<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pakacil Banjarbaru</title>
	<atom:link href="http://pakacil.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pakacil.com</link>
	<description>Berbagi cerita dari sebuah sudut di Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Aug 2010 19:55:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kematian, Perubahan dan Maaf</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/kematian-perubahan-dan-maaf</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/kematian-perubahan-dan-maaf#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 19:54:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sungguh, bukan sebuah hal yang mudah jika sudah menyangkut perkara kematian. Terkait siapapun, terlebih lagi bagi seseorang yang dekat dengan kita, dan lebih-lebih lagi, menyangkut diri kita sendiri.</p> <p>Atas banyak hal yang telah saya alami antara 2-3 bulan belakangan ini, satu peristiwa teramat singkat yang saya alami telah mengingatkan saya begitu keras akan kematian. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/08/tidur_panjang1.jpg" alt="tidur panjang" title="tidur panjang" class="alignleft size-full wp-image-958" />Sungguh, bukan sebuah hal yang mudah jika sudah menyangkut perkara kematian. Terkait siapapun, terlebih lagi bagi seseorang yang dekat dengan kita, dan lebih-lebih lagi, menyangkut diri kita sendiri.</p>
<p>Atas banyak hal yang telah saya alami antara 2-3 bulan belakangan ini, satu peristiwa teramat singkat yang saya alami telah mengingatkan saya begitu keras akan kematian. &#8220;Dikunjungi kematian&#8221;, mungkin demikian saya mengistilahkannya. Sekalipun sejumlah orang dan rekan yang saya mintakan pendapat memberi penjelasan yang beragam, hanya sebatas itulah saya berani menilainya. Walau pada akhirnya istilah menjadi begitu sangat tidak penting. &#8220;Benturan keras&#8221; itu tak lagi penting pada tataran pengertian. Pensikapan adalah sesuatu yang jauh lebih penting.<br />
<span id="more-956"></span><br />
Sebagaimana sejak lama, saya tak pernah berani langsung menganggap sebuah musibah sebagai &#8220;ujian&#8221; atau &#8220;azab&#8221;, karena bagi saya keduanya adalah titik ekstrim antara terlampau optimis dan terlampau pesimis. Saya cenderung berusaha menanggap musibah sebagai &#8220;teguran&#8221;, sebuah pendekatan yang -<em>mungkin</em>- cenderung &#8216;politis&#8217;. Sekalipun apa yang telah terjadi bukanlah sebuah musibah.</p>
<p>Terpenting dari semuanya, bagi saya tentu, adalah adalah sangat bersyukur bahwa saat ini masih bisa menghirup dan mengeluarkan nafas satu demi satu helaan nafas secara wajar, bahwa ruh ini masih berada pada tempat sementaranya, sebelum nanti kembali ke tempat semestinya. Bersyukur masih ada hidup dan kehidupan yang terus berjalan, sehingga setelah sekian lama, saya kembali berani kembali ke beberapa sisi kehidupan saya.</p>
<p>Perubahan, kata kunci yang harus menjadi pegangan. Sekalipun saya bukanlah orang yang menilai <em>comfort zone</em> itu sebagai sebuah kelemahan, tapi memang saya mungkin masih diberikan kesempatan untuk berubah, menjadi sesuatu yang lain, tapi tentu saja tidak berubah menjadi Gaban atau Sariban atau Voltus V atau Megaloman.</p>
<p>Berburu maaf, salah satu yang telah dan akan terus saya lakukan. Beruntung, saya mendapatkan kesempatan, bahkan setelah belasan tahun saya mencoba mencari kesempatan itu.</p>
<p>Karenanya kawan, jika ada salah dan khilaf atas yang pernah saya lakukan, secara langsung ataupun tidak, sudilah kiranya memberikan maaf dan pengampunan untuk saya, untuk memulai kembali sebuah kehidupan baru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/kematian-perubahan-dan-maaf/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interview with Pakacil (Part II + Klarifikasi)</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-ii-klarifikasi</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-ii-klarifikasi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 11:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[banjarmasin]]></category>
		<category><![CDATA[duta tv banjarmasin]]></category>
		<category><![CDATA[interview pakacil]]></category>
		<category><![CDATA[Pakacil]]></category>
		<category><![CDATA[smart fm banjarmasin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[<p><p class="wp-caption-text">tuu... saya sudah tampak depan kan?</p>Sore hari, waktu itu, saya terima telpon dari nomor yang belum saya simpan. Ternyata tujuan telpon tersebut adalah mengundang dan meminta kesediaan saya untuk ikut tapping program terkait penggunaan internet.</p> <p>Sementara tidak ada bentrok jadual, maka saya nyatakan kesediaan. Cuma yang menjadi permasalahan waktu itu adalah saya tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_943" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-943" title="Interview with Pakacil" src="http://pakacil.com/file/2010/06/interview-2.jpg" alt="Interview with Pakacil" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">tuu... saya sudah tampak depan kan?</p></div>Sore hari, waktu itu, saya terima telpon dari nomor yang belum saya simpan. Ternyata tujuan telpon tersebut adalah mengundang dan meminta kesediaan saya untuk ikut <em>tapping</em> program terkait penggunaan internet.</p>
<p>Sementara tidak ada bentrok jadual, maka saya nyatakan kesediaan. Cuma yang menjadi permasalahan waktu itu adalah saya tidak mendapatkan informasi yang jelas format acara yang akan dilaksanakan.</p>
<p>Karena itulah, sebagai bentuk antisipasi sejumlah kemungkinan, saya mengajak <a href="http://manusiasuper.wordpress.com">manusiasuper</a> dan <a href="http://www.ichal.web.id">ichal</a> untuk berhadir pada waktu dan tempat yang telah disampaikan.</p>
<p>Sesuai jadual, pagi jam 11.00 wita kami sudah berada di tempat, salah satu hotel swasta di Banjarmasin. Baru di lokasi itulah saya mendapatkan informasi yang jelas, bentuk program yang akan dilaksanakan. Sementara itu, kru Duta TV dan Smart FM Banjarmasin ternyata masih harus menyelesaikan sejumlah persiapan teknis.<br />
<span id="more-942"></span><br />
<span class="kutip">&#8220;kalau bisa diikat&#8221;</span>Sebelum tapping dilaksanakan, hanya satu hal yang sanggup membuat saya berpikir keras dan akhirnya sibuk merogoh kantong dan tas, bermenit-menit hanya untuk itu. Pesannya sebetulnya biasa saja, yakni &#8220;<em>kalau bisa rambutnya diikat dulu deh</em>&#8230;&#8221;. Persoalannya saya lupa dimana meletakkan ikat rambut. Sekian waktu baru saya ingat, ternyata ikat rambut itu ada di tangan, melingkar dengan indahnya bersama jam tangan yang selalu saya kenakan di tangan kanan.</p>
<blockquote class="note"><p>Melalui program tersebut, ada hal yang harus saya luruskan, yakni sewaktu disebutkan bahwa saya adalah duta blogger dari salah satu provider. Hal tersebut tidak tepat, karena saya bukan duta apapun dari insitusi apapun.</p></blockquote>
<p>Program semacam di atas sebenarnya membuat saya kadang agak sulit menahan diri untuk tidak berbuat atau berucap tanpa sensor. Semisal sewaktu host menyampaikan iklan menu baru di hotel tersebut, yakni sate daging yang saya lupa namanya, dengan enteng saya bilang, &#8220;maaf, saya tak makan daging&#8221;. Dari pada saya disuruh makan daging itu? ya lebih baik bilang terus terang. Paling tidak, ada hikmah dari hal macam itu, yakni kalau ngundang saya untuk acara apapun memang lebih baik juga disediakan menu yang bukan daging. Atau kalau Anda tega, biarkan saja saya hanya bisa memandangi daging, opsi ini dijamin lebih hemat.</p>
<p>Setelah selesai, saya bersama manusiasuper dan ichal melanjutkan dengan acara makan siang, dan percayalah, saya harus bertepuk tangan atas kepiawaian mereka memilih posisi duduk.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_hayal.gif' alt=':wink:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Niat mau nonton pelem di bioskop, dibatalkan, karena sewaktu masih berada di lokasi saya telpon sebentar itu bioskop dan bertanya pelem apa yang tengah tayang. Ternyata idak ada yang menarik minat bersama.</p>
<p><img class="aligncenter" title="www.pakacil.com" src="http://pakacil.com/file/img/line.gif" alt="www.pakacil.com" width="252" height="9" /></p>
<blockquote><p>Sambungan dari tulisan sebelumnya, <a href="http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-i">Interview with Pakacil (Part I)</a></p>
<p><strong>Jadi, bagaimana ini, dapat kita teruskan?</strong><br />
yaaa&#8230; terserah saja, suka-suka saya saja lah.. tergantung mood</p>
<p><strong>lho, bagaimana sih Anda ini sebenarnya?</strong><br />
lhah&#8230; apanya yang bagaimana? memang benar terserah saya kan? yang nanya saya, yang jawab ya juga saya sendiri. interview part I itu kan sekedar buah dari kebuntuan ide. akhirnya ya saya putuskan untuk diakhiri saja.</p>
<p><strong>artinya ini bukanlah interview yang sebenarnya? begitu?</strong><br />
benar sekali, dan sayapun sama sekali tidak menyebutkan bahwa ini adalah interview yang sebenarnya.</p>
<p><strong>Ini berarti, kita..?</strong><br />
ya&#8230; kita adalah orang yang sama, selain sama secara fisik, juga sama² linglung.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>- The End -</p></blockquote>
<p>Sudah, tidak ada sambungan apa-apa lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-ii-klarifikasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interview With Pakacil (Part I)</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-i</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-i#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 11:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[money politics]]></category>
		<category><![CDATA[Pakacil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=932</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada suatu hari di Banjarbaru, lebih kurang pukul 10.00 wita, bertempat di sebuah ruangan kerja yang merupakan ruang dimana saya biasa beraktivitas.</p> <p>Berikut merupakan transkrip Interview with Pakacil atas beberapa isu/tema, yang sedapat mungkin saya muat semirip mungkin dengan adanya. Tentu sangat harus dimaklumi jika tidak plek sama 100%. Sepertinya temanya memang bergerak kesana-kemari. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/06/interview.jpg" alt="interview with pakacil" title="interview with pakacil" class="alignleft size-full wp-image-933" />Pada suatu hari di Banjarbaru, lebih kurang pukul 10.00 wita, bertempat di sebuah ruangan kerja yang merupakan ruang dimana saya biasa beraktivitas.</p>
<p>Berikut merupakan transkrip <em>Interview with Pakacil</em> atas beberapa isu/tema, yang sedapat mungkin saya muat semirip mungkin dengan adanya. Tentu sangat harus dimaklumi jika tidak plek sama 100%. Sepertinya temanya memang bergerak kesana-kemari. Tapi tidak masalah, karena ini memang interview ringan saja, tidak fokus pada topik tertentu.</p>
<p><strong>Selamat pagi Pakacil, maaf kalau dirasa menggangu. Bagaimana kabar Pakacil hari ini?</strong><br />
selamat pagi juga. yang penting menurut saya, saya dalam keadaan baik² saja, entahlah menurut orang lain. dan, tidak masalah, saya tidak merasa terganggu. santai saja.<br />
<span id="more-932"></span><br />
<strong>Oh ya, tumben Pakacil sudah bangun jam segini, menurut kabar, Pakacil jarang sekali bangun pagi, benar begitu?</strong><br />
hahahaha&#8230; siapa yang bilang begitu. yang harus dimengerti adalah ada perbedaan yang jelas antara sudah bangun dan belum tidur. menurut saya jam tidur itu semata-mata persoalan teknis, persoalan jam biologis yang tiap orang bisa berbeda.</p>
<p><strong>Bagaimana Pakacil, kita lanjutkan saja? Oh ya, dipanggil Pakacil atau apa?</strong><br />
hehehe&#8230; persolan lanjutkan sudah selesai. pilpres dan pilgub sudah selesai. hehehe&#8230; maaf ngelantur, baiklah, tak masalah kalau kita teruskan. dan tidak masalah, pakacil saja juga boleh, tak masalah.</p>
<p><strong>Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini?</strong><br />
nah, sebetulnya setelah rentetan aktivitas selesai, saya kini sibuk mencari kesibukan. walaupun sebenarnya saya tak mengerti betul apa itu artinya sibuk dan kesibukan. terus²an tidurpun mungkin bisa diartikan sebagai tengah sibuk tidur.</p>
<p><strong>Bagaimana pendapat Anda tentang Pemilukada di Kalimantan Selatan yang baru berlalu?</strong><br />
sederhana saja, masyarakat telah menentukan pilihannya. siapapun itu harus dihargai. out-put dari proses politik itulah yang kini harus kita kawal bertahun-tahun ke depan. itu saja.</p>
<p><strong>Apa pendapat Anda tentang isu money politics yang berkembang?</strong><br />
hahaha&#8230; bicara money politic adalah seperti bicara hantu, dan saat ini saya tidak tertarik bicara soal hantu. yang pasti, saya dan banyak orang tidak bisa membendung jika memang praktik itu ada. lagi pula, ada atau tidaknya praktik itu bukanlah menjadi masalah. setiap kandidat akan berusaha dengan berbagai cara untuk meraih kemenangan. saya lebih tertarik pada sisi masyarakat, memilih dengan pertimbangan yang sehat atau karena transaksi ekonomi recehan.</p>
<p><strong>Maksudnya, Anda tidak mempermasalahkan praktik tersebut atau malah menyalahkan masyarakat? dalam hal ini pemilih. Apa pula dengan maksud recehan itu?</strong><br />
pertama soal recehan. anggap saja kita memilih karena dibayar uang sejumlah 100ribu. maka kita sudah terbeli selama 5 tahun hanya sekitar senilai 50 rupiah perhari. ini adalah penghinaan besar, manakala sebenarnya harga diri itu tak terbeli. saya tidak menyalahkan pemilih, persolannya adalah ada sistem yang tidak jalan, ada contoh yang tidak benar, dll. ini semua kompleks, tidak bisa selesai dalam 1 kali pemilu. dari pada bicara money politics, lebih baik bicara bagaimana mencerdaskan para pemilih dalam tempo sesingkat-singkatnya. itu jauh lebih penting.</p>
<p><strong>Oke, kita sudahi masalah itu. Bagaimana pendapat Anda tentang isu-isu yang akhir-akhir ini mengemuka di tengah masyarakat?</strong><br />
hahaha&#8230; isu yang mana dulu yang dimaksudkan? karena banyak isu yang beredar. satu-satunya isu yang dapat saya pastikan kebenarannya serta saya gemari adalah isu lagunya Ebiet G. Ade. hahaha&#8230;.</p>
<p><strong>Hahaha&#8230; sepertinya Anda penggemar Ebiet. Baiklah, isu nasional, atau bahkan mungkin isu internasional</strong><br />
tidak, tidak, jangan. saya bukanlah seseorang yang tau apalagi mengerti tentang semua hal, apalagi saya bukan superman. saya sangat memiliki keterbatasan dan mustahil bisa bicara tentang semua hal. indonesia ini terlalu luas buat saya. banyak ahli yang bisa bicara sesuai dengan kapasitasnya, selebihnya, saya hanya bisa menyampaikan harapan. itu saja.</p>
<p><strong>Baiklah. mmm&#8230; paling tidak, bagaimana tanggapan Anda tentang heboh video yang katanya mirip selebritis Indonesia itu?</strong><br />
hahahaha&#8230; ini lagi, bagi saya ini adalah persoalan amat sangat klasik. pembunuhan pertama di dunia ini adalah karena persoalan terkait hasrat atau nafsu. tau cerita tentang habil dan qabil kan? nah, apa yang harus saya kagetkan? tidak ada. bagi saya, itu adalah persoalan pemahaman dan penempatan saja. memahami dan menempatkan otak, hati dan kelamin. itu saja. sebagaimana guru saya pernah bilang.</p>
<p><strong>Maksudnya?</strong><br />
begini, otak itu letaknya di kepala, dekat dengan mata dan telinga. maka seyogyanya respon pertama dari apa yang kita lihat dan dengar adalah datang dari otak. kita harus cerna. lantas turun ke bawah, ke hati, dan masuk lebih dalam. hal tersebut kita renungkan menggunakan hati, sebab itulah hati letaknya jauh tersembunyi, agar dalam perenungan tidak banyak gangguan. baru kemudian hasil akhirnya serahkan pada kelamin. yang walaupun letaknya sangat terbuka, tidak macam otak dan hati, namun justru tantangannya lebih besar, yakni kapan harus menggunakannya atau kapan harus menunjukkannya. yang tentu saja tidak pada setiap waktu dan kesempatan.</p>
