Podium

Setelah mencari letak file-nya, ternyata ketemu juga. Namun ternyata file yang tersisa cuma dalam bentuk PDF, masternya aku sudah tidak tau ada dimana, karena memang beberapa kali berganti HDD. Entah tercecer entah terhapus. Kemungkinan memang terhapus.

Berikut adalah salah satu cerpen yang kutulis saat masih berada di Malang, yang Kota Bunga itu. Tertanggal 13 Januari 2001, dan diselesaikan sekitar pukul 00.35 wib. Berjudul Podium.


Podium

"Saudara-saudara sekalian, saya telah katakan dan serukan di depan , bahwa perjuangan ini belum berakhir, dan tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini, kecuali keajaiban Tuhan yang menghentikannya. Saya tidak akan berbicara tentang mimpi-mimpi dan saya tidak akan memberitakan segarnya air pegunungan, yang saya katakan adalah bahwa kita sedang ditindas, dijajah dan diperkosa oleh bangsa sendiri. Saudara-saudara akan menyaksikan sendiri bahkan mungkin telah menyaksikan dan mendengar apa yang telah mereka lakukan kepada bangsa ini, kepada mereka yang telah membesarkan dirinya. Tuhan telah memberikan waktu yang banyak dan berharga, namun itu semua telah disia-siakan begitu saja. Waktu itu telah digunakan untuk melupakan kita, melupakan rakyat yang telah berjuang untuk dia, dan saya serukan di sini, bahwa dalam waktu jualah mereka akan berakhir, akan berakhir", dia lantas melangkah turun menuju kerumunan massa yang mengelu-elukannya sedemikian hebat.

Sorak-sorai pendukung aksi pagi itu mengiringi langkah Sang Kopral, begitu ia biasa disapa. Entah mengapa ia senang sebutan itu, hanya jawaban ringan yang diperoleh saat wartawan menanyakan asal-usul nama yang nyentrik untuk ukuran demonstran besar seperti dia, " walaupun Kopral, tapi aku Kopral para Jenderal ". Katanya. Dan gampang ditebak, setelah itu dia akan tertawa lepas. Bahagia mungkin.

Sebuah lagi hari berlalu dengan demonstrasi, kali ini membicarakan tentang kebobrokan birokrasi. Pagi itu tidak ada yang istimewa, sebagaimana biasa. Bagi Sang Kopral yang namanya tidak wajar adalah kalau dalam dua bulan tidak turun ke jalan. Walaupun
demikian, dia tetap membatasi aktivitas jalanannya. Tiga bulan satu kali mungkin sudah jauh dari cukup untuk sebuah aktivitas parlemen jalanan.

"Apa ?! Kau pikir aku ingin, dengan kesadaran sendiri, meningkatkan intensitas gerakan kita, di jalan. Ingat !! koridor kita adalah moral, lain tidak !" Sang Kopral membentak seorang kolega.

"Bukan begitu, kita tetap teguh pada komitmen moral. Keadaan mengaharuskan demikian. Kita harus meningkatkan", jawabnya.

"Oke, sekarang mari kita hitung, berapa banyak elemen yang sudah turun ke jalan. Belum lagi elemen lain yang sekarang sedang masih menunggu momen yang tepat untuk bergerak. Dengan jumlah itu saja jalanan sudah penuh sesak".

"Siapa yang mengatakan tidak memang. Namun kalkulasi semacam itu hanya sebatas analisa kuantitatif, bukanlah kualitatif gerakan. Elemen kita merupakan elemen yang paling memiliki nilai jual, selling value, marketable and news maker, dan bukanlah gerakan anak-anak yang baru belajar berjalan, yang masih merangkak. Paling tidak kehadiran kita ditengah gegap gempitanya kondisi saat ini akan semakin memberikan daya dorong".

"Apa yang Kau cari sebetulnya ?"

"Tidak ada, melainkan penegakan kedaulatan rakyat. Mengembalikan bangsa ini kepada rakyat sebagai pemiliknya yang sejati".

"Kau yakin ?"

"Kau meragukanku ?"

"Seandainya begitu, justru kau harus mengurangi niat untuk turun jalan. Untuk jual nama, untuk memperkenalkan diri kepada dunia Kau ha …….".

"Ah! Kau ini ada-ada saja. Apa dalam benakmu Aku sudah kehilangan idealisme ?! Kau menganggapku sebagaimana layaknya sebagian aktivis lain, yang mungkin saja datang dari lingkungan mahasiswa jua seperti kita, yang kemana-mana selalu membawa taperecorder
untuk kemudian dipergunakan sebagai alat pemerasan. Tidak kawan. Aku belum sebejat itu".

"Aku percaya padamu".

"Sebagaimana kita menyerahkan jalan hidup kepada kebenaran dan perjuangan".

"Bagaimana dengan niatmu semula tadi ?"

"Aku hanya melontarkan gagasan, selebihnya akan tergantung kepada kesepakatan kawan-kawan sekalian".

"Kita akan bicarakan itu nanti. Kau sudah makan siang ?"

"Rekening siapa kali ini ?"

"Kau ini ……".

Kedua karib itu kemudian berjalan perlahan menuju warung kegemaran, menyusul menu makan siang yang dari pagi sudah menghadang di meja sajian warung. Hari ini memang tidak ada agenda gerakan dalam artian turun jalan. Biasanya hari seperti ini akan dilewatkan dengan ngobrol santai dengan sejawat, masyarakat atau sekedar membaca buku, atau yang paling sekedar lagi adalah duduk diserambi rumah sambil mengepulkan asap rokok kesayangan ditemani secangkir teh panas dan beberapa potong gorengan.

Sang Kopral memang lain. Sebagai seorang yang aktif dalam pergerakan ia sangat memegang teguh idealisme, karena ini memang sudah standar prinsip seorang aktivis, namun bagi seorang yang kerap turun jalan ia termnasuk yang sangat perhitungan dengan perawatan tubuhnya. Pantang baginya untuk turun jalan sebelum mengenakan tabir surya, produk kosmetik yang lebih dikenal sebagai konsumsi kaum hawa, atau pelembab.

"Lho ?! memangnya cuma perempuan yang boleh merawat tubuh ?" jawab Sang Kopral saat digoda oleh teman-teman seperjuangan,"yang pentingkan tidak merubah kepribadian", jawaban ini sudah standar, kalu ia digugat masalah yang sama.

Suatu pagi, Sang Kopral dibangunkan oleh koleganya yang lain, saat Sang Kopral masih enak meringkuk di bawah selimut tercinta

"Pral ! Oy ! bangun Pral !".

"Hehhh.. apa ?"

"Ingat hari ini ?"

"Ulang tahun siapa ?"

"Siapa yang membicarakan ulang tahun".

"Lantas?"

"Kemarin waktu Kau tidak ada, kawan-kawan rapat, dan memutuskan hari ini turun jalan lagi. Nah Kau kan baru datang dari luar kota, wajarlah baru dikasih tahu ….. ".

"Isunya ?"

"Sama dengan terakhir. Namun kali ini ada aliansi lain yang ingin bergabung dengan kita mungkin ada sekitar tiga elemen lain".

"Di mana ?"

"Tetap".

"Posisi-posisi, koordinator lapangan, asisten teritorial sudah fix ?"

"Siiiiip Kopral".

"Sebentar, aku akan mandi dan siap-siap dulu, 15 menit lagi di tempat biasa". Dengan cepat Sang Kopral bersiap-siap, tak lupa mengenakan tabir surya tercinta lantas bergegas menuju tempat yang telah menjadi kebiasaan.

Di sana telah berkumpul teman-teman sejawat dan beberapa gelintir massa yang rupanya berangkat dari tempat itu juga, walaupun bukan tempat yang menjadi kesepakatan dimana titik-titik massa akan menjadi konsentrasi. Setelah melalui beberapa pengantar ringan, berupa orasi-orasi pendek dari beberapa tokoh pergerakan, massa bergerak perlahan sambil meneriakkan yel-yel perjuangan dan menyanyikan lagu-lagu jalanan para demonstran menuju titik yang sudah disepakati.

Massa saat itu begitu luar biasa, baik dalam ukuran jumlah maupun semangatnya, ini wajar saja, karena emosi mereka sudah membaur jadi satu, satu tujuan dan kepentingan serta keyakinan. Psikologi sosial-pun barangkali akan kesulitan menguraikan benang pengikat semangat itu menjadi satu demi satu.

Semangat yang sudah membara semakin membara saat dituangi dengan orasi-orasi dari para orator ulung yang sudah terlatih dari forum ke forum, dari aksi ke aksi, yang sudah menembus banyak jalanan di kota itu. Pengeras suara sudah akrab dengan mereka. Satu persatu orator naik ke atas podium yang telah disediakan untuk kemudian membakar emosi massa sembari mengepalkan tangan ke langit dan menumpahkan segenap rasa dan kekesalan bahkan mungkin kekecewaan pada penguasa.

Namun ternyata hampir seluruh mereka melepaskan pengamatan dari sebuah barang yang selama ini menjadi pijakan mereka dalam berorasi, sebuah podium. Sepasang mata tua yang ternyata mengamatinya dan ia berbisik pada penonton aksi pagi itu yang
kebetulan duduk di sampingnya.

"Dik, Kau lihat itu ?"

"Ada apa Pak ?"

"Podium itu baru ya ?"

"Maksud Bapak ?"

"Kok berbeda dari yang biasanya".

"Beda apanya Pak ?"

"Yaaa, hampir semuanya berbeda", jawabnya dengan mimik semakin serius. Kali ini pemuda itu terpaksa mengamati dengan seksama juga. Rasa ingin tahu.

"Kau lihat apa yang ku lihat ?"

"Mungkin Pak".

"Apa yang kau lihat ? coba katakan padaku".

"Bahannya Pak. Sekarang kelihatannya lebih berkualitas. Dinding podiumnya, kiri, kanan dan depan semua terbuat dari jati".

"Terus apa lagi ?".

"Tiang-tiang penopang dindingnya paling tidak dari kayu ulin Kalimantan. Ukirannya juga luar biasa. Bahan kayu berukir itu mirip dengan kayu cedar dari Lebanon Pak ya..?"

"Memang Kau pernah lihat ?"

"Kata Khalil Gibran sih Pak….. , cuma, serius Pak, iya".

"Motif ukirannya ? Kau tahu ?"

"Bagian depannya Tiong Hoa, sampingnya perpaduan Jepara dan Madura. Sebentar Pak, saya lebih mendekat lagi mungkin lebih jelas".

Beberapa waktu kemudian, "Bagaimana ?" kata sang lelaki.

"Gila Pak, lantai podiumnya dari marmer itali. Modal siapa ya yang bikin begitu ?"

Ternyata berita tentang bergantinya podium tersebut perlahan-lahan tersebar di antara para demonstran dan kemudian mengguncang barisan para demonstran. Sebagian dari mereka kini tidak lagi sekedar berbisik-bisik, melainkan sudah berteriak-teriak menuntut
kejelasan dari para penggerak aksi kali ini.

"Jelas kita telah disusupi !", teriak satu orang.

"Cari provokatornya ! tangkap hidup-hidup ! kita serahkan pada pengadilan rakyat !", teriak yang lainnya.

"Saudara-saudara sekalian, jangan gampang terhasut oleh berita-berita yang belum tentu benar", timpal yang lainnya dengan agak bijaksana.

"Bakar ! bakaaar !"

"Iya ….. bakar saja !"

"Itu podium setan, menginjak-injak nilai-nilai perjuangan kita !"

"Harus kita musnahkan ! setuju ?"

"Setujuuuu !" kata massa.

Massa semakin beringas, seruan korlap dan aster sudah tidak didengarkan lagi. Kali ini harga diri mereka benar-benar merasa diinjak-injak, tidak lagi sekedar terluka. Emosi sudah memuncak dan berakhir pada penggulingan podium itu untuk kemudian dibakar dan dicaci maki beramai-ramai.

Massa merasa puas telah merobohkan apa yang diduga sebagai barang titipan dari para penggerogot kebenaran dan keadilan. Mereka, para pengerat itu, mengira idealisme para pejuang muda ini dapat dibeli dengan hanya sebuah podium mewah. Massa aktivis itu telah membuktikan bahwa podium itu dengan mudahnya dilalap oleh api yang telah mereka sulutkan.

Podium itu terus terbakar.

Sementara itu di sisi lain hiruk pikuk aksi, dalam sebuah fragmen sederhana,

"Bagaimana ?"

"Lancar Pak".

"Kau mau langsung pulang atau bagaimana ? makan dulu mungkin ?"

"Kondisional saja Pak. Kalau pulang ya mesti makan dulu, kebetulan kostnya kan lewat warung langganan".

"Kau ini bisa saja. Ini, buat ongkos pulang atau biaya makan, restoran lho ya…".

"Bapak, bisa saja …".

"Pral, ingat ya ….".

"Ingat Pak, kita belum pernah bertemu".

Podium itu kini tinggal abu. 

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain