mereka tertawa kecil, nampak bahagia. Salah seorang dari dua laki-laki yang tersisa, sebut saja namanya Pria (lagi-lagi bukan nama sebenarnya), rupanya memiliki insiatif di tengah malam itu. Sebuah sapaan dilontarkannya pada 3 wanita itu, sembari melontarkan ajakan, "mari mbak, ngumpul sama kita di sini, biar rame...". Tak dinyana, tawaran tersebut disambut dengan ramah dan dengan senyum pula. Memang, senyum dan keramahan tidak ada kaitannya dengan pakaian ketat dan tingkah genit. Mereka berdiri dan bergerak mendekat. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2009/10/dipepet.jpg" alt="dipepet" title="dipepet" width="84" height="85" class="alignleft size-full wp-image-783" />Waktu menunjukkan lebih kurang pukul 3 dini hari. Sekelompok orang yang terdiri dari 3 orang lelaki dan 2 orang perempuan berada pada sebuah sudut bangunan. Bersandar pada dinding sekenanya, beralaskan kayu yang sebelumnya entah digunakan untuk apa. Udara di tepi laut waktu itu memang tak seberapa dingin, mungkin karena angin laut memang berbeda dengan angin gunung. </p>
<p>Sementara, sejurus mata memandang, yang terlihat hanyalah deretan kapal barang dan juga ada sebuah kapal dari angkatan laut yang katanya negara sahabat. Aktivitas di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, memang masih berjalan, namun tentu saja tak seintens siang hari. 3 lelaki dan 2 perempuan itu tengah menanti sebuah kapal penumpang yang akan berangkat pada pagi harinya, saat matahari sudah jelas terlihat.<br />
<span id="more-782"></span><br />
Salah seorang pemuda, sebut saja namanya Pemuda (<em>memang bukan nama sebenarnya</em>), mungkin tak betah menunggu merapatnya kapal, sehingga ia menghabiskan waktu dengan berjalan ke sana sini, meninggalkan 2 orang lelaki lainnya bersama 2 pemudi, di pojokan bangunan yang berfungsi sebagai terminal barang.</p>
<p>Keempat orang yang tersisa, menghabiskan waktu dengan saling tukar cerita. Beragam topik meluncur dan saling timpal menimpali satu dan lainnya. Dini hari menjadi kian hangat.</p>
<p><img src="http://pakacil.com/file/emo_genit.gif" alt="emo_genit" title="emo_genit" width="32" height="32" class="alignleft size-full wp-image-392" />Pada suatu sudut lainnya, dalam remangnya cahaya, terlihat 3 sosok wanita dengan pakaian ketat nampak asyik bersenda gurau sesama mereka. Seorang ibu penjual jajanan tengah malam ada pula di antara mereka. Tingkah mereka sepertinya terlihat cukup genit. Sesekali terlihat mereka tertawa kecil, nampak bahagia.</p>
<p>Salah seorang dari dua laki-laki yang tersisa, sebut saja namanya Pria (<em>lagi-lagi bukan nama sebenarnya</em>), rupanya memiliki insiatif di tengah malam itu. Sebuah sapaan dilontarkannya pada 3 wanita itu, sembari melontarkan ajakan, &#8220;mari mba&#8230; ngumpul sama kita di sini, biar rame&#8230;&#8221;.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_hehe.gif" alt="emo_hehe" title="emo_hehe" width="49" height="32" class="alignright size-full wp-image-393" /><br />
Tak dinyana, tawaran tersebut disambut dengan ramah dan dengan senyum pula. Memang, senyum dan keramahan tidak ada kaitannya dengan pakaian ketat dan tingkah genit. Mereka berdiri dan bergerak mendekat.</p>
<p>Reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh 2 orang perempuan yang menjadi rekan seperjalanan. Air muka mereka berubah masam dan menunjukkan ketidaksukaan. Mereka berdua berdiri dan berpindah mencari tempat lain untuk menghabiskan waktu.</p>
<p>Pria dan seorang lelaki terakhir, (untuk lebih mudahnya, sebut saja nama lelaki terakhir sebagai Lelaki &#8211; <em>masih tetap bukan nama sebenarnya</em>), tetap di tempat, sebab 3 orang wanita berpakaian ketat dan terlihat genit telah menghampiri.</p>
<p>Pria nampak menyambut dengan ramah dan mulai bergurau, sementara Lelaki tak bisa mengucapkan sepatah katapun, hanya senyum yang terlihat di sudut bibirnya. Pemuda? entah kemana ia berjalan-jalan. Seorang wanita mengambil posisi disamping Pria, seorang lagi di samping lelaki dan seorang lagi di depan. Di belakang mereka adalah dinding.</p>
<p>Pria terus asyik berbicara dan tertawa-tawa, dan Lelaki masih tak bisa banyak bicara di antara para wanita berpakaian ketat dan genit itu. Apalagi saat para wanita itu perlahan-lahan menggeser tubuh, kian merapat dan kian dempet saja dengan Pria dan Lelaki. Pria tetap pada posisinya, entah menikmati atau apa. Sementara Lelaki lebih memilih untuk bergeser posisi pula, menghindari dempetan.</p>
<p>Geser dan dempet terus berlangsung, sampai Pria dan Lelaki, yang tadinya duduk berjarak lebih dari 1 meter, sudah tak bisa bergeser lagi, mereka kini justru tergencet di antara 3 orang wanita berpakaian ketat dan kadang bertingkah genit. Entah kenapa, Pria masih saja terus tertawa, namun tidak Lelaki.</p>
<p>Lelaki seakan merasa udara waktu itu kian pengap saja. Lelaki itu pasrah, sekalipun keringat dan rasa bingung menghampiri. Terdengar jelas pembicaraan antara mereka. Tentang operasi dagu, biar tampak lebih menarik. Tentang operasi dada, biar lebih gimanaaaa, dan tak lupa tentang operasi kelamin yang telah mereka lakukan.</p>
<p>Terlontar pula kisah tentang pekerjaan mereka, juga tentang hubungannya dengan para lelaki yang selalu kandas. Sesekali terlontar tawaran dari seorang yang terlihat paling genit, tentang mau tidaknya Pria dan Lelaki menjadi menjalin hubungan dengan mereka. Pria masih saja bisa tertawa, kadang sambil memegang dagu seseorang dari 3 wanita itu sambil bertanya, &#8220;habis berapa duit buat operasi dagu?&#8221;.</p>
<p>Lelaki masih tak bisa bicara, ia terdiam. Pikirannya hanyalah bagaimana cara melepaskan diri dari dempetan wanita berpakaian ketat dan genit itu sesegera mungkin. Lelaki itu juga besumpah, bahwa ini merupakan kali pertama dan terakhir ia dipepet begitu rupa.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_nangis.gif' alt=':cry:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Bertahun-tahun kemudian setelah malam itu &#8230;</strong></p>
<p>Lelaki, yang tak bisa banyak bicara itu, yang keringatan kikuk di malam itu, duduk di ruang kerja pribadinya, menuliskan kembali sebuah kejadian yang terjadi bertahun lalu saat ia masih menjadi mahasiswa, melalui blog pribadinya, <a href="http://pakacil.com">www.pakacil.com</a>.</p>
<p>Ia tetap teringat dan tetap memegang sumpahnya, bahwa itu adalah kali pertama dan terakhir ia dipepet waria dalam seumur hidup. Takkan pernah terulang lagi. Kapok sekapok-kapoknya.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_sedih.gif" alt="sedih" title="sedih" width="32" height="32" class="alignnone size-full wp-image-412" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2009/mbak-jangan-main-pepet-dong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
