1976, Mak Haji, demikian biasa beliau dikenal, memulai usaha tahu goreng ini. Berawal dari sebuah bangunan sederhana di sebidang tanah kontrakan. Perlahan namun pasti, usaha tersebut berkembang pesat sehingga harus berpindah menjadi permanen. Tahu Goreng Sekumpul, demikian namanya. Saya sendiri baru mengenal kuliner ini baru periode 80-an, *telat banget ya…*.

in action
Sejalan waktu, Tahu Goreng Sekumpul memiliki banyak pelanggan, tak kurang dari sejumlah artis ibu kota menjadi pelanggan tahu goreng ini waktu itu. Namun, roda kehidupan berputar, demikian kata para bijak. Sampai pada suatu waktu, usaha yang begitu jaya ini harus terhenti entah karena apa. Saya sendiri tak menanyakannya. Saya yakin, banyak pelanggan yang merasa kehilangan. Termasuk saya, yang setiap melewati ruas jalan di Sekumpul, selalu terkenang bahwa dulu di situ dulu terdapat tempat makan yang tedap bin makyus. Tahu goreng nikmat itu sudah tak ada.

Sebuah Tenda di Medio 2009 …
Sebuah tenda berwarna biru berukuran lebih kurang 3m x 3m berdiri di depan deretan ruko, di Jalan Panglima Batur Banjarbaru, tak jauh dari Masjid Kanzul Khairat. Terpampang jelas sebuah standing banner serta banner lain pada tenda itu, yang bertuliskan Tahu Goreng Sekumpul. Jangan tanyakan, kenapa tendanya berwarna biru, apa karena penggemar lagu tenda birunya Dessy Ratnasari atau karena hal lain, toh itu tak penting dan tak berhubungan, sebab ini soal tahu gorengnya, bukan soal tendanya !
Pertama kali melihat tenda tersebut, saya merasa skeptis atawa kurang percaya. Jangan-jangan ini hanya sekedar mencatut kebesaran nama tahu goreng sekumpul saja. Business as usual… Sehingga cukup lama saya sekedar wira-wiri saja di depannya. Namun, lagi-lagi prasangka itu tak baik, harus dibuktikan !!! Tidak ada cara lain untuk membuktikannya, kecuali mampir dan beli.
“kenapa gak dari kemarin-kemarin”Akhirnya saya mampir dan beli, tak banyak, 1 porsi saja. Namanya juga nyoba dan membuktikan. Percobaan itu membuat saya menyesal. Penyesalan itu maksudnya, kenapa gak beli waktu dari mereka buka saja, karena memang ueeenaaaak….. Lidah saya bernostalgia dan menemukan kembali menu yang telah lama hilang. Lidah saya kembali bercumbu dengan tahu goreng sekumpul itu, namun kali ini di Banjarbaru, tak di sekumpul lagi.
Tahu Goreng Sekumpul itu, terdiri dari tahu, lontong, ada kecambah, dll. yang kemudian diberi bumbu khusus. Kelembutan tahunya itu sungguh berbeda, tedaaaap. Tapi jangan tanya saya bumbunya apa, lha… saya kan ndak bisa masak, taunya cuma menikmati. Mungkin untuk mudah membayangkan potongannya adalah macam Kupat Tahu kalau di Jawa. Tapi ini rasanya khas. Saya paling suka menikmatinya sambil ditambah dengan sebutir telur itik asin, lagi pula tak pernah ada telur asin dari telur ayam ‘kan?

Tahu Goreng Sekumpul yang pernah hilang itu telah kembali
Untuk menikmati 1 porsi standar Tahu Goreng Sekumpul ini, tak mahal, hanya Rp 5000,- atau lima ton, kata bahasa gaul anak Banjarbaru. Sangat murah jika dibandingkan dengan rasa yang dinikmati. Apalagi bagi mereka yang dulu menjadi pelanggannya, tentu romantisme ini luar biasa.
Membangun Kembali Kejayaan Tahu Goreng Sekumpul