<p><strong>Mungkin bisa diperjelas, apa maksud Pakacil sebenarnya?</strong><br />
hahaha.. saya mohon maaf kalau kurang jelas, karena saya sendiri kadang bingung bagaimana membahasakannya. yang jelas maksudnya adalah, jika semuanya itu sudah sesuai, maka tidak akan ada masalah. tapi jika muncul masalah, artinya ada sesuatu yang tidak benar pada otak, hati dan kelamin. bisa jadi ini bahasa simbol.</p>
<p><strong>Jika ditilik dari perspektif hukum, bagaimana menurut Pakacil?</strong><br />
hahaha&#8230; soal hukum serahkan pada ahlinya, dan itu bukan saya. bagi saya, yang penting sudah terbukti bukan saya, selesai perkara. hahaha&#8230; lagi pula saya tidak tertarik pada masalah itu. biarlah mekanisme hukum berjalan.</p>
<p><strong>Anda percaya pada mekanisme hukum?</strong><br />
bukan soal saya percaya atau tidak. melainkan aparat dan proses penegakan hukum dapat dipercaya atau tidak. jalankan dulu proses hukum, untuk apapun itu, baru kemudian dapat kita putuskan untuk percaya atau tidak. jadi, kalau ada aparat penegak hukum yang bilang percayakanlah pada hukum, maka bagi saya itu ucapan yang terlampau dini, mendahului waktu dan mendahului proses. sebab kepercayaan itu akan lahir dari proses, dengan sendirinya.</p>
<p>===<br />
Sampai disini, telpon saya berbunyi, lantas saya melakukan pembicaraan dengan seseorang dan belahan lain di pulau Kalimantan ini, sehingga intervew terhenti sejenak. Tentu saja setelah saya mohon ijin sebentar untuk melakukan pembicaraan via telpon.<br />
===</p>
<p>Perbincangan berlanjut setelah saya selesai menerima telpon, dengan beragam topik lainnya, yang nanti akan termuat pada <strong>Interview with Pakacil (Part II)</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/interview-with-pakacil-part-i/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kali ini Saya Grogi</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/kali-ini-saya-grogi</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/kali-ini-saya-grogi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 21:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[grogi]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel Kalimantan Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[Benar teman, saya tidak membuat-buat, sudah sekian lama saya tidak menengok halaman milik sendiri ini, apalah lagi login ke halaman dashboard. Kali ini benar-benar membuat saya grogi, entah kenapa, saya sama sekali tidak mengerti. Yang jelas, walau dagdigdug-nya tidak sedahsyat sewaktu menghadap calon mertua, tetap saja ada perasaan yang berbeda. Heran. ah… itu gambar di atas sekedar ruangan tempat saya berada sehari-hari, yang pintu masuknya berjarak sekitar 3.5m dari pintu kamar tidur saya. Itu gambar dalam keadaan setengah beres dan tidak beres, sebelum menyelesaikan layanan bagi salah satu perpustakaan daerah di Kalimantan Selatan.  ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Benar teman, saya tidak membuat-buat, sudah sekian lama saya tidak menengok halaman milik sendiri ini, apalah lagi login ke halaman <em>dashboard</em>. Kali ini benar-benar membuat saya grogi, entah kenapa, saya sama sekali tidak mengerti. Yang jelas, walau dagdigdug-nya tidak sedahsyat sewaktu menghadap calon mertua, tetap saja ada perasaan yang berbeda. Heran &#8230;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;">Begitu sudah login, banyak yang harus dilakukan, tidak hanya mengahapus itu banyaknya SPAM, update sekian plugin yang ternyata banyak yang harus diupdate. dst&#8230; dst&#8230; nanti pada gilirannya akan langsung membalas komentar kawan-kawan yang ada.<br />
<img class="size-full wp-image-925 aligncenter" title="Pakacil Banjarbaru" src="http://pakacil.com/file/2010/05/showtime_1.jpg" alt="Pakacil Banjarbaru" width="500" height="188" /><br />
<span id="more-924"></span><br />
ah&#8230; itu gambar di atas sekedar ruangan tempat saya berada sehari-hari, yang pintu masuknya berjarak sekitar 3.5m dari pintu kamar tidur saya. Itu gambar dalam keadaan setengah beres dan tidak beres, sebelum menyelesaikan layanan bagi salah satu perpustakaan daerah di Kalimantan Selatan. Layanan untuk online dan offlinenya. Terima kasih saya kepada Telkom Indonesia, c.q. Telkom Banjarbaru atas kepercayaannya.</p>
<p>Selain itu, bersama <a href="http://manusiasuper.wordpress.com" target="_blank">manusiasuper</a>, saya berkeliling sejumlah sekolah di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nekad bicara soal internet sehat dan blogging, kerja sama dengan Telkomsel Kalimantan Selatan. Walau kadang pada beberapa kesempatan, akibat kesibukan, saya terpaksa membiarkan <strong>manusiasuper</strong> sendiri berada ditengah-tengah para siswi.</p>
<p>Tahukan teman, apakah yang paling menyenangkan? ya itu&#8230; berada di tengah-tengah para siswi-siswi SMA. Terima kasih saya untuk Telkomsel Kalimantan Selatan atas hal ini.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kedipan.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_926" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-926" title="Sosialisasi Internet Sehat Bersama Telkomsel" src="http://pakacil.com/file/2010/05/showtime_2.jpg" alt="Sosialisasi Internet Sehat Bersama Telkomsel" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Itu Saya yang lagi Sosialisasi Internet Sehat &amp; Blogging Bersama Telkomsel</p></div>
<p>Dalam kaitannya dengan hal ini, respon dan atensi yang luar biasa terhadap substansi, saya berikan nilai tertinggi kepada SMKN 2 Banjarmasin. Sungguh luar biasa.</p>
<p>Pada sebuah kesempatan lain, saya akhirnya sempat juga tak mampu menahan diri dan akhirnya &#8220;meledak&#8221; dan lantas bicara apa adanya. Kejadian ini saat saya berada di SMAN 1 Banjarmasin. Bukan karena malamnya saya hanya tidur dan beristirahat selama satu jam, namun lebih karena sikap. Dari awal kegiatan, yang dimulai oleh pihak Telkomsel, lantas wakil kepala sekolah mereka sendiri, sungguh miris saya menyaksikannya. Secara otomatis saya teringat jaman SMA dulu, senakal-nakalnya kami, rasanya tidak mempertontonkan sikap seperti itu.</p>
<p>Namun, sudahlah&#8230; semoga saja semua berubah menjadi lebih baik, toh tidak ada jaminan kalau sayapun lebih baik dari mereka. Saya pun bergegas keluar ruangan setelah sesi saya berakhir, terduduk sendiri dengan sedikit penyesalan, kenapa sampai harus &#8220;meledak&#8221;.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kesel.gif' alt=':hehh:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Waktu terus berjalan, Banjarbaru juga tetap seringkali panas menyengat.<br />
Banjarbaru juga tengah menyongsong Pemilukada. ah&#8230; ramainya&#8230;.</p>
<div id="attachment_927" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-927" title="Visi-Misi Walikota Banjarbaru" src="http://pakacil.com/file/2010/05/showtime_3.jpg" alt="Visi-Misi Walikota Banjarbaru" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Nonton Calon Walikota</p></div>
<p>Setelah malam sebelumnya, sekitar jam 23.30 WITA,  mendapat telpon dari seorang Calon Walikota Banjarbaru, saya bergerak menuju sebuah lokasi dengan membawa setumpuk kertas. Lantas duduk manis menyaksikan finalisasi. 01.30 wita, dini hari, pulang ke rumah.</p>
<p>Esok harinya, akhirnya saya memilih untuk menghadiri pemaparan visi-misi Calon Walikota Banjarbaru, bertempat di ruang sidang paripurna DPRD Banjarbaru. Tuu&#8230; disamping ada foto saya yang lagi nonton.</p>
<p>Dua kali lagi, agenda menyaksikan dan memperhatikan debat kandidat bakal kepala daerah Kota Banjarbaru. Tak sampai 1 bulan lagi, masyarakat Banjarbaru akan memilih pemimpinnya. Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru untuk 2010-2015. Sementara saya hanya tetap berusaha untuk menjadi saya. Salah satunya saya yang secara perlahan-lahan sudah kehilangan rasa grogi berada di area dashboard blog sendiri.</p>
<p>Saya yang tetap berusaha mempertahankan apa yang saya yakini:<br />
Jika berada pada sebuah sistem yang rusak/tidak benar, maka perbaikilah. Kalau tak sanggup maka tinggalkanlah. Kalaupun masih tak sanggup, maka hancurkanlah (rekonstruksi).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/kali-ini-saya-grogi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawar Menawar Harga Pas</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 22:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pembeli]]></category>
		<category><![CDATA[penjual]]></category>
		<category><![CDATA[untung rugi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[<p>2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/03/tunjukin.jpg" alt="" title="tunjukin harganya !!!" width="100" height="100" class="alignleft size-full wp-image-911" />2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal antara penjual yang sedang bangun dan pembeli yang bukan saya.</p>
<p>Tangannya memegang roti, tangan itu pembeli maksudnya. Bertanyalah ia, tentu kepada penjual, &#8220;berapa ini harganya?&#8221;. Lalu itu penjual menyahut dengan santai, &#8220;itu ada harganya, di bungkusnya&#8221;. Lantas saya interupsi-lah itu penjual dengan pesanan 2 kotak minuman dingin dan 2 pak barang yang selalu disertai peringatan pemerintah minus peringatan DPR-RI itu. Interaksi mereka berlanjut. 2 orang itu. Bukan saya. saya cuma mendengar dan memperhatikan.<br />
<span id="more-900"></span><br />
&#8220;Oh iya&#8230; ini harganya Rp 1500,-. Jadi kembalian punya saya sisa Rp 1000,-&#8221;, pembeli punya suara sambil menghitung kembaliannya sendiri. Turut membantu mungkin niatnya.<br />
&#8220;Berapa harganya?&#8221;, penjual malah tanya sama pembeli, dan percayalah sodara, ini hal bikin saya bingung. Penjual tanya harga barang sama pembeli.</p>
<p>&#8220;Seribu lima ratus&#8230;&#8221;, ucapnya lagi.<br />
&#8220;mana? 1500?&#8221;, itu yg jual seperti tak percaya.</p>
<p>&#8220;iya ini tulisannya 1500&#8243;, berusaha meyakinkan rupanya. Namun jempolnya kemudian bergerak, dan membuat tulisan harga agak terlindungi. Namun tenang, mata saya rupanya cukup terlatih dalam urusan lirik melirik.</p>
<p>&#8220;sini&#8230;&#8221;, itu penjual ambil bungkusan roti dari tangan pembeli, memperhatikan bungkusnya, tak lama kemudian berucap, &#8220;mana 1500-nya&#8230; ini harganya 3500 (tiga ribu lima ratus)&#8221;.</p>
<p>Sungguh sodara, saya menahan tawa. Saya ulangi ya&#8230; biar meyakinkan. Sungguh&#8230; saya menahan tawa, karena mata saya secara lincah melihat dan memperhatikan itu bungkusan roti, dengan jelas tertera harga hasil print-out komputer, tercetak tebal alias bold, menggunakan font sejenis Arial, dengan ukuran setidaknya 10px. Tercetak jelas harganya, <strong>3000</strong> !!!<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Percayalah, antara pembeli dan penjual itu punya satu kesamaan, yakni sama-sama cari untung, paling kurang sama-sama tidak mau rugi.</p></blockquote>
<p>Keterlaluan sekali saya ini, malah maunya tertawa, bukannya ikut bantu menyelesaikan. Tapi ya, saya pikir-pikir itu soal sederhana saja, mungkin hanya karena malam hari, lantas agak-agak kabur pandangannya dalam membaca angka-angka yang tertera jelas. Lagi pula, saya meyakini, itu tawar menawar, bargaining, kompromi, atau apapun namanya, untuk kelas begini ini jauh lebih mudah, demikian pula kalau belanja dipasar.</p>
<p>Hal yang sulit itu kalau proses tawar menawarnya berlangsung di/atau menyangkut pusat kekuasaan. Bargaining-nya bakal alot. Naik turunnya jauh susah. Bisa berlapis-lapis layar yang menutupinya. Lantas, kenapa tidak saya nikmati saja proses yang menarik tersebut? Karena jauh lebih mudah dinikmati dari pada proses tawar menawar semisal terkait century dan sejenisnya.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_cool.gif" alt="" title="kuuuul" width="44" height="42" class="alignnone size-full wp-image-389" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terpaksa Merubah Rencana</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 09:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Guskar]]></category>
		<category><![CDATA[karawang]]></category>
		<category><![CDATA[nakjaDimande]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya mampir ke kantor polsek yang terdekat dengan rumah target dan melakukan sedikit pembicaraan dengan bapak/ibu polisi yang ada di Polsek tersebut. Melalui sebuah pengaturan dan berbagai alasan, targetnya adalah harus berhasil mendatangkan target ke kantor polsek dengan prinsip ada masalah yang harus diselesaikan. Antara dua saja, kalau tidak saya, maka target yang bermasalah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-756" title="Pakacil dan Guskar lagi Salaman © www.pakacil.com" src="http://pakacil.com/file/2009/09/salaman.jpg" alt="salaman © www.pakacil.com" width="83" height="100" />Saya mampir ke kantor polsek yang terdekat dengan rumah target dan melakukan sedikit pembicaraan dengan bapak/ibu polisi yang ada di Polsek tersebut. Melalui sebuah pengaturan dan berbagai alasan, targetnya adalah harus berhasil mendatangkan target ke kantor polsek dengan prinsip ada masalah yang harus diselesaikan. Antara dua saja, kalau tidak saya, maka target yang bermasalah. Soal ini tergantung situasi di lapangan.</p>
<p>Namun, setelah selesai melakukan cross check alamat target, saya jadi pesimis bahwa rencana di atas itu akan berhasil. Analisis tersebut di dasarkan pada salah satu kata pada nama komplek alamat target. Sederhananya, saya sangat tidak yakin kalau pak polisi berani. Terlebih lagi apa yang disampaikan oleh sopir taksi pada saya. Sopir yang mengantarkan saya itu bilang &#8230;<br />
<span id="more-901"></span><br />
&#8220;duh&#8230; sulit kalau taksi Jakarta masuk daerah Karawang. Bisa-bisa harus berurusan dengan polisi&#8221;, ucap pak sopir yang duduk di depan, sewaktu saya ajak dia jalan-jalan ke Karawang dari Depok. Jelas sudah, rencana di awal tulisan ini tidak mungkin dilakukan. Akan jatuh korban yang tidak perlu hanya demi mengejar rencana &#8220;bikin korban&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"> <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-902" title="nakjaDimande &amp; Guskar" src="http://pakacil.com/file/2010/02/bundo_guskar.jpg" alt="nakjaDimande &amp; Guskar" width="197" height="196" />Sabtu siang, saya meluncur dari Banjarbaru dan pada Sabtu malamnya langsung menghadiri sebuah acara di Antam, nun jauh di Ibukota sana. Pada minggu sore saya meluncur dari Depok menuju Karawang. Sepanjang perjalanan, saya kerap kali melakukan komunikasi dengan seorang <em>partner in crime</em>, untuk memastikan keberadaan target di lokasi. Karena gak lucu aja, begitu sampai ternyata malah yang bersangkutan tidak ada di rumah. Memangnya Banjarbaru &#8211; Martapura, yang bisa ditempuh kurang dari 10 menit !!!</p>
<p>Karena sudah dikabarkan, bahwa saya akan menjadi seorang kurir pengantar kue oleh <a title="Seorang dokter gigi nun jauh di Bukit nan Tinggi" href="http://nakjadimande.com/" target="_blank"><strong>Bundo nakjaDimande</strong></a>, makanya kemudian itu kue yang saya bawa dari Banjarbaru, saya bagi dua saja di Depok. Tujuannya tentu saja supaya tidak membuat beliau berbohong secara tidak sengaja.<br />
<span class="blok">Proses perencanaan ini sudah diceritakan Bundo pada <a title="katanya bundo, guskar gusar..." href="http://nakjadimande.com/2010/02/22/guskar-gusar/">halaman ladang jiwa beliau</a></span><br />
Sore hari, saya sampai di Karawang, di depan rumah <a title="_blank" href="http://guskar.com"><strong>Guskar</strong></a>. Saya pencet itu bel beberapa kali, tak ada yang keluar. Saya pergi ke tetangga Guskar, tanya apa itu benar rumah Guskar. Benar kata mereka. Akhirnya ya sudah, saya telpon saja, bilang kalau pengantar kue sudah datang. Guskar muncul dan membukakan pintu lantas mempersilakan masuk. Untung saya dipersilakan masuk, bayangkan saja kalau beliau tiba-tiba bertanya, &#8220;cuma ngantar titipan kue dari Bundo kan?&#8221;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_no.gif' alt=':nono:' class='wp-smiley' /><br />
<span class="blok">Guskar juga sudah bercerita tentang <a title="Guskar bilang, kurirnya sudah datang" href="http://guskar.com/2010/02/22/kurirnya-sudah-datang/">kejadiannya pada PadebloganKyaine beliau</a></span><br />
Setelah lebih dari pukul 19.00 WIB, saya masih mengenakan celana pendek dan kaos, meluncur meninggalkan kediaman Guskar, untuk kembali ke Jakarta dengan membawa serta sebuah buku hadiah dari Guskar. Untungnya, sewaktu diperjalanan menuju Karawang, sudah berkatalah saya kepada itu pak sopir yang duduk di depan, yang pegang kemudi supaya lancar jalannya, &#8220;bos&#8230; tunggu aja ya sebentar, nanti saia ikut balik ke Jakarta. Cuma aturan mainnya kita sepakati dulu, itu argo kita matikan saja. Lumayanlah, dari pada situ pulang sendirian, bengong, gak ada temen ngobrol?&#8221;. Pak Sopir bilang setuju sama itu penumpang. Sudah tau kan siapa penumpangnya?</p>
<p style="text-align: center;"> <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Perjalanan kali ini memang mengalami banyak perubahan. Tadinya benar² berniat dan berencana untuk juga meluncur ke Sumatera. Namun tiba² arah akan dirubah ke Malang, sehingga jalur berubah dari Karawang langsung ke Bandung untuk istirahat sebentar lantas terus ke Malang. Namun, dalam perjalanan menuju Karawang, saya mendapatkan kabar yang konsekuensinya harus langsung pulang ke Banjarbaru. Akhirnya rute berubah dengan serta merta, langsung kembali ke Jakarta sehabis menyerbu Karawang. Karena dari dulu memang tak begitu suka keliling ibukota, jadinya saya hanya tiduran di kamar hotel menunggu waktu untuk bersua lagi dengan para pramugari.</p>
<p>Terima kasih kepada <a title="Seorang dokter gigi nun jauh di Bukit nan Tinggi" href="http://nakjadimande.com/" target="_blank">Bundo nakjaDimande</a>, atas segala bantuannya. Ijinkanlah saia untuk mengingat-ingat janji saya, apakah berjanji untuk <span style="text-decoration: underline;">tidak ngerjain bundo</span>, ataukah berjanji <span style="text-decoration: underline;">tidak akan ngerjain bundo dengan cara yang sama</span>. Karena memang pengertian dua hal ini jauh berbeda.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_pikirkan.gif' alt=':think:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terima kasih dan permohonan maaf kepada <a title="Pemilik PadebloganKyaine - Satu Blog Seribu Hikmah" href="http://guskar.com" target="_blank">Guskar</a>. Jika memang Guskar marah, mohon kutuk saya biar banyak rejeki buat bisa jalan-jalan ke banyak kawan-kawan. Itu saja&#8230;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekarang, saya sudah di rumah lagi&#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru lagi<br />
setelah 2 hari ditinggalkan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kereta Api Kalimantan Masih Aman</title>
		<link>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman</link>
		<comments>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 17:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usul Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api trans kalimantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pemerintah masih mengkaji wacana pembangunan jalur transportasi kereta api lintas Kalimantan hingga 20 tahun ke depan. &#8220;Tadinya, paling tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, namun masih akan terealisasi tahun 2030. Tetapi studi kelayakannya diharapkan jangan terlalu lama,&#8221; kata Usman Ja&#8217;far, anggota DPR RI, usai rapat dengar pendapat di Komisi IV. Marah? kesel? merasa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/kereta_api.png" alt="" title="kereta api trans kalimantan" width="100" height="100" class="alignright size-full wp-image-909" />Pemerintah masih mengkaji wacana pembangunan jalur transportasi kereta api lintas Kalimantan <strong>hingga 20 tahun</strong> ke depan. &#8220;Tadinya, paling tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, namun masih akan terealisasi tahun 2030. Tetapi studi kelayakannya diharapkan jangan terlalu lama,&#8221; kata Usman Ja&#8217;far, anggota DPR RI, usai rapat dengar pendapat di Komisi IV.<br />
<span class="blok">Marah? kesel? merasa ditaruh belakangan? Oww&#8230; tidak&#8230; tidak perlu.<br />
Saya justru sedikit merasa lega, karena di Kalimantan <strong>tidak akan terjadi kecelakaan yang melibatkan kereta api</strong>, setidaknya hingga 20 tahun yang akan datang. Lumayan, masih aman.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_ngupil.gif" alt="" title="pakacil serius" width="45" height="37" class="alignnone size-full wp-image-409" /></span><br />
<span id="more-896"></span><br />
Sumber: <a href="http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&#038;id=57810" title="Kereta Api Trans Kalimantan Tunggu 2 Dekade Lagi" target="_blank">Kereta Api Trans Kalimantan Tunggu 2 Dekade Lagi</a> (JPNN)</p>
<p>Catatan khusus:<br />
baru sadar, kategori <a href="http://pakacil.com/category/usul-asal-usil">Usul Asal Usil</a> cukup lama tak tersentuh.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piring</title>
		<link>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring</link>
		<comments>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 16:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[air mata]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[piring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka&#8221;. &#8220;Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya&#8221;.</p> <p>&#8220;Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin&#8221;. &#8220;Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia&#8221;.</p> <p>&#8220;Bapak artinya juga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/burung_terbang1.jpg" alt="" title="burung_terbang" width="100" height="100" class="alignleft size-full wp-image-910" />&#8220;Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka&#8221;.<br />
&#8220;Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin&#8221;.<br />
&#8220;Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bapak artinya juga tidak suka dikurung ya Bu ?&#8221;<br />
Sang ibu tertegun sejenak. Sesaat pandangannya menerawang. Jauh menembus dinding papan rumah sewaan ia dan anaknya yang satu-satunya itu. &#8220;Sudahlah Min. Kamu lapar kan ? Ibu masak dulu ya&#8221;.</p>
<p>Anak kecil yang bernama Amin itu kini berlari menuju lapangan di mana ia biasa berkumpul dengan teman sebaya. Menghabiskan waktu kecil dengan begitu bahagia. Syaifullah Aminuddin, begitu nama lengkapnya. Dengan bangga ia menceritakan arti namanya kepada orang-orang yang ditemuinya, apabila mereka menanyakan nama lengkapnya.<br />
<span id="more-883"></span><br />
Amin, sudah sekitar 5 tahun ini ia berada dalam pangkuan ibunya sejak dilahirkan dan lebih dari separuh usia itu betul-betul dihabiskan bersama sang ibu. Sang bapak, Rahmat Sabir, terpaksa mendekam di penjara dan menjadi seorang narapidana untuk waktu yang lama. Sebuah kejahatan yang terpaksa menyebabkan ia tidak bisa menyaksikan sang anak untuk pertama kalinya mengenakan seragam sekolah, serta  baru dapat menyaksikan anaknya manakala sudah mengenakan pakaian seragam abu-abu putih.</p>
<p>Berhari, berminggu dan bertahun telah lewat sejak peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Rahmat Sabir. Kini Amin sudah beranjak besar. Itu semua jelas diketahuinya saat Amin datang bersama sang ibu, istrinya yang setia, yang menjenguknya di LP secara rutin. Ia cukup bahagia bisa menyaksikan Amin yang kian besar dan semakin banyak saja ucapan dan tingkahnya yang khas anak-anak.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, Bu. Kau terpaksa seperti ini. Bagaimana aku dapat membalas ini semua? Kau istriku, tapi aku telah menyia-nyiakanmu begitu rupa&#8221;, Pak Sabir berkata suatu ketika.<br />
&#8220;Apa yang Kau bicarakan, Pak ? Sudahlah, tidak usah lagi bicara begitu. Bicaralah dengan anak kita. Ia sudah semakin besar, semakin sering memanjat-manjat pohon mangga tetangga kita&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pohon mangga yang mana, Bu? Tetangga yang mana, Bu?&#8221;.<br />
&#8220;Itulah Pak, yang sebetulnya ingin ku kabarkan padamu kali ini&#8221;.</p>
<p>&#8220;Mengenai apa, Bu?&#8221;<br />
&#8220;Apa yang pernah kita bicarakan tempo hari jadi kenyataan, Pak. Kita sudah tidak sanggup lagi kalau harus membayar sewa rumah kemarin. Dua hari yang lalu, aku pindah dari rumah kita yang dulu. Lumayan, dengan rumah yang sekarang kita makin bisa menghemat pengeluaran&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bu&#8230; maafkan aku&#8221;. Hanya kalimat pendek itu yang terlontar dari mulut Pak Sabir. Kemudian ia menundukkan kepala sedemikian menutupkan wajahnya ke kedua tangannya yang bersilang di atas meja.</p>
<p>Sebuah belaian halus menyentuh tidak hanya rambut Pak Sabir, melainkan juga ketegarannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa dan harus mengandalkan sang istri untuk membesarkan anak tunggal mereka.</p>
<p>&#8220;Bapak sakit ya Bu?&#8221;<br />
&#8220;Ah tidak, Bapak cuma agak masuk angin. Kan di sini udaranya dingin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kata ibu, biar tidak masuk angin, Amin tidurnya harus pakai sarung. Bapak pakai sarung apa tidak?&#8221;<br />
&#8220;Sudah Nak, Bapak sudah pakai. Cuma udara sangat dingin. Lebih dingin dari yang di rumah mungkin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Angin di sini dengan yang di rumah berbeda ya Pak?&#8221;</p>
<p>Pak Sabir hanya tertawa mendengar pertanyaan sang anak. Tangannya bergerak menjangkau Amin untuk kemudian menariknya ke dalam pelukan. </p>
<p>&#8220;Kau semakin besar, Nak. Maafkan Bapak, kau harus melihat Bapak dalam keadaan seperti ini, yang siapapun di antara kita bertiga tidak ada yang membayangkannya apalagi mengharapkannya&#8221; , Pak Sabir membatin sembari merangkul Amin.</p>
<p>Tanpa sadar, setetes air mata jatuh tepat di atas kepala Amin. Air mata dalam keadaan seperti itu memang memiliki makna yang tidak hanya dalam, tapi juga agung. Seandainya saja semua orang memiliki air mata seperti itu, maka tidak ada apapun di dunia ini melainkan kedamaian, serta kasih sayang yang sejati.</p>
<p>Waktu berkunjung telah habis. Amin dan ibunya melangkah keluar. Amin mencium tangan sang bapak, istri mencium tangan suami. Semua kembali ke tempat semula. Pak Sabir harus kembali ke sel, sementara istri dan anaknya harus kembali melanjutkan kehidupan di luar tembok yang sekarang mengeliling Pak Sabir.</p>
<p>Belum lagi genap langkah istrinya lenyap dari pandangan, Pak Sabir sudah harus kembali ke selnya semula.</p>
<p>&#8220;Istrinya lagi, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Iya, mau dijenguk siapa lagi? mereka berdua adalah satu-satunya yang paling berharga di dunia ini. Mungkin mengalahkan kebebasanku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aduh Pak Sabir ini. Kita sudah lama sama-sama berada di dalam. Bagaimanapun kebebasan adalah impian kita. Setidaknya saat ini&#8221;.<br />
&#8220;Kau tidak merasakannya mungkin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bisa jadi, Pak. Mungkin kebiasaan lama saya menyebabkan saya tidak begitu memperhatikan keluarga. Tapi saya sekarang benar-benar mau insaf, Pak. Sudah capai rasanya hidup seperti itu. Saya besar dan hidup dari jalanan yang sangat dekat urusannya dengan tempat sumpek seperti ini. Bapak kan beda, Pak Sabir dulunya kan kerja di sekolahan, . Eh, ngomong-ngomong, Pak Sabir mau kan mengajar saya membaca? mau kan, Pak?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi kan saya cuma pesuruh biasa di sekolahan itu. Tapi&#8230; jadi selama ini belum bisa membaca? Kalau menulis?&#8221;.<br />
&#8220;Bagaimana sih Bapak ini, orang membaca saja lewat, bagaimana mau menulis? Waaah Pak Sabir sudah pusing ya?&#8221;, katanya sambil tergelak riuh.</p>
<p>&#8220;Iya, iya. Kenapa selama ini kamu tidak mengatakannya?&#8221;<br />
&#8220;Malu, Pak. Punya anak buah banyak, ee&#8230; urusan membaca saja lewat. Tapi Bapak mau kan mengajar saya. Jadi guru saya di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yahh, tergantung&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;Tergantung apa, Pak? Gaji ya?&#8221;.<br />
&#8220;Sudah tahu, kan?&#8221;</p>
<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/penjara.jpg" alt="penjara" title="penjara" width="250" height="195" class="alignright size-full wp-image-893" />Keduanya kemudian lantas tertawa lepas berdua. Kadang-kadang, dan seringkali kalau tidak yang terutama, kemampuan menghibur diri sendiri atau bahkan teman satu sel sangat berarti dalam menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa bosan dan ketertekanan.</p>
<p>Kalau sudah tertawa seperti itu rasanya memang semua beban hidup lepas, pergi bersama getaran tawa. Mereka yang bertahan dalam keadaan seperti itulah yang sesungguhnya orang yang lebih mengerti mengenai makna kesabaran dan ketabahan terutama arti kebebasan. Walaupun untuk menghibur diri, di antara sesama orang dalam sering terdengar lontaran mengenai kebebasan. </p>
<p>Bahwa mereka yang senasib ini sesungguhnya memiliki kebebasan yang luar biasa. Mereka bebas untuk melamun, bebas untuk menghibur diri, bebas untuk tertawa tegelak-gelak dan banyak kebebasan lain yang tentu saja untuk menghibur diri dan bukannya memberikan ceramah mengenai kebebasan kepada semua orang yang sering kali justru semua ceramah tentang kebebasan itu adalah pelajaran mengenai keterbelengguan.</p>
<p>Sementara itu, Amin tengah asyik bermain-main dengan teman-temannya di lapangan biasanya. Sebuah lapangan voli kampung yang suatu saat menjelma menjadi lapangan sepak bola anak-anak, dan pada saat yang lain akan menjelma menjadi sarana yang lain sesuai dengan kesepakatan bocah-bocah kecil dengan jiwa-jiwa yang merdeka itu. </p>
<p>Mereka bersepakat untuk melakukan sebuah permainan, bersepakat mengenai aturan-aturan permainan dan bersepakat untuk menegakkan aturan itu dengan berbagai sangsi yang sesuai dengan jiwa anak-anak mereka, manakala ada teman yang dihukum, sebagian besar teman-teman yang tidak mendapat sangsi merasa mendapat kesempatan untuk menjadikannya bahan lelucon.</p>
<p>Namun hebatnya, jarang sekali yang berujung kepada perkelahian secara fisik, sebab yang dijadikan bahan lelucon akan berusaha sekuat tenaga untuk membalas kekalahan untuk kemudian memiliki kesempatan pula melakukan serangan balasan dalam hal olok-olok anak kecil. Mereka semua bahagia, mereka semua tertawa. Amin juga bahagia, Amin juga tertawa. Namun kini rupanya Amin merasa lapar. Ia pamit kepada kawan-kawannya untuk pulang.</p>
<p>&#8220;Mau makan dulu, aku lapar&#8221;, jawab Amin saat ditanya oleh teman-teman sepermainan.<br />
&#8220;Huuu, ya sudah. Kita sekalian bubar. Aku juga mau mandi dulu. Berenang di kali yuk.., kan segar&#8221;, kata seorang teman.</p>
<p>Permainan sore itu bubar. Semua persoalan kalah dan menang sudah dihabiskan sore itu juga. Seandainya ada yang menginginkan permainan dilanjutkan, itu semua akan dibicarakan bersama-sama oleh mereka untuk kemudian bersepakat.</p>
<p>&#8220;Bu, Amin mau makan, Amin lapar, Bu&#8221;, seru Amin sambil mencari ibunya yang tidak ditemuinya di dapur kecilnya.</p>
<p>Amin mendapatkan ibunya tengah berjalan ke arahnya sambil membawa segelas teh yang tinggal berisi separuhnya. &#8220;Bu, Amin mau makan&#8221;, ulangnya.</p>
<p>&#8220;Amin kan sudah besar, coba Amin ambil sendiri piringnya, bisa kan?&#8221;<br />
&#8220;Iya, Bu&#8221;, Amin beranjak menuju sebuah meja kecil dan mengambil sebuah piring dan membawanya ke ibunya untuk diambilkan nasi.</p>
<p>&#8220;Makan yang banyak ya, biar Amin cepat besar. Lebih besar dari sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Ibu sudah makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya ini, Ibu kan makan bersama Amin&#8221;.<br />
&#8220;Bu, Bapak makannya enak ya? kan disediakan kata Bapak&#8221;.<br />
&#8220;Ibu juga kurang tahu, Nak. Sudahlah, nanti kamu sakit kalau makan sambil bicara&#8221;.</p>
<p>Di tempat lain, Pak Sabir tengah menikmati jatah makan sore itu. Kali ini menu yang tersedia adalah sepotong kecil ikan asin, serta sayur yang lebih banyak kuahnya.</p>
<p>&#8220;Walaupun menu sama, jelas lebih enak makan di rumah bersama anak istri, iya kan?&#8221;<br />
&#8220;Ah, Pak Sabir. Masih saja suka berkata begitu. Nanti malah jadi pikiran, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Cuma membayangkan saja&#8221;.<br />
&#8220;Walaupun begitu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Seandainya kejadiannya tidak seperti saat itu, mungkin akan sangat berbeda sekali dengan saat ini&#8221;.<br />
&#8220;Maksud Pak Sabir?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Seandainya aku tidak memukulkan palu itu ke kepalanya, seandainya aku tidak membunuh mereka&#8221;.<br />
&#8220;Sudahlah, Pak. Semua sudah terjadi. Buat apa diingat-ingat lagi. Kata orang-orang itu semua sudah menjadi takdir, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sekarang aku menjadi orang yang sangat tidak berguna. Menyusahkan anak dan istriku, membuat mereka menderita begitu rupa, belum pernah memberikan kebahagiaan yang seutuhnya&#8221;.<br />
&#8220;Kan nanti kita semua juga bebas, Pak. Ada kesempatan untuk menebusnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?&#8221;<br />
Sekarang sang kawan hanya diam.</p>
<p>Hari berlalu, sebagaimana biasa istri Pak Sabir dan anaknya Amin datang berkunjung. Masih seperti yang sudah-sudah, kali ini tetap membawakan nasi putih dengan ditemani beberapa potong tahu dan tempe goreng, sambal dan lalap. Sederhana dan bersahaja, juga penuh makna.</p>
<p>Hari itu, Pak Sabir telah mengambil keputusan. Menetapkan hati dan meneguhkan keyakinannya bahwa ia sangat mencintai istri dan anaknya. Sekarang ia telah mantap dan yakin sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayangnya kepada anak dan istrinya yang sekarang berada di depannya.</p>
<p>&#8220;Bu, kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku berada di sini pun karena aku tidak rela kau disakiti bahkan diganggu oleh siapapun. Aku ingin membahagiakanmu melebihi keinginanku terhadap apapun. Kebahagiaan Kau dan Amin adalah segalanya bagiku hanya aku yang saat ini dapat mewujudkannya. Kebahagiaan kita yang sesungguhnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Karena itu, Bu, hanya satu permintaanku, jangan kau buang piring seng yang kita miliki dulu sejak awal membina keluarga ini. Mungkin sebagai saksi perjalanan kita. Tolong jangan kau buang, ya Bu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa, Pak. Kalau piring seng yang biasanya disimpan, Amin makan pakai apa, Pak? atau Ibu mau ganti dengan piring kaca ya? Asyik, Amin punya piring kaca yang bisa tembus pandang !&#8221; Amin bersorak girang.</p>
<p>Istri Pak Sabir hanya terdiam. Tak lama kemudian Amin dan ibunya pulang.</p>
<p>Beberapa waktu berselang, hari dan minggu berganti. Sebagaimana biasanya, setelah dijenguk, Pak Sabir kembali ke sel dengan membawa bungkusan makanan buah tangan.</p>
<p>&#8220;Istrinya lagi, Pak?&#8221;</p>
<p>Pak Sabir hanya tersenyum, kemudian perlahan membuka bungkusan. Kali ini sebuah rantang bermotif bunga yang ada di dalamnya. Perlahan ia buka rantang tersebut, satu khusus nasi putih, satu khusus sayur dan satu lagi khusus lauk. Pak Sabir dengan rekan satu sel sudah mencuci tangan dan siap untuk menyantap hidangan oleh-oleh hari itu.</p>
<p>&#8220;Waah, kali ini istimewa, Pak. Ada ayam gorengnya, terus juga ikan lele goreng ditambah menu biasanya, tempe dan tahu. Waah, kalau begini tiap hari, saya juga mau&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kau ini&#8221;, sahut Pak Sabir sambil tersenyum, sebuah senyum yang dalam, &#8220;Kau teruskan saja makan di rantangnya, aku makan menggunakan piring ini saja, sudah terbiasa, soalnya dibawa dari rumah&#8221;.</p>
<p>Mereka berdua kemudian menyantap hidangan istimewa kali petama itu. Sang rekan menyantap dengan lahap, namun tidak demikian halnya dengan Pak Sabir, ia makan dengan perlahan, suapan satu demi satu sambil terus berlalu dengan lekat memandang piring seng yang digunakannya sambil membatin, &#8220;Ya Tuhan, terima kasih telah menguatkan hatiku untuk mengambil keputusan itu. Aku hanya ingin dia dan anakku mendapatkan kesempatan merasakan hidup yang lebih layak. Aku ikhlas untuk itu. Terima kasih kau kuatkan hatiku Tuhan. Namun aku mohon Kau mantapkan aku dalam keadaan ini Tuhan&#8221;, Pak Sabir berdoa.</p>
<p>Klentangg !!! piring seng di tangan Pak Sabir jatuh, ia sendiri tersentak kaget dari lamunannya, lamunan yang mengingatkannya pada kalimatnya pada sang istri waktu itu.</p>
<p>&#8220;Rasmi, aku ikhlas. Aku yakin Haji itu juga ikhlas ingin membahagiakanmu. Paling tidak, lakukan demi masa depan anak kita&#8221;.</p>
<p>Sang istri hanya bisa berlalu dengan air mata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span class="init">B</span>anjarbaru, sekedar cerita pendek<br />
dari sebuah catatan lama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Memang Harus Memilih</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pemilukada kalimantan selatan 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:</p> <p>Saya mengerti dan memahami bahwa: Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun. Segala akibat yang timbul dari tulisan ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.</li>
<li>Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.</li>
<li>Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.</li>
<li>Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian penulisnya.</li>
</ol>
<p></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;">Klik <strong>Next</strong> untuk melanjutkan atau <strong>Cancel</strong> untuk membatalkan</span> <span style="color: #993300;">:</span><br />
<a href="http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#pilihan" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih"><img class="alignnone size-full wp-image-888" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih" src="http://pakacil.com/file/2010/02/next.jpg" alt="next" width="73" height="21" /></a> &nbsp;  &nbsp; <a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
</blockquote>
<p><span id="more-887"></span><br />
• <a name="pilihan">Skenario Pemilihan Darurat</a></p>
<p>Saya membayangkan, <strong>seandainya saja</strong>, di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kalimantan Selatan 2010 yang akan datang <strong>terdapat kondisi ekstrim</strong> dengan hanya ada 2 (dua) kandidat dengan latar belakang sebagai berikut:</p>
<blockquote><p><strong>Kandidat 1</strong><br />
Bukan orang alim, belum berhaji, isterinya dua, masuk kantor sering telat, pengelolaan keuangan daerah tertib, mampu meningkatkan investasi dan perekonomian daerah, perhatian tinggi pada pendidikan dan kesehatan.<br />
Pendek kata, nakal tapi memang bisa kerja.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kandidat 2</strong><br />
Alim, kerap ceramah atau khutbah dimana-mana, sudah haji, isterinya cuma satu, tertib masuk kantor, pengelolaan keuangan daerah amburadul, tak bisa bikin terobosan pembangunan atau peningkatan kesejahteraan.<br />
Pendek kata, alim tapi cuma bisa ceramah.</p></blockquote>
<p>Maka, dengan dasar pemikiran sebagai berikut:<br />
<img src="http://pakacil.com/file/2010/02/menunjuk_pakacil.jpg" alt="menunjuk pakacil" title="menunjuk pakacil &copy; www.pakacil.com" width="85" height="135" class="alignleft size-full wp-image-890" />
<ol>
<li>Religiusitas adalah persoalan yang tak bisa diukur oleh mata.</li>
<li>Pembangunan adalah keputusan bumi, bukan keputusan langit.</li>
<li>Orang lapar itu diatasi dengan makan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Pengangguran itu diatasi dengan motivasi kerja dan terbukanya kesempatan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Daerah bisa maju dengan kerja riil, bukan dengan pasang baliho.</li>
<li>Rendahnya kesejahteraan memiliki potensi lebih untuk menimbulkan keresahan.</li>
<li>Kalau sekedar soal warna kopiah, di pasar juga banyak pilihan !!!</li>
<li>dan lain-lain yang sejenis</li>
</ol>
<p>Jelas, saya akan memilih Kandidat Nomor 1 !!!  </p>
<p>Sebenarnya, masih ada item persetujuan lainnya, yang ketinggalan pada bagian awal di atas itu, yakni sebagai berikut:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Inti utama dari tulisan ini adalah persoalan <strong>tugas dan kewajiban utama</strong> seorang kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) dan bukan menghadapkan secara <em>vis-a-vis</em> persoalan religiusitas dan politik.</li>
<li>Kesejahteraan tidak bisa dibangun melalui baliho dan proses pencitraan yang luar biasa, melainkan dengan kenyataan dan kerja.</li>
</ol>
<p></span></p></blockquote>
<p>Namun, bagi Anda yang sudah terlanjur selesai membacanya, maka saya anggap bahwa Anda juga menyetujui klausa terakhir ini, lagi pula setuju atau tidak, toh Anda sudah terlanjur baca. Namun lagi, jika memang Anda tetap tak sependapat, silakan klik Cancel di bawah ini untuk membatalkan :<br />
<a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span class="init">B</span>anjarbaru, yang ada di Kalimantan Selatan<br />
di tengah gegap gempita promosi calon kepala daerah<br />
serta tertular <a href="http://marsudiyanto.info/" target="_blank" title="It’s Not Just a Blog - It’s a Metamarsphose  Blog">Pak Mars</a> yang posting macam² dipakai itu<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kabur.gif' alt=':kabur:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bernyanyi, Ououo &#8230;</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 18:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[bernyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi. Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera “bebas mimpi buruk” sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas spring bed saja. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/bebas_lepas.jpg" alt="bebaskan lepaskan" title="bebaskan lepaskan &copy; www.pakacil.com" width="85" height="94" class="alignleft size-full wp-image-882" />Bisa jadi anak muda itu ingat bahwa kami pernah bersua pada satu kesempatan, karena itulah ia tersenyum dan mengangguk tatkala melihat wajah saya. Saya pun tersenyum dan mengangguk. Ia tetap dengan properti yang sama, sebuah gitar. Mulailah ia memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya kenal judulnya. Ah&#8230; pasti itu lagu anak band abad 21.</p>
<p>Sore itu, saya dan <a title="Aap - Abahnya Najmy" href="http://aap.adacerita.com" target="_blank">Abahnya Najmy</a> tengah menikmati bakso, pakai <em>es</em>. Sebab bakso kalau tidak pakai <em>es</em> jadinya <em>bako</em>.</p>
<p>Seingat saya, dari seluruh pengamen yang pernah saya jumpai di Banjarbaru, anak muda inilah yang memiliki suara paling bagus. Pada perjumpaan kami yang pertama dulu, saat ia mau beranjak pergi, kami bilang, &#8220;eit&#8230; mau kemana, nyanyi satu lagu lagi, Ibu, lagunya Iwan Fals&#8221;. Satu lagu terfavorit dalam hidup saya, karena kesederhanaan dan isinya yang luar biasa.<br />
<span id="more-881"></span><br />
Anak muda itu menjawab, &#8220;maaf <abbr title="saya tidak hafal">ulun kada hafal</abbr> lagu itu&#8230;&#8221;. Sayang sekali, ia tak bisa membuat saya mendengar suaranya menyanyikan lagu yang pada keadaan tertentu, sungguh dapat membuat saya menitikkan air mata kalau menyanyikannya sembari memainkan gitar.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':|' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Namun sore itu, saya tidak lagi mengajukan request lagu. Saya biarkan ia selesai dan kemudian berkeliling mendatangi meja² mereka yang makan, untuk sekedar menjemput tanda jasa seusai ia bernyanyi. Saya hanya memperhatikan dan menunggu, sembari tangan kanan saya bergerak menarik kursi.</p>
<p>Sampailah ia di meja kami.. Saya pegang dan tarik lengannya sambil berucap, &#8220;duduk dulu kamu sini, ngobrol, sambil makan bakso&#8221;. Seporsi bakso pesanan tambahan untuknya pun tiba. &#8220;Sekarang giliranmu makan, saya sudah. Tak baik menolak rejeki&#8230;&#8221;, saya berucap menyuruhnya makan.</p>
<p>Sembari ia makan, saya ambil itu dia punya gitar, ah&#8230; saya pinjam sebentar maksudnya, saya pinjam pula <em>pick</em>-nya yang terbuat dari potongan plastik entah apa itu. Genjrang.. genjreng&#8230; saya mainkan dan mengalirlah sebuah lagu yang bertarikh dari akhir abad 20, Seperti Kekasihku, milik Padi.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Lagu yang mungkin ia juga kenal. Benar saja, kadang ia menimpali, duet ceritanya. Lagi pula sepertinya suaranya tak cocok untuk menyanyikan lagu² macam Biarkan Aku Menangis-nya Tommy J Pisa. Aap memilih jadi pendengar saja. Entah apa yang ada di kepala pemilik warung bakso dan para pelayannya melihat kami, biarkan saja. Lagi pula, lagu itu sendiri bagi saya masih masuk kategori lagu terbaru.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_joged.gif' alt=':dance:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebuah lagu telah usai. Anak muda itu tetap sambil menikmati bakso-nya sembari kami berbincang tentang banyak hal. Saya juga bilang ke dia untuk ikut audisi Indonesian Idol kalau ada dilaksanakan di Kalsel, kalau tak ada ya apa boleh buat.</p>
<p>Sore yang indah &#8230;</p>
<p>Apa kabar kau, Ainun kawanku, pengamen dari sudut terminal? Bagaimana kiranya kabarmu bapak teman bicara, yang kerap jaga parkir di depan deretan pertokoan itu? Bagaimana kabarmu Dik&#8230; yang biasa bernyanyi dari warung ke warung di pinggir jalan Banjarmasin dan pernah kumintakan sebuah lagu untuk kau nyanyikan itu? Dimana kau Mas&#8230; rekan duduk dan tidur di emperan terminal bertahun lalu? Pak.. Bu.. kalian yang kerap menjajakan makanan kecil keliling, yang kita kerap bercanda di pinggiran jalan, apa kabarmu malam ini?</p>
<p>Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi.</p>
<p>Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera &#8220;bebas mimpi buruk&#8221; sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas <em>spring bed</em> saja.</p>
<p>Paling tidak, marilah kita bernyanyi, untuk mengusir sepi, merajut mimpi &#038; tetap berdiri&#8230;<br />
<span style="color: #993300;">&#8230;<br />
nyanyian jiwa, bersayap menembus awan jingga  /  mega-mega, berberai diterjang halilintar<br />
mata hati, bagai pisau merobek sangsi  /  hari ini, kutelan semua masa lalu<br />
&#8230;<br />
menjeritlah, menjeritlah selagi bisa  /  menangislah, jika itu dianggap penyelesaian<br />
&#8230;<br />
aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai  /  <strong>tapi aku tetap berdiri</strong> &#8230; </span><br />
(Nyanyian Jiwa • Iwan Fals &#8211; SWAMI II 1991)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, suatu hari yang entah kenapa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
