<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pakacil</title>
	<atom:link href="http://pakacil.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pakacil.com</link>
	<description>Berbagi cerita dari sebuah sudut di Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Feb 2010 22:37:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tawar Menawar Harga Pas</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 22:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pembeli]]></category>
		<category><![CDATA[penjual]]></category>
		<category><![CDATA[untung rugi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal antara penjual yang sedang bangun dan pembeli yang bukan saya.
Tangannya memegang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/03/tunjukin.jpg" alt="" title="tunjukin harganya !!!" width="100" height="100" class="alignleft size-full wp-image-911" />2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal antara penjual yang sedang bangun dan pembeli yang bukan saya.</p>
<p>Tangannya memegang roti, tangan itu pembeli maksudnya. Bertanyalah ia, tentu kepada penjual, &#8220;berapa ini harganya?&#8221;. Lalu itu penjual menyahut dengan santai, &#8220;itu ada harganya, di bungkusnya&#8221;. Lantas saya interupsi-lah itu penjual dengan pesanan 2 kotak minuman dingin dan 2 pak barang yang selalu disertai peringatan pemerintah minus peringatan DPR-RI itu. Interaksi mereka berlanjut. 2 orang itu. Bukan saya. saya cuma mendengar dan memperhatikan.<br />
<span id="more-900"></span><br />
&#8220;Oh iya&#8230; ini harganya Rp 1500,-. Jadi kembalian punya saya sisa Rp 1000,-&#8221;, pembeli punya suara sambil menghitung kembaliannya sendiri. Turut membantu mungkin niatnya.<br />
&#8220;Berapa harganya?&#8221;, penjual malah tanya sama pembeli, dan percayalah sodara, ini hal bikin saya bingung. Penjual tanya harga barang sama pembeli.</p>
<p>&#8220;Seribu lima ratus&#8230;&#8221;, ucapnya lagi.<br />
&#8220;mana? 1500?&#8221;, itu yg jual seperti tak percaya.</p>
<p>&#8220;iya ini tulisannya 1500&#8243;, berusaha meyakinkan rupanya. Namun jempolnya kemudian bergerak, dan membuat tulisan harga agak terlindungi. Namun tenang, mata saya rupanya cukup terlatih dalam urusan lirik melirik.</p>
<p>&#8220;sini&#8230;&#8221;, itu penjual ambil bungkusan roti dari tangan pembeli, memperhatikan bungkusnya, tak lama kemudian berucap, &#8220;mana 1500-nya&#8230; ini harganya 3500 (tiga ribu lima ratus)&#8221;.</p>
<p>Sungguh sodara, saya menahan tawa. Saya ulangi ya&#8230; biar meyakinkan. Sungguh&#8230; saya menahan tawa, karena mata saya secara lincah melihat dan memperhatikan itu bungkusan roti, dengan jelas tertera harga hasil print-out komputer, tercetak tebal alias bold, menggunakan font sejenis Arial, dengan ukuran setidaknya 10px. Tercetak jelas harganya, <strong>3000</strong> !!!<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Percayalah, antara pembeli dan penjual itu punya satu kesamaan, yakni sama-sama cari untung, paling kurang sama-sama tidak mau rugi.</p></blockquote>
<p>Keterlaluan sekali saya ini, malah maunya tertawa, bukannya ikut bantu menyelesaikan. Tapi ya, saya pikir-pikir itu soal sederhana saja, mungkin hanya karena malam hari, lantas agak-agak kabur pandangannya dalam membaca angka-angka yang tertera jelas. Lagi pula, saya meyakini, itu tawar menawar, bargaining, kompromi, atau apapun namanya, untuk kelas begini ini jauh lebih mudah, demikian pula kalau belanja dipasar.</p>
<p>Hal yang sulit itu kalau proses tawar menawarnya berlangsung di/atau menyangkut pusat kekuasaan. Bargaining-nya bakal alot. Naik turunnya jauh susah. Bisa berlapis-lapis layar yang menutupinya. Lantas, kenapa tidak saya nikmati saja proses yang menarik tersebut? Karena jauh lebih mudah dinikmati dari pada proses tawar menawar semisal terkait century dan sejenisnya.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_cool.gif" alt="" title="kuuuul" width="44" height="42" class="alignnone size-full wp-image-389" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/tawar-menawar-harga-pas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terpaksa Merubah Rencana</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 09:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Guskar]]></category>
		<category><![CDATA[karawang]]></category>
		<category><![CDATA[nakjaDimande]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Saya mampir ke kantor polsek yang terdekat dengan rumah target dan melakukan sedikit pembicaraan dengan bapak/ibu polisi yang ada di Polsek tersebut. Melalui sebuah pengaturan dan berbagai alasan, targetnya adalah harus berhasil mendatangkan target ke kantor polsek dengan prinsip ada masalah yang harus diselesaikan. Antara dua saja, kalau tidak saya, maka target yang bermasalah. Soal ini tergantung situasi di lapangan.