membangkitkan kejayaan
Karena itulah, sewaktu ada yang bilang, bahwa memang mudah bagi mereka untuk jualan, karena didukung oleh nama besar tahu sekumpul. Tapi saya justru berpendapat lain, berbeda. *hobi beda kali ya…* Bahwa meneruskan kembali sejarah itu adalah suatu langkah besar dan memerlukan keberanian. Ada tanggung jawab moral yang berat. Untuk ‘buka pintu’ usaha mungkin iya, benar adanya ia akan mudah. Tapi, bukankah mempertahankan dan meningkatkan itu selalu lebih sulit dari pada memulai? Untuk hal ini, saya yakin jika mereka akan berhasil. Tentu saja tak pernah ada cerita sukses tanpa keberanian.
“kami mulai dari awal lagi…”Berawal dari sebuah tenda berukuran 3m x 3m itu, optimisme kembali dirajut bahwa masa depan akan terus dikejar. “Nenek juga mengawali dari awal. Kami pun harus memulai dari awal lagi membangun usaha ini”, demikian ungkap mereka pada suatu sore pada saya. Sebuah sikap yang patut diacungi jempol, karena bagi saya penghargaan terhadap proses kini mulai berkurang di tengah merebaknya budaya instan, yang mau serba cepat. “Bahkan, seluruh perangkat yang digunakan ini awalnya dari pinjaman dan perlahan-lahan mulai tunai dikembalikan”, demikian mereka menambahkan.
Tenda biru kecil itu, yang berada di bilangan Jalan Panglima Batur, di depan deretan ruko yang berdekatan dengan Masjid Kanzul Khairat itu, kian ramai saja. Kini, perhari mereka sudah hampir menghabiskan 1000 potong tahu untuk pelanggan. Luar biasa. Bahkan ada pelanggan yang khusus datang rutin dari Banjarmasin dan daerah lain, hanya untuk menikmati Tahu Goreng Sekumpul seharga 5000 rupiah ini.
Perlahan namun pasti, tenda kecil tersebut terus menggeliat. Sukses !!!
![]()
Info khusus :
• Lihat Peta Lokasi Tahu Goreng Sekumpul, Panglima Batur Banjarbaru
• Kontak : 0511-7466908 (Hendra)
• Buka mulai Pukul 16.30 WITA – habis …
Cerita Sekitar di www.pakacil.com akan terus menyajikan cerita tentang usaha-usaha kecil dan riil, yang dilakukan dengan dasar penghargaan pada proses dan sikap positif. Jika tulisan ini dianggap promo, maka tidak ada biaya serupiahpun yang pakacil.com dapatkan. Harapan saya, usaha Anda berhasil dan mampu membangkitkan motivasi orang lain untuk juga berusaha semaksimal mungkin dengan semangat positif pula.















Tambahan informasi:
bahwa harga 5000 itu adalah porsi standar yang belum termasuk telur. maafkan saya ya… ya… ya…
Tahu tahu …
… jadi tertarik kalau Pakacil udah cerita tentang makanan, padahal sekali-kali lewat di jalan itu dan melihat tenda biru itu … entah mengapa lewat saja, nah baca postingan ini jadi ingin mencoba juga.
Benar, usaha apa saja (warisan atau baru mulai) akan mempunyai tantangannya sendiri dan harus berani beranjak dari awal.
.-= • HE. Benyamine nulis ini lho… CERITA ANAK (2) : AYUV BISA MEMBACA! =-.
Rasanya kaya’ pa mas. Jd penasaran nich
wah, baru kemarin makan kupat tahu,
lalu mampir disini ada artikel ttg tahu sekumpul,
sudah terbayangkan lezatnya………nyam….nyam……..
salam.
wah kalo ini namanya tahu campur
ajib…
ini namanya baru makanan lezat nan nikmat
telah dengan sukses menelan ludah, eh ini kok mirip2 sama ketoprak ?
ini bukan ketoprak pa….
coba rasain,,,,!
bumbunya sangat sangat beda dari ketoprak
rasanya emang beda apalagi tahunya,,,,,
emmmmmmmm,,,,di jamin ketagihan
Waduw, waktu comment aja bisa ikutan Ngiileeer
ckckck …
Salam
Mudah-mudah masih diberi kesempatan untuk merasakannya, sekedar untuk bernostalgia. jadi nggak sabar mau ke bjb
Okey juga neh… Sebuah niat yang tulus hehehe. Kapan2 mampir buat iklan
gratishehehega nyadar, tiba2 slurp-slurp di dalem hati…
kek nay PPICC nya sedap benar da tuh
kalau di semarang ada yang namanya tahu gimbal pak, tahu, kupat, campur gimbal udang
wah ngiler saya, ntar lah kalo ke sana harus singgah di tempat itu
eh itu bumbunya ndak mirip petis kan?
nyaman lah pakacil?… urang kita ni katuju makan tahu jualeh sakalinya? hehehe
tetep kalo makan organik begini, sangat menggoda untuk dicicipi…
.-= • suryaden nulis ini lho… Jogloabang, Microsoft pada ASEM Workshop on ICT Indonesia =-.