Piring

“Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka”.
“Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya”.

“Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin”.
“Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia”.

“Bapak artinya juga tidak suka dikurung ya Bu ?”
Sang ibu tertegun sejenak. Sesaat pandangannya menerawang. Jauh menembus dinding papan rumah sewaan ia dan anaknya yang satu-satunya itu. “Sudahlah Min. Kamu lapar kan ? Ibu masak dulu ya”.

Anak kecil yang bernama Amin itu kini berlari menuju lapangan di mana ia biasa berkumpul dengan teman sebaya. Menghabiskan waktu kecil dengan begitu bahagia. Syaifullah Aminuddin, begitu nama lengkapnya. Dengan bangga ia menceritakan arti namanya kepada orang-orang yang ditemuinya, apabila mereka menanyakan nama lengkapnya.

Amin, sudah sekitar 5 tahun ini ia berada dalam pangkuan ibunya sejak dilahirkan dan lebih dari separuh usia itu betul-betul dihabiskan bersama sang ibu. Sang bapak, Rahmat Sabir, terpaksa mendekam di penjara dan menjadi seorang narapidana untuk waktu yang lama. Sebuah kejahatan yang terpaksa menyebabkan ia tidak bisa menyaksikan sang anak untuk pertama kalinya mengenakan seragam sekolah, serta baru dapat menyaksikan anaknya manakala sudah mengenakan pakaian seragam abu-abu putih.

Berhari, berminggu dan bertahun telah lewat sejak peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Rahmat Sabir. Kini Amin sudah beranjak besar. Itu semua jelas diketahuinya saat Amin datang bersama sang ibu, istrinya yang setia, yang menjenguknya di LP secara rutin. Ia cukup bahagia bisa menyaksikan Amin yang kian besar dan semakin banyak saja ucapan dan tingkahnya yang khas anak-anak.

“Maafkan aku, Bu. Kau terpaksa seperti ini. Bagaimana aku dapat membalas ini semua? Kau istriku, tapi aku telah menyia-nyiakanmu begitu rupa”, Pak Sabir berkata suatu ketika.
“Apa yang Kau bicarakan, Pak ? Sudahlah, tidak usah lagi bicara begitu. Bicaralah dengan anak kita. Ia sudah semakin besar, semakin sering memanjat-manjat pohon mangga tetangga kita”.

“Pohon mangga yang mana, Bu? Tetangga yang mana, Bu?”.
“Itulah Pak, yang sebetulnya ingin ku kabarkan padamu kali ini”.

“Mengenai apa, Bu?”
“Apa yang pernah kita bicarakan tempo hari jadi kenyataan, Pak. Kita sudah tidak sanggup lagi kalau harus membayar sewa rumah kemarin. Dua hari yang lalu, aku pindah dari rumah kita yang dulu. Lumayan, dengan rumah yang sekarang kita makin bisa menghemat pengeluaran”.

“Bu… maafkan aku”. Hanya kalimat pendek itu yang terlontar dari mulut Pak Sabir. Kemudian ia menundukkan kepala sedemikian menutupkan wajahnya ke kedua tangannya yang bersilang di atas meja.

Sebuah belaian halus menyentuh tidak hanya rambut Pak Sabir, melainkan juga ketegarannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa dan harus mengandalkan sang istri untuk membesarkan anak tunggal mereka.

“Bapak sakit ya Bu?”
“Ah tidak, Bapak cuma agak masuk angin. Kan di sini udaranya dingin”.

“Kata ibu, biar tidak masuk angin, Amin tidurnya harus pakai sarung. Bapak pakai sarung apa tidak?”
“Sudah Nak, Bapak sudah pakai. Cuma udara sangat dingin. Lebih dingin dari yang di rumah mungkin”.

“Angin di sini dengan yang di rumah berbeda ya Pak?”

Pak Sabir hanya tertawa mendengar pertanyaan sang anak. Tangannya bergerak menjangkau Amin untuk kemudian menariknya ke dalam pelukan.

“Kau semakin besar, Nak. Maafkan Bapak, kau harus melihat Bapak dalam keadaan seperti ini, yang siapapun di antara kita bertiga tidak ada yang membayangkannya apalagi mengharapkannya” , Pak Sabir membatin sembari merangkul Amin.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh tepat di atas kepala Amin. Air mata dalam keadaan seperti itu memang memiliki makna yang tidak hanya dalam, tapi juga agung. Seandainya saja semua orang memiliki air mata seperti itu, maka tidak ada apapun di dunia ini melainkan kedamaian, serta kasih sayang yang sejati.

Waktu berkunjung telah habis. Amin dan ibunya melangkah keluar. Amin mencium tangan sang bapak, istri mencium tangan suami. Semua kembali ke tempat semula. Pak Sabir harus kembali ke sel, sementara istri dan anaknya harus kembali melanjutkan kehidupan di luar tembok yang sekarang mengeliling Pak Sabir.

Belum lagi genap langkah istrinya lenyap dari pandangan, Pak Sabir sudah harus kembali ke selnya semula.

“Istrinya lagi, Pak?”
“Iya, mau dijenguk siapa lagi? mereka berdua adalah satu-satunya yang paling berharga di dunia ini. Mungkin mengalahkan kebebasanku”.

“Aduh Pak Sabir ini. Kita sudah lama sama-sama berada di dalam. Bagaimanapun kebebasan adalah impian kita. Setidaknya saat ini”.
“Kau tidak merasakannya mungkin”.

“Bisa jadi, Pak. Mungkin kebiasaan lama saya menyebabkan saya tidak begitu memperhatikan keluarga. Tapi saya sekarang benar-benar mau insaf, Pak. Sudah capai rasanya hidup seperti itu. Saya besar dan hidup dari jalanan yang sangat dekat urusannya dengan tempat sumpek seperti ini. Bapak kan beda, Pak Sabir dulunya kan kerja di sekolahan, . Eh, ngomong-ngomong, Pak Sabir mau kan mengajar saya membaca? mau kan, Pak?”.

“Tapi kan saya cuma pesuruh biasa di sekolahan itu. Tapi… jadi selama ini belum bisa membaca? Kalau menulis?”.
“Bagaimana sih Bapak ini, orang membaca saja lewat, bagaimana mau menulis? Waaah Pak Sabir sudah pusing ya?”, katanya sambil tergelak riuh.

“Iya, iya. Kenapa selama ini kamu tidak mengatakannya?”
“Malu, Pak. Punya anak buah banyak, ee… urusan membaca saja lewat. Tapi Bapak mau kan mengajar saya. Jadi guru saya di sini?”

“Yahh, tergantung…”.
“Tergantung apa, Pak? Gaji ya?”.
“Sudah tahu, kan?”

penjaraKeduanya kemudian lantas tertawa lepas berdua. Kadang-kadang, dan seringkali kalau tidak yang terutama, kemampuan menghibur diri sendiri atau bahkan teman satu sel sangat berarti dalam menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa bosan dan ketertekanan.

Kalau sudah tertawa seperti itu rasanya memang semua beban hidup lepas, pergi bersama getaran tawa. Mereka yang bertahan dalam keadaan seperti itulah yang sesungguhnya orang yang lebih mengerti mengenai makna kesabaran dan ketabahan terutama arti kebebasan. Walaupun untuk menghibur diri, di antara sesama orang dalam sering terdengar lontaran mengenai kebebasan.

Bahwa mereka yang senasib ini sesungguhnya memiliki kebebasan yang luar biasa. Mereka bebas untuk melamun, bebas untuk menghibur diri, bebas untuk tertawa tegelak-gelak dan banyak kebebasan lain yang tentu saja untuk menghibur diri dan bukannya memberikan ceramah mengenai kebebasan kepada semua orang yang sering kali justru semua ceramah tentang kebebasan itu adalah pelajaran mengenai keterbelengguan.

Sementara itu, Amin tengah asyik bermain-main dengan teman-temannya di lapangan biasanya. Sebuah lapangan voli kampung yang suatu saat menjelma menjadi lapangan sepak bola anak-anak, dan pada saat yang lain akan menjelma menjadi sarana yang lain sesuai dengan kesepakatan bocah-bocah kecil dengan jiwa-jiwa yang merdeka itu.

Mereka bersepakat untuk melakukan sebuah permainan, bersepakat mengenai aturan-aturan permainan dan bersepakat untuk menegakkan aturan itu dengan berbagai sangsi yang sesuai dengan jiwa anak-anak mereka, manakala ada teman yang dihukum, sebagian besar teman-teman yang tidak mendapat sangsi merasa mendapat kesempatan untuk menjadikannya bahan lelucon.