Namun, setelah selesai melakukan cross check ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-756" title="Pakacil dan Guskar lagi Salaman © www.pakacil.com" src="http://pakacil.com/file/2009/09/salaman.jpg" alt="salaman © www.pakacil.com" width="83" height="100" />Saya mampir ke kantor polsek yang terdekat dengan rumah target dan melakukan sedikit pembicaraan dengan bapak/ibu polisi yang ada di Polsek tersebut. Melalui sebuah pengaturan dan berbagai alasan, targetnya adalah harus berhasil mendatangkan target ke kantor polsek dengan prinsip ada masalah yang harus diselesaikan. Antara dua saja, kalau tidak saya, maka target yang bermasalah. Soal ini tergantung situasi di lapangan.</p>
<p>Namun, setelah selesai melakukan cross check alamat target, saya jadi pesimis bahwa rencana di atas itu akan berhasil. Analisis tersebut di dasarkan pada salah satu kata pada nama komplek alamat target. Sederhananya, saya sangat tidak yakin kalau pak polisi berani. Terlebih lagi apa yang disampaikan oleh sopir taksi pada saya. Sopir yang mengantarkan saya itu bilang &#8230;<br />
<span id="more-901"></span><br />
&#8220;duh&#8230; sulit kalau taksi Jakarta masuk daerah Karawang. Bisa-bisa harus berurusan dengan polisi&#8221;, ucap pak sopir yang duduk di depan, sewaktu saya ajak dia jalan-jalan ke Karawang dari Depok. Jelas sudah, rencana di awal tulisan ini tidak mungkin dilakukan. Akan jatuh korban yang tidak perlu hanya demi mengejar rencana &#8220;bikin korban&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"> <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-902" title="nakjaDimande &amp; Guskar" src="http://pakacil.com/file/2010/02/bundo_guskar.jpg" alt="nakjaDimande &amp; Guskar" width="197" height="196" />Sabtu siang, saya meluncur dari Banjarbaru dan pada Sabtu malamnya langsung menghadiri sebuah acara di Antam, nun jauh di Ibukota sana. Pada minggu sore saya meluncur dari Depok menuju Karawang. Sepanjang perjalanan, saya kerap kali melakukan komunikasi dengan seorang <em>partner in crime</em>, untuk memastikan keberadaan target di lokasi. Karena gak lucu aja, begitu sampai ternyata malah yang bersangkutan tidak ada di rumah. Memangnya Banjarbaru &#8211; Martapura, yang bisa ditempuh kurang dari 10 menit !!!</p>
<p>Karena sudah dikabarkan, bahwa saya akan menjadi seorang kurir pengantar kue oleh <a title="Seorang dokter gigi nun jauh di Bukit nan Tinggi" href="http://nakjadimande.com/" target="_blank"><strong>Bundo nakjaDimande</strong></a>, makanya kemudian itu kue yang saya bawa dari Banjarbaru, saya bagi dua saja di Depok. Tujuannya tentu saja supaya tidak membuat beliau berbohong secara tidak sengaja.<br />
<span class="blok">Proses perencanaan ini sudah diceritakan Bundo pada <a title="katanya bundo, guskar gusar..." href="http://nakjadimande.com/2010/02/22/guskar-gusar/">halaman ladang jiwa beliau</a></span><br />
Sore hari, saya sampai di Karawang, di depan rumah <a title="_blank" href="http://guskar.com"><strong>Guskar</strong></a>. Saya pencet itu bel beberapa kali, tak ada yang keluar. Saya pergi ke tetangga Guskar, tanya apa itu benar rumah Guskar. Benar kata mereka. Akhirnya ya sudah, saya telpon saja, bilang kalau pengantar kue sudah datang. Guskar muncul dan membukakan pintu lantas mempersilakan masuk. Untung saya dipersilakan masuk, bayangkan saja kalau beliau tiba-tiba bertanya, &#8220;cuma ngantar titipan kue dari Bundo kan?&#8221;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_no.gif' alt=':nono:' class='wp-smiley' /><br />
<span class="blok">Guskar juga sudah bercerita tentang <a title="Guskar bilang, kurirnya sudah datang" href="http://guskar.com/2010/02/22/kurirnya-sudah-datang/">kejadiannya pada PadebloganKyaine beliau</a></span><br />
