” Adakah yang tersisa? “
” Mengapa kau tanyakan itu “
” Demi Tuhan aku ingin tahu “.
” Bila saja aku, kau & semua tahu, lantas bagaimana? “
” Entahlah “.
” Begitu saja? “
” Entahlah “.
” Maafkan aku “.
” Karena ada yang tersisa atau karena semua telah tiada? “
” Ada bias warna di matamu “.
” Mengapa belum kau jawab pertanyaanku? “
” Sinar matahari yang mungkin mengawali dan juga mengakhirinya, saat ia merangkak meninggalkan kaki langit “.
” Seandainya masih ada yang tersisa, mengapa kau tidak juga mau mengatakannya padaku “.
” Berartikah itu untukmu? “
” Teramat sangat “.
” Aku melihat warna-warna itu kembali setelah sekian lama “.
” Bagaimana aku dapat menjelaskannya padamu “.
” Ia berselang-seling satu sama lain. Keindahan memang terkadang berganti pada suatu ketika tanpa sanggup dihentikan “.
” Mengatakannya saja tidak, bagaimana mungkin kita dapat berbagi tentang itu semua “.
” Maafkan aku kembali “.
” Ini untuk yang kedua kalinya kau berkata demikian “.
” Mengapa kau menghitungnya? “
” Sebuah kekeliruankah itu? “
” Memang tidak. Maafkan aku mempertanyakannya “.
” Saat ini udara begitu dingin “.
” Pakailah jaketku ini “.
” Bagaimana dengan dirimu sendiri? “
” Kehangatan sudah ada dalam hatiku “.
” Kau belum menjawab pertanyaanku !”
” Teramat banyak yang harus kujawab “.
” Bagaimana mungkin? Padahal aku hanya menanyakan satu hal padamu “.
” Meskipun demikian “.
” Atau kau ingin menyembunyikannya dariku ‘.
” Bagaimana aku akan menjawabnya? “
” Ataukah kau memang ingin meyakitiku “.
” Kau tidak akan tahu “.
” Jadikan aku mengetahuinya “.
” Kau tidak akan mengerti “.
” Bagaimana aku akan mengerti, sementara engkau menutup rapat rahasia itu dalam sendirimu “.
” Dan kau tidak akan meyelaminya ‘.
” Bagaimana aku dapat menyelaminya, pada saat kau menggiringku untuk berlalu dari tepiannya “.
” Sanggupkah kau untuk menggapainya “.
” Aku akan menggapainya, manakala engkau menunjukkan ketinggiannya “.
” Kau akan menjaganya? “
” Sesaat setelah kau menitipkannya padaku “.
” Sebuah janji ataukah keinginanmu? “
” Menurutmu? “
” Janji akan tinggal janji sebelum digenapi atau diingkari “.
” Setelah aku tahu apa yang harus dijanjikan “.
” Memang tidak ada yang harus dijanjikan padaku “.
” Lantas? “
” Semua janji akan kembali pada dirimu sendiri “.
Keheningan menyergap mereka berdua. Tiada yang sanggup mengalahkan kebekuan makna saat itu. Semua berlalu tanpa ada yang bisa memastikan untuk berapa lama, sebab ukurannya bukanlah waktu, melainkan gerakan jiwa yang turut dihempaskan oleh kata-kata. Angin dingin semakin menjadi. Hanya satu hal yang diketahui dengan pasti. Saat itu adalah suatu sore hari dimusim hujan.
” Mengapa kita berada di sini? “
” Siapa yang menggiring dialah yang akan menjawabnya “.
” Demikianlah adanya “.
” Jadi? “
” Aku kembali ingin mengetahuinya “.
” Mengapa itu semua teramat penting? “
” Teramat sulitkah bagimu untuk mengatakan yang sesungguhnya “.
” Aku sudah mengatakan padamu “.
” Aku hanya berusaha untuk sanggup mengerti, menyelami dan menggapainya. Namun itu semua manakala aku mengetahuinya “.
” Di mana kau simpan korek apiku? “
” Kurangilah merokoknya, ini “.
” Terima kasih “.
” Kapan akan berhenti merokok? “
” Entahlah. Maafkan aku “.
” Janganlah meminta maaf kepadaku “.
” Lantas ? “.
” Bukan kepadaku, tapi kepada dirimu sendiri “.
Kembali keheningan menyergap. Perlahan-lahan kepekatan senja datang. Mereka berdua tengah tenggelam dalam bayangan masing-masing. Pandangan penuh tanya beradu dengan tatapan penuh tanya pula. Dengan demikian, tidak ada yang dapat memastikan bahwa mereka berdua tidak akan menemukan jawaban. Pandangan itu beradu. Untuk beberapa saat tetap berada dalam diam yang penuh keagungan, untuk kemudian…
” Mengapa kau tersenyum? “
” Kau takut? “
” Maksudmu? “
” Kau takut untuk menghadapi kenyataan “.
” Kenyataan yang mana dan mengapa pula aku takut? “
” Kau tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya, karena memang engkau takut untuk mengetahui rahasia itu, yang tersimpan dalam kepala dan jiwamu sendiri “.
” Apa yang kau bicarakan? “
” Kau takut aku akan mengkhianatimu bukan? “
” Apa yang harus kutakutkan? “
” Seandainya ada yang tersisa, kau takut untuk berbagi denganku “.
” Kau mulai berbicara tidak jelas “.
” Seandainya sudah tidak ada yang tersisa, kaupun takut, takut kehilangan sesuatu yang engkau harap kau dapatkan kembali “.
” Kau mencoba menjebakku dengan ucapan-ucapanmu itu “.
” Tidak, tidak begitu. Kurasa, demikianlah adanya “.
” Apa yang sedang bergantung di benakmu sehingga kau menduga-duga begitu rupa? “
” Kau tidak ingin aku menduga yang bukan-bukan? katakanlah “.
” Ahh … “.
“janganlah menangis, maafkan aku, karena memang begitulah adanya”Hening itu berulang. Rupanya malam teramat cepat datang kali ini dengan ditingkahi gerimis di kaki bukit itu. Mereka berdua berlari menuju sebuah pendopo peristirahatan yang dapat melindungi mereka dari sapaan gerimis yang bukan mustahil berubah menjadi hujan lebat bahkan mungkin badai. Walaupun mungkin tidak akan sehebat prahara makna diantara mereka berdua. Langkah kaki kecil-kecil terkadang mewarnai pembicaraan mereka berdua. Mugkin saja maksudnya sambil mengusir dingin yang datang. Atau ada maksud yang lain yang tiada seorangpun tahu kecuali sang pelaku.
” Hujan mulai turun. Kita terjebak di dalamnya “.
” Aku masih menantikan jawabmu “.
” Aku menantikan gerimis ini reda “.
” Kau jangan mengalihkan pembicaraan “.
” Lihat pelangi itu. Selayaknya bias warna di matamu “.
” Rokokmu sudah habis, jangan terus kau jepit dengan jemarimu “.
” Ia penuh makna, muncul dan perginya tidak melukai siapapun dan tidak mengkhianati apapun “.
” Kau ingin kita cepat pulang? “
” Siapa yang dapat memecahkan rahasia warna di matamu, bahkan di mata setiap orang yang lalu lalang dalam kegembiraan? “
” Kau tidak memperhatikanku? “
” Teramat sangat bahkan “.
” Mengapa kau selalu menolak menjawab pertanyaanku? “
” Aku sudah memberikan jawabannya “.
” Bagaimana mungkin? kau hanya membicarakan sesuatu yang bahkan tidak ada kaitannya dengan pertanyaanku “.
” Itulah “.
” Maksudmu? “
” Untuk mengerti, menyelami dan menggapai sesuatu, terkadang kau tidak harus mengetahuinya, dapat saja ia sudah ada dalam hatimu walau kau belum membukakan pintu pengetahuan untuknya. Karena hatimu lebih mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi “.
” Aku tidak memerlukan jawaban semacam itu. Aku perlu jawaban yang sederhana & lugas ! “
Rupanya suasana mulai memanas. Sangat kontras dengan cuaca yang dingin. Kalimat pendek semacam itu ternyata mampu mengubah suasana menjadi sebuah pertunjukan emosi yang penuh makna dan tanda tanya yang siapapun boleh merasakannya, merasakan cara mereka merajut benang-benang rahasia, menjadi sebuah uraian makna. Hentakan itu bukan saja memanaskan suasana, namun juga membuat lawan bicaranya menarik nafas dalam sejenak yang kemudian dilepaskan secara perlahan-lahan untuk kemudian diam beberapa saat dan dilanjutkannya
” Baiklah, kalau memang demikian keinginanmu “.
” Apakah masih ada di hatimu? kaupun tahu aku pada saat ini “.
” Aku hanya ingin kau bahagia “.
” Masihkah? “
” Aku hanya ingin kau bahagia. Maafkan aku, hanya itu yang dapat kujawab “.
” Kau menyulitkan diriku, kau menyudutkanku “.
” Terlebih lagi diriku, aku telah mempersulit jalan hidupku sendiri “
” Kau ….. “.
” Janganlah menangis, maafkan aku, karena memang begitulah adanya “.
…….
• dari sebuah catatan pribadi pada suatu ketika beberapa tahun silam …
![]()















astaghfirullah,,
smua berjalan begitu cepat,
susul menyusul,
tembak menembakl.
*pasti karena kebanyakan ngebaca winnetou ,,*
oleh” malang maren ya pak?;-)
owh…, adakalanya kaum kami sulit memahami isyarat-simbol-pertanda-makna tersirat, kadang sesuatu memang harus dikatakan, lugas seperti adanya
“kehangatan sudah ada dalam hatiku…” [mmm.. yummy...]
“mengapa kau tersenyum?” [Mupengh..]
“maafkanlah dirku, memang begitulah adanya”
“aku sudah terlanjur cinta pada keadaan itu”
“baiklah, menikahlah denganku.”
“haruskah sekarang?”
“mengapa menunggu nanti?”
“Engkau sok tau win! jangan mencoba menyelami aku!”
“Iya pa.. iya…”
sepertinya 2 orang ini sedang berada dimasa dimana saling mempertanyakan keberadaan dirinya dihati pasangannya.. namun pasti berakhir dengan indah
*teerlalu manis untuk melupakan sebuah kenangan*
ya begitu lah adanya om….
ya begitulah hidup.. :))
hmmmm….
wow, kisah yang mengingatkan saya….
*
sudah saya lakukan, saya sudah minta maaf, memang salah saya minta rokok, ga izin dulu sama yang punya, *sambil
O..ooo….begitu kaaahh…sekalinya…?
Catatan pribadi mendialogkan diri sendiri, aku dan diriku, telah menjadi cermin tersendiri.
Menarik dan terbuka.
maknanya sangatlah dalam…
memang butuh kepekaan untuk menanggapinya
Mudah2an apa yang ada dalam alam tercinta ini masih tersisa, masih bisa di nikmati untuk generasi yang mendatang. masih bisa di kelola dengan baik oleh tangan masa depan generasi penerus bangsa ini. Berhentilah menghabiskan hutan2 dan penghijauan yang seharusnya terus di nikmati mata yang berbinar. jangan alihkan pandangan mata itu menjadi menyala dan jauh dari tatapan damai….semoga akan tetap terjaga!!!
Salam hangat,
Zulhaq Sinting!!!
hiks hiks..ada apa disana?