Namun hebatnya, jarang sekali yang berujung kepada perkelahian secara fisik, sebab yang dijadikan bahan lelucon akan berusaha sekuat tenaga untuk membalas kekalahan untuk kemudian memiliki kesempatan pula melakukan serangan balasan dalam hal olok-olok anak kecil. Mereka semua bahagia, mereka semua tertawa. Amin juga bahagia, Amin juga tertawa. Namun kini rupanya Amin merasa lapar. Ia pamit kepada kawan-kawannya untuk pulang.

“Mau makan dulu, aku lapar”, jawab Amin saat ditanya oleh teman-teman sepermainan.
“Huuu, ya sudah. Kita sekalian bubar. Aku juga mau mandi dulu. Berenang di kali yuk.., kan segar”, kata seorang teman.

Permainan sore itu bubar. Semua persoalan kalah dan menang sudah dihabiskan sore itu juga. Seandainya ada yang menginginkan permainan dilanjutkan, itu semua akan dibicarakan bersama-sama oleh mereka untuk kemudian bersepakat.

“Bu, Amin mau makan, Amin lapar, Bu”, seru Amin sambil mencari ibunya yang tidak ditemuinya di dapur kecilnya.

Amin mendapatkan ibunya tengah berjalan ke arahnya sambil membawa segelas teh yang tinggal berisi separuhnya. “Bu, Amin mau makan”, ulangnya.

“Amin kan sudah besar, coba Amin ambil sendiri piringnya, bisa kan?”
“Iya, Bu”, Amin beranjak menuju sebuah meja kecil dan mengambil sebuah piring dan membawanya ke ibunya untuk diambilkan nasi.

“Makan yang banyak ya, biar Amin cepat besar. Lebih besar dari sekarang”.
“Ibu sudah makan?”

“Ya ini, Ibu kan makan bersama Amin”.
“Bu, Bapak makannya enak ya? kan disediakan kata Bapak”.
“Ibu juga kurang tahu, Nak. Sudahlah, nanti kamu sakit kalau makan sambil bicara”.

Di tempat lain, Pak Sabir tengah menikmati jatah makan sore itu. Kali ini menu yang tersedia adalah sepotong kecil ikan asin, serta sayur yang lebih banyak kuahnya.

“Walaupun menu sama, jelas lebih enak makan di rumah bersama anak istri, iya kan?”
“Ah, Pak Sabir. Masih saja suka berkata begitu. Nanti malah jadi pikiran, Pak”.

“Cuma membayangkan saja”.
“Walaupun begitu”.

“Seandainya kejadiannya tidak seperti saat itu, mungkin akan sangat berbeda sekali dengan saat ini”.
“Maksud Pak Sabir?”.

“Seandainya aku tidak memukulkan palu itu ke kepalanya, seandainya aku tidak membunuh mereka”.
“Sudahlah, Pak. Semua sudah terjadi. Buat apa diingat-ingat lagi. Kata orang-orang itu semua sudah menjadi takdir, Pak”.

“Sekarang aku menjadi orang yang sangat tidak berguna. Menyusahkan anak dan istriku, membuat mereka menderita begitu rupa, belum pernah memberikan kebahagiaan yang seutuhnya”.
“Kan nanti kita semua juga bebas, Pak. Ada kesempatan untuk menebusnya”.

“Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?”
Sekarang sang kawan hanya diam.

Hari berlalu, sebagaimana biasa istri Pak Sabir dan anaknya Amin datang berkunjung. Masih seperti yang sudah-sudah, kali ini tetap membawakan nasi putih dengan ditemani beberapa potong tahu dan tempe goreng, sambal dan lalap. Sederhana dan bersahaja, juga penuh makna.

Hari itu, Pak Sabir telah mengambil keputusan. Menetapkan hati dan meneguhkan keyakinannya bahwa ia sangat mencintai istri dan anaknya. Sekarang ia telah mantap dan yakin sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayangnya kepada anak dan istrinya yang sekarang berada di depannya.

“Bu, kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku berada di sini pun karena aku tidak rela kau disakiti bahkan diganggu oleh siapapun. Aku ingin membahagiakanmu melebihi keinginanku terhadap apapun. Kebahagiaan Kau dan Amin adalah segalanya bagiku hanya aku yang saat ini dapat mewujudkannya. Kebahagiaan kita yang sesungguhnya”.

“Karena itu, Bu, hanya satu permintaanku, jangan kau buang piring seng yang kita miliki dulu sejak awal membina keluarga ini. Mungkin sebagai saksi perjalanan kita. Tolong jangan kau buang, ya Bu”.

“Memangnya kenapa, Pak. Kalau piring seng yang biasanya disimpan, Amin makan pakai apa, Pak? atau Ibu mau ganti dengan piring kaca ya? Asyik, Amin punya piring kaca yang bisa tembus pandang !” Amin bersorak girang.

Istri Pak Sabir hanya terdiam. Tak lama kemudian Amin dan ibunya pulang.

Beberapa waktu berselang, hari dan minggu berganti. Sebagaimana biasanya, setelah dijenguk, Pak Sabir kembali ke sel dengan membawa bungkusan makanan buah tangan.

“Istrinya lagi, Pak?”

Pak Sabir hanya tersenyum, kemudian perlahan membuka bungkusan. Kali ini sebuah rantang bermotif bunga yang ada di dalamnya. Perlahan ia buka rantang tersebut, satu khusus nasi putih, satu khusus sayur dan satu lagi khusus lauk. Pak Sabir dengan rekan satu sel sudah mencuci tangan dan siap untuk menyantap hidangan oleh-oleh hari itu.

“Waah, kali ini istimewa, Pak. Ada ayam gorengnya, terus juga ikan lele goreng ditambah menu biasanya, tempe dan tahu. Waah, kalau begini tiap hari, saya juga mau”.

“Kau ini”, sahut Pak Sabir sambil tersenyum, sebuah senyum yang dalam, “Kau teruskan saja makan di rantangnya, aku makan menggunakan piring ini saja, sudah terbiasa, soalnya dibawa dari rumah”.

Mereka berdua kemudian menyantap hidangan istimewa kali petama itu. Sang rekan menyantap dengan lahap, namun tidak demikian halnya dengan Pak Sabir, ia makan dengan perlahan, suapan satu demi satu sambil terus berlalu dengan lekat memandang piring seng yang digunakannya sambil membatin, “Ya Tuhan, terima kasih telah menguatkan hatiku untuk mengambil keputusan itu. Aku hanya ingin dia dan anakku mendapatkan kesempatan merasakan hidup yang lebih layak. Aku ikhlas untuk itu. Terima kasih kau kuatkan hatiku Tuhan. Namun aku mohon Kau mantapkan aku dalam keadaan ini Tuhan”, Pak Sabir berdoa.

Klentangg !!! piring seng di tangan Pak Sabir jatuh, ia sendiri tersentak kaget dari lamunannya, lamunan yang mengingatkannya pada kalimatnya pada sang istri waktu itu.

“Rasmi, aku ikhlas. Aku yakin Haji itu juga ikhlas ingin membahagiakanmu. Paling tidak, lakukan demi masa depan anak kita”.

Sang istri hanya bisa berlalu dengan air mata.

 

Banjarbaru, sekedar cerita pendek
dari sebuah catatan lama

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

25 komentar pada Piring

  • Huwaaa hiks2 mengharukan. . . .

    Tapi ngomong2 nama anaknya situ amin ya om? Wkwkwkwkwkwkwk *kabuurrr*

    anak saia? belum ada namanya, tapi doa saja.
    amin ya rab al ‘alamin… :)

  • sangat menyentuh ceritanya mas, sampai bengong nih mau komentar. jeruji banyak membuat insaf. kesabaran ibu amin yang luar biasa dalam membesarkan amin sendirian. Pring seng yang menyaksikan perjalanan sebuah keluarga yang punya cerita memilukan, menyedihkan,….he..

    asyik sekali membacanya Mas…

    jujur, saya juga kadang bingung kalau mau komentar. karenanya saya sangat maklum akan hal ini :)

  • Pak Sabir telah menentukan pilihan, kembali makan menggunakan piring seng dan mengikhlaskan anak dan istrinya dibahagiakan org lain, krn ia nggak mampu berbuat itu.

    Rasmi jd istri kedua pak Haji kah? Akankah lepas tanggung jawab moral Rasmi menjenguk Sabir di penjara?

    secara tersirat sudah ada tentang hal itu gus… :)

    • sebentar, bagian mana yg mengatakan Rasmi jadi istri kedua Pak Haji? Emang Pak Hajinya udah nikah pakacil?

      oh iya, benar… terima kasih.. jawaban saya di atas kurang pas/tepat
      maksudnya rasmi sudah nikah dengan pak haji dan memang tak disebutkan sebagi isteri ke-2, 3 atau 4. namun rasmi tetap menjaga tanggung jawab moralnya untuk menjenguk.
      :)

  • beruntung pak sabir mendapat istri begitu sabar dan tawakkal, walau ujungnya harus ikhlas menikah lagi dengan orang lain agar kehidupan bisa lebih baik :think:

    saya sendiri bingung tentang masalah keberuntungan pada kisah itu
    saya hanya tau, seringkali hidup harus terus berjalan

  • salut pada ibu amien yang penuh semangat untuk mengurus amin, cerita yang mengharukan

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasihh :D

    dan banyak orang tua seperti beliau di luar sana :)

  • mbrebes aku pak…

    mbrebes itu artinya apa ya pak? maaf, saya benar² gak ngerti

  • cerita ini
    benar luar biasa dan di luar kebiasaan

    kok bisa2nya bikin kisah bagus nan mengharukan gini ya, pak
    :kuda:

    entahlah, mungkin habis mabuk gara² kalkulus :(

  • ceritanya bener2 mengharukan sekali yah sampe terbuai membacanya :tepuk: :tepuk: :tepuk:

    makasih mas agung :)

  • cerpen yang menarik, pakacil. mengangkat ttg problem2 kemanusiaan yang rumit dan kompleks. kasihan juga si Syaifullah Aminuddin. anak sekecil dia mesti ditinggalkan sang ayah tercinta di balik jeruji besi.

    makasih pak sawali. sambil belajar bikin kisah.

  • luar biasa, saking cintanya pak sabir kepada istrinya dia rela istrinya menikah lagi….

    “love is not a feeling, it’s an ability…” kata dialog di sebuah pelem sih… :)

  • cerita yang menarik … perubahan isi buah tangan Rasmi, ada tambahan ayam goreng dan lele goreng selain menu biasa tahu tempe, sepertinya berhubungan dengan ucapan Pak Sabir tentang keikhlasannya … namun ternyata tidak menghentikan Rasmi dan Amin mengunjungi Pak Sabir ke penjara dengan bungkusan, dan Pak Sabir tetap tersenyum saat Rasmi dan Amin melangkah pulang.

    Suatu keikhlasan yang teguh Rasmi … yang sempat berlalu dengan air mata.

    makasih pak ben, itu memang salah satu hal yg tersirat pada cerita

  • jadi mengelus dada sendiri yang suka merasa kurang membahagiakan anak istri sayah…

    selama masih ngelus dada sendiri, tak akan pernah jadi masalah kok pak…

  • hmm.. apa yang dirasakan rasmi sesungguhnya ya..? tentang hatinya.. tentang cintanya.. ??

    mmm.. bagian ini memang tak sempat terulas mba :)

  • Pakacil bikin cerpen… :tepuk:
    Salah satu kesaktian sebuah karya tulis adalah bisa menelanjangi sisi humanis penulisnya (sok tau mode on*). Buktinya dari tulisan ini, bisa diketahui ternyata selain jahil n ngocol, pakacil sensitif dan melankolis juga
    ;)

    Ditunggu karya selanjutnya pakacil, mungkin pakacil mau menampilkan sisi humanis lain dari diri pakacil? Sisi psikopatnya mungkin?
    :bakbuk:

    appaaaa… mau menelanjangi saya?!? :(
    *histeris, panik, ngantuk dan los pokus*

    • histeris, panik dan los pokus masih ada dalam konteks, tapi klo ngantuk? Saya bingung darimana itu munculnya :?:

      whuahahaha…. bener, bener…
      soalnya itu dijawab pas lagi ngatuk berat, setelah gak tidur semalaman
      :D

  • hidup memang harus terus berjalan, keputusan Pak Sabir yg ikhlas merelakan istrinya menikah lagi, lebih didasari pd kesadaran ingin membahagiakan orang yg disayangi, dari pada ego pribadinya.
    salam.

    memang bunda, kehidupan harus terus berjalan.

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain

 

Pakacil - Banjarbaru, Kalimantan Selatan © www.pakacil.com