Setelah lebih dari pukul 19.00 WIB, saya masih mengenakan celana pendek dan kaos, meluncur meninggalkan kediaman Guskar, untuk kembali ke Jakarta dengan membawa serta sebuah buku hadiah dari Guskar. Untungnya, sewaktu diperjalanan menuju Karawang, sudah berkatalah saya kepada itu pak sopir yang duduk di depan, yang pegang kemudi supaya lancar jalannya, &#8220;bos&#8230; tunggu aja ya sebentar, nanti saia ikut balik ke Jakarta. Cuma aturan mainnya kita sepakati dulu, itu argo kita matikan saja. Lumayanlah, dari pada situ pulang sendirian, bengong, gak ada temen ngobrol?&#8221;. Pak Sopir bilang setuju sama itu penumpang. Sudah tau kan siapa penumpangnya?</p>
<p style="text-align: center;"> <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/pakacil_laugh.gif' alt=':pakacil:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Perjalanan kali ini memang mengalami banyak perubahan. Tadinya benar² berniat dan berencana untuk juga meluncur ke Sumatera. Namun tiba² arah akan dirubah ke Malang, sehingga jalur berubah dari Karawang langsung ke Bandung untuk istirahat sebentar lantas terus ke Malang. Namun, dalam perjalanan menuju Karawang, saya mendapatkan kabar yang konsekuensinya harus langsung pulang ke Banjarbaru. Akhirnya rute berubah dengan serta merta, langsung kembali ke Jakarta sehabis menyerbu Karawang. Karena dari dulu memang tak begitu suka keliling ibukota, jadinya saya hanya tiduran di kamar hotel menunggu waktu untuk bersua lagi dengan para pramugari.</p>
<p>Terima kasih kepada <a title="Seorang dokter gigi nun jauh di Bukit nan Tinggi" href="http://nakjadimande.com/" target="_blank">Bundo nakjaDimande</a>, atas segala bantuannya. Ijinkanlah saia untuk mengingat-ingat janji saya, apakah berjanji untuk <span style="text-decoration: underline;">tidak ngerjain bundo</span>, ataukah berjanji <span style="text-decoration: underline;">tidak akan ngerjain bundo dengan cara yang sama</span>. Karena memang pengertian dua hal ini jauh berbeda.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_pikirkan.gif' alt=':think:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terima kasih dan permohonan maaf kepada <a title="Pemilik PadebloganKyaine - Satu Blog Seribu Hikmah" href="http://guskar.com" target="_blank">Guskar</a>. Jika memang Guskar marah, mohon kutuk saya biar banyak rejeki buat bisa jalan-jalan ke banyak kawan-kawan. Itu saja&#8230;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekarang, saya sudah di rumah lagi&#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru lagi<br />
setelah 2 hari ditinggalkan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/terpaksa-merubah-rencana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kereta Api Kalimantan Masih Aman</title>
		<link>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman</link>
		<comments>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 17:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usul Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api trans kalimantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah masih mengkaji wacana pembangunan jalur transportasi kereta api lintas Kalimantan hingga 20 tahun ke depan. &#8220;Tadinya, paling tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, namun masih akan terealisasi tahun 2030. Tetapi studi kelayakannya diharapkan jangan terlalu lama,&#8221; kata Usman Ja&#8217;far, anggota DPR RI, usai rapat dengar pendapat di Komisi IV.
Marah? kesel? merasa ditaruh belakangan? Oww&#8230; tidak&#8230; tidak perlu.
Saya justru sedikit merasa lega, karena di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/kereta_api.png" alt="" title="kereta api trans kalimantan" width="100" height="100" class="alignright size-full wp-image-909" />Pemerintah masih mengkaji wacana pembangunan jalur transportasi kereta api lintas Kalimantan <strong>hingga 20 tahun</strong> ke depan. &#8220;Tadinya, paling tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, namun masih akan terealisasi tahun 2030. Tetapi studi kelayakannya diharapkan jangan terlalu lama,&#8221; kata Usman Ja&#8217;far, anggota DPR RI, usai rapat dengar pendapat di Komisi IV.<br />
<span class="blok">Marah? kesel? merasa ditaruh belakangan? Oww&#8230; tidak&#8230; tidak perlu.<br />
Saya justru sedikit merasa lega, karena di Kalimantan <strong>tidak akan terjadi kecelakaan yang melibatkan kereta api</strong>, setidaknya hingga 20 tahun yang akan datang. Lumayan, masih aman.<br />
<img src="http://pakacil.com/file/emo_ngupil.gif" alt="" title="pakacil serius" width="45" height="37" class="alignnone size-full wp-image-409" /></span><br />
<span id="more-896"></span><br />
Sumber: <a href="http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&#038;id=57810" title="Kereta Api Trans Kalimantan Tunggu 2 Dekade Lagi" target="_blank">Kereta Api Trans Kalimantan Tunggu 2 Dekade Lagi</a> (JPNN)</p>
<p>Catatan khusus:<br />
baru sadar, kategori <a href="http://pakacil.com/category/usul-asal-usil">Usul Asal Usil</a> cukup lama tak tersentuh.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/usul-asal-usil/2010/kereta-api-kalimantan-masih-aman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piring</title>
		<link>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring</link>
		<comments>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 16:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[air mata]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[piring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka&#8221;.
&#8220;Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya&#8221;.
&#8220;Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin&#8221;.
&#8220;Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia&#8221;.
&#8220;Bapak artinya juga tidak suka dikurung ya Bu ?&#8221;
Sang ibu tertegun sejenak. Sesaat pandangannya menerawang. Jauh menembus dinding ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/burung_terbang1.jpg" alt="" title="burung_terbang" width="100" height="100" class="alignleft size-full wp-image-910" />&#8220;Bu, Amin mau burung itu, yang di atas pohon itu. Amin suka&#8221;.<br />
&#8220;Min, kasihan kan kalau dia ditangkap. Apalagi Amin belum punya sangkarnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kan bisa di kamar Amin, biar bisa jadi teman Amin&#8221;.<br />
&#8220;Kau ini Nak, kan dia lebih suka dan bebas seperti itu dari pada dikurung, sama seperti kita, manusia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bapak artinya juga tidak suka dikurung ya Bu ?&#8221;<br />
Sang ibu tertegun sejenak. Sesaat pandangannya menerawang. Jauh menembus dinding papan rumah sewaan ia dan anaknya yang satu-satunya itu. &#8220;Sudahlah Min. Kamu lapar kan ? Ibu masak dulu ya&#8221;.</p>
<p>Anak kecil yang bernama Amin itu kini berlari menuju lapangan di mana ia biasa berkumpul dengan teman sebaya. Menghabiskan waktu kecil dengan begitu bahagia. Syaifullah Aminuddin, begitu nama lengkapnya. Dengan bangga ia menceritakan arti namanya kepada orang-orang yang ditemuinya, apabila mereka menanyakan nama lengkapnya.<br />
<span id="more-883"></span><br />
Amin, sudah sekitar 5 tahun ini ia berada dalam pangkuan ibunya sejak dilahirkan dan lebih dari separuh usia itu betul-betul dihabiskan bersama sang ibu. Sang bapak, Rahmat Sabir, terpaksa mendekam di penjara dan menjadi seorang narapidana untuk waktu yang lama. Sebuah kejahatan yang terpaksa menyebabkan ia tidak bisa menyaksikan sang anak untuk pertama kalinya mengenakan seragam sekolah, serta  baru dapat menyaksikan anaknya manakala sudah mengenakan pakaian seragam abu-abu putih.</p>
<p>Berhari, berminggu dan bertahun telah lewat sejak peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Rahmat Sabir. Kini Amin sudah beranjak besar. Itu semua jelas diketahuinya saat Amin datang bersama sang ibu, istrinya yang setia, yang menjenguknya di LP secara rutin. Ia cukup bahagia bisa menyaksikan Amin yang kian besar dan semakin banyak saja ucapan dan tingkahnya yang khas anak-anak.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, Bu. Kau terpaksa seperti ini. Bagaimana aku dapat membalas ini semua? Kau istriku, tapi aku telah menyia-nyiakanmu begitu rupa&#8221;, Pak Sabir berkata suatu ketika.<br />
&#8220;Apa yang Kau bicarakan, Pak ? Sudahlah, tidak usah lagi bicara begitu. Bicaralah dengan anak kita. Ia sudah semakin besar, semakin sering memanjat-manjat pohon mangga tetangga kita&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pohon mangga yang mana, Bu? Tetangga yang mana, Bu?&#8221;.<br />
&#8220;Itulah Pak, yang sebetulnya ingin ku kabarkan padamu kali ini&#8221;.</p>
<p>&#8220;Mengenai apa, Bu?&#8221;<br />
&#8220;Apa yang pernah kita bicarakan tempo hari jadi kenyataan, Pak. Kita sudah tidak sanggup lagi kalau harus membayar sewa rumah kemarin. Dua hari yang lalu, aku pindah dari rumah kita yang dulu. Lumayan, dengan rumah yang sekarang kita makin bisa menghemat pengeluaran&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bu&#8230; maafkan aku&#8221;. Hanya kalimat pendek itu yang terlontar dari mulut Pak Sabir. Kemudian ia menundukkan kepala sedemikian menutupkan wajahnya ke kedua tangannya yang bersilang di atas meja.</p>
<p>Sebuah belaian halus menyentuh tidak hanya rambut Pak Sabir, melainkan juga ketegarannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa dan harus mengandalkan sang istri untuk membesarkan anak tunggal mereka.</p>
<p>&#8220;Bapak sakit ya Bu?&#8221;<br />
&#8220;Ah tidak, Bapak cuma agak masuk angin. Kan di sini udaranya dingin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kata ibu, biar tidak masuk angin, Amin tidurnya harus pakai sarung. Bapak pakai sarung apa tidak?&#8221;<br />
&#8220;Sudah Nak, Bapak sudah pakai. Cuma udara sangat dingin. Lebih dingin dari yang di rumah mungkin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Angin di sini dengan yang di rumah berbeda ya Pak?&#8221;</p>
<p>Pak Sabir hanya tertawa mendengar pertanyaan sang anak. Tangannya bergerak menjangkau Amin untuk kemudian menariknya ke dalam pelukan. </p>
<p>&#8220;Kau semakin besar, Nak. Maafkan Bapak, kau harus melihat Bapak dalam keadaan seperti ini, yang siapapun di antara kita bertiga tidak ada yang membayangkannya apalagi mengharapkannya&#8221; , Pak Sabir membatin sembari merangkul Amin.</p>
<p>Tanpa sadar, setetes air mata jatuh tepat di atas kepala Amin. Air mata dalam keadaan seperti itu memang memiliki makna yang tidak hanya dalam, tapi juga agung. Seandainya saja semua orang memiliki air mata seperti itu, maka tidak ada apapun di dunia ini melainkan kedamaian, serta kasih sayang yang sejati.</p>
<p>Waktu berkunjung telah habis. Amin dan ibunya melangkah keluar. Amin mencium tangan sang bapak, istri mencium tangan suami. Semua kembali ke tempat semula. Pak Sabir harus kembali ke sel, sementara istri dan anaknya harus kembali melanjutkan kehidupan di luar tembok yang sekarang mengeliling Pak Sabir.</p>
<p>Belum lagi genap langkah istrinya lenyap dari pandangan, Pak Sabir sudah harus kembali ke selnya semula.</p>
<p>&#8220;Istrinya lagi, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Iya, mau dijenguk siapa lagi? mereka berdua adalah satu-satunya yang paling berharga di dunia ini. Mungkin mengalahkan kebebasanku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aduh Pak Sabir ini. Kita sudah lama sama-sama berada di dalam. Bagaimanapun kebebasan adalah impian kita. Setidaknya saat ini&#8221;.<br />
&#8220;Kau tidak merasakannya mungkin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bisa jadi, Pak. Mungkin kebiasaan lama saya menyebabkan saya tidak begitu memperhatikan keluarga. Tapi saya sekarang benar-benar mau insaf, Pak. Sudah capai rasanya hidup seperti itu. Saya besar dan hidup dari jalanan yang sangat dekat urusannya dengan tempat sumpek seperti ini. Bapak kan beda, Pak Sabir dulunya kan kerja di sekolahan, . Eh, ngomong-ngomong, Pak Sabir mau kan mengajar saya membaca? mau kan, Pak?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi kan saya cuma pesuruh biasa di sekolahan itu. Tapi&#8230; jadi selama ini belum bisa membaca? Kalau menulis?&#8221;.<br />
&#8220;Bagaimana sih Bapak ini, orang membaca saja lewat, bagaimana mau menulis? Waaah Pak Sabir sudah pusing ya?&#8221;, katanya sambil tergelak riuh.</p>
<p>&#8220;Iya, iya. Kenapa selama ini kamu tidak mengatakannya?&#8221;<br />
&#8220;Malu, Pak. Punya anak buah banyak, ee&#8230; urusan membaca saja lewat. Tapi Bapak mau kan mengajar saya. Jadi guru saya di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yahh, tergantung&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;Tergantung apa, Pak? Gaji ya?&#8221;.<br />
&#8220;Sudah tahu, kan?&#8221;</p>
<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/penjara.jpg" alt="penjara" title="penjara" width="250" height="195" class="alignright size-full wp-image-893" />Keduanya kemudian lantas tertawa lepas berdua. Kadang-kadang, dan seringkali kalau tidak yang terutama, kemampuan menghibur diri sendiri atau bahkan teman satu sel sangat berarti dalam menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa bosan dan ketertekanan.</p>
<p>Kalau sudah tertawa seperti itu rasanya memang semua beban hidup lepas, pergi bersama getaran tawa. Mereka yang bertahan dalam keadaan seperti itulah yang sesungguhnya orang yang lebih mengerti mengenai makna kesabaran dan ketabahan terutama arti kebebasan. Walaupun untuk menghibur diri, di antara sesama orang dalam sering terdengar lontaran mengenai kebebasan. </p>
<p>Bahwa mereka yang senasib ini sesungguhnya memiliki kebebasan yang luar biasa. Mereka bebas untuk melamun, bebas untuk menghibur diri, bebas untuk tertawa tegelak-gelak dan banyak kebebasan lain yang tentu saja untuk menghibur diri dan bukannya memberikan ceramah mengenai kebebasan kepada semua orang yang sering kali justru semua ceramah tentang kebebasan itu adalah pelajaran mengenai keterbelengguan.</p>
<p>Sementara itu, Amin tengah asyik bermain-main dengan teman-temannya di lapangan biasanya. Sebuah lapangan voli kampung yang suatu saat menjelma menjadi lapangan sepak bola anak-anak, dan pada saat yang lain akan menjelma menjadi sarana yang lain sesuai dengan kesepakatan bocah-bocah kecil dengan jiwa-jiwa yang merdeka itu. </p>
<p>Mereka bersepakat untuk melakukan sebuah permainan, bersepakat mengenai aturan-aturan permainan dan bersepakat untuk menegakkan aturan itu dengan berbagai sangsi yang sesuai dengan jiwa anak-anak mereka, manakala ada teman yang dihukum, sebagian besar teman-teman yang tidak mendapat sangsi merasa mendapat kesempatan untuk menjadikannya bahan lelucon.</p>
<p>Namun hebatnya, jarang sekali yang berujung kepada perkelahian secara fisik, sebab yang dijadikan bahan lelucon akan berusaha sekuat tenaga untuk membalas kekalahan untuk kemudian memiliki kesempatan pula melakukan serangan balasan dalam hal olok-olok anak kecil. Mereka semua bahagia, mereka semua tertawa. Amin juga bahagia, Amin juga tertawa. Namun kini rupanya Amin merasa lapar. Ia pamit kepada kawan-kawannya untuk pulang.</p>
<p>&#8220;Mau makan dulu, aku lapar&#8221;, jawab Amin saat ditanya oleh teman-teman sepermainan.<br />
&#8220;Huuu, ya sudah. Kita sekalian bubar. Aku juga mau mandi dulu. Berenang di kali yuk.., kan segar&#8221;, kata seorang teman.</p>
<p>Permainan sore itu bubar. Semua persoalan kalah dan menang sudah dihabiskan sore itu juga. Seandainya ada yang menginginkan permainan dilanjutkan, itu semua akan dibicarakan bersama-sama oleh mereka untuk kemudian bersepakat.</p>
<p>&#8220;Bu, Amin mau makan, Amin lapar, Bu&#8221;, seru Amin sambil mencari ibunya yang tidak ditemuinya di dapur kecilnya.</p>
<p>Amin mendapatkan ibunya tengah berjalan ke arahnya sambil membawa segelas teh yang tinggal berisi separuhnya. &#8220;Bu, Amin mau makan&#8221;, ulangnya.</p>
<p>&#8220;Amin kan sudah besar, coba Amin ambil sendiri piringnya, bisa kan?&#8221;<br />
&#8220;Iya, Bu&#8221;, Amin beranjak menuju sebuah meja kecil dan mengambil sebuah piring dan membawanya ke ibunya untuk diambilkan nasi.</p>
<p>&#8220;Makan yang banyak ya, biar Amin cepat besar. Lebih besar dari sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Ibu sudah makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya ini, Ibu kan makan bersama Amin&#8221;.<br />
&#8220;Bu, Bapak makannya enak ya? kan disediakan kata Bapak&#8221;.<br />
&#8220;Ibu juga kurang tahu, Nak. Sudahlah, nanti kamu sakit kalau makan sambil bicara&#8221;.</p>
<p>Di tempat lain, Pak Sabir tengah menikmati jatah makan sore itu. Kali ini menu yang tersedia adalah sepotong kecil ikan asin, serta sayur yang lebih banyak kuahnya.</p>
<p>&#8220;Walaupun menu sama, jelas lebih enak makan di rumah bersama anak istri, iya kan?&#8221;<br />
&#8220;Ah, Pak Sabir. Masih saja suka berkata begitu. Nanti malah jadi pikiran, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Cuma membayangkan saja&#8221;.<br />
&#8220;Walaupun begitu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Seandainya kejadiannya tidak seperti saat itu, mungkin akan sangat berbeda sekali dengan saat ini&#8221;.<br />
&#8220;Maksud Pak Sabir?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Seandainya aku tidak memukulkan palu itu ke kepalanya, seandainya aku tidak membunuh mereka&#8221;.<br />
&#8220;Sudahlah, Pak. Semua sudah terjadi. Buat apa diingat-ingat lagi. Kata orang-orang itu semua sudah menjadi takdir, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sekarang aku menjadi orang yang sangat tidak berguna. Menyusahkan anak dan istriku, membuat mereka menderita begitu rupa, belum pernah memberikan kebahagiaan yang seutuhnya&#8221;.<br />
&#8220;Kan nanti kita semua juga bebas, Pak. Ada kesempatan untuk menebusnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?&#8221;<br />
Sekarang sang kawan hanya diam.</p>
<p>Hari berlalu, sebagaimana biasa istri Pak Sabir dan anaknya Amin datang berkunjung. Masih seperti yang sudah-sudah, kali ini tetap membawakan nasi putih dengan ditemani beberapa potong tahu dan tempe goreng, sambal dan lalap. Sederhana dan bersahaja, juga penuh makna.</p>
<p>Hari itu, Pak Sabir telah mengambil keputusan. Menetapkan hati dan meneguhkan keyakinannya bahwa ia sangat mencintai istri dan anaknya. Sekarang ia telah mantap dan yakin sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayangnya kepada anak dan istrinya yang sekarang berada di depannya.</p>
<p>&#8220;Bu, kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku berada di sini pun karena aku tidak rela kau disakiti bahkan diganggu oleh siapapun. Aku ingin membahagiakanmu melebihi keinginanku terhadap apapun. Kebahagiaan Kau dan Amin adalah segalanya bagiku hanya aku yang saat ini dapat mewujudkannya. Kebahagiaan kita yang sesungguhnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Karena itu, Bu, hanya satu permintaanku, jangan kau buang piring seng yang kita miliki dulu sejak awal membina keluarga ini. Mungkin sebagai saksi perjalanan kita. Tolong jangan kau buang, ya Bu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa, Pak. Kalau piring seng yang biasanya disimpan, Amin makan pakai apa, Pak? atau Ibu mau ganti dengan piring kaca ya? Asyik, Amin punya piring kaca yang bisa tembus pandang !&#8221; Amin bersorak girang.</p>
<p>Istri Pak Sabir hanya terdiam. Tak lama kemudian Amin dan ibunya pulang.</p>
<p>Beberapa waktu berselang, hari dan minggu berganti. Sebagaimana biasanya, setelah dijenguk, Pak Sabir kembali ke sel dengan membawa bungkusan makanan buah tangan.</p>
<p>&#8220;Istrinya lagi, Pak?&#8221;</p>
<p>Pak Sabir hanya tersenyum, kemudian perlahan membuka bungkusan. Kali ini sebuah rantang bermotif bunga yang ada di dalamnya. Perlahan ia buka rantang tersebut, satu khusus nasi putih, satu khusus sayur dan satu lagi khusus lauk. Pak Sabir dengan rekan satu sel sudah mencuci tangan dan siap untuk menyantap hidangan oleh-oleh hari itu.</p>
<p>&#8220;Waah, kali ini istimewa, Pak. Ada ayam gorengnya, terus juga ikan lele goreng ditambah menu biasanya, tempe dan tahu. Waah, kalau begini tiap hari, saya juga mau&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kau ini&#8221;, sahut Pak Sabir sambil tersenyum, sebuah senyum yang dalam, &#8220;Kau teruskan saja makan di rantangnya, aku makan menggunakan piring ini saja, sudah terbiasa, soalnya dibawa dari rumah&#8221;.</p>
<p>Mereka berdua kemudian menyantap hidangan istimewa kali petama itu. Sang rekan menyantap dengan lahap, namun tidak demikian halnya dengan Pak Sabir, ia makan dengan perlahan, suapan satu demi satu sambil terus berlalu dengan lekat memandang piring seng yang digunakannya sambil membatin, &#8220;Ya Tuhan, terima kasih telah menguatkan hatiku untuk mengambil keputusan itu. Aku hanya ingin dia dan anakku mendapatkan kesempatan merasakan hidup yang lebih layak. Aku ikhlas untuk itu. Terima kasih kau kuatkan hatiku Tuhan. Namun aku mohon Kau mantapkan aku dalam keadaan ini Tuhan&#8221;, Pak Sabir berdoa.</p>
<p>Klentangg !!! piring seng di tangan Pak Sabir jatuh, ia sendiri tersentak kaget dari lamunannya, lamunan yang mengingatkannya pada kalimatnya pada sang istri waktu itu.</p>
<p>&#8220;Rasmi, aku ikhlas. Aku yakin Haji itu juga ikhlas ingin membahagiakanmu. Paling tidak, lakukan demi masa depan anak kita&#8221;.</p>
<p>Sang istri hanya bisa berlalu dengan air mata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span class="init">B</span>anjarbaru, sekedar cerita pendek<br />
dari sebuah catatan lama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/cerpen/2010/piring/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Memang Harus Memilih</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[pemilukada kalimantan selatan 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:
Saya mengerti dan memahami bahwa:


Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.
Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.
Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.</li>
<li>Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.</li>
<li>Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.</li>
<li>Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian penulisnya.</li>
</ol>
<p></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;">Klik <strong>Next</strong> untuk melanjutkan atau <strong>Cancel</strong> untuk membatalkan</span> <span style="color: #993300;">:</span><br />
<a href="http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih#pilihan" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih"><img class="alignnone size-full wp-image-888" title="Teruskan baca Jika Memang Harus Memilih" src="http://pakacil.com/file/2010/02/next.jpg" alt="next" width="73" height="21" /></a> &nbsp;  &nbsp; <a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
</blockquote>
<p><span id="more-887"></span><br />
• <a name="pilihan">Skenario Pemilihan Darurat</a></p>
<p>Saya membayangkan, <strong>seandainya saja</strong>, di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kalimantan Selatan 2010 yang akan datang <strong>terdapat kondisi ekstrim</strong> dengan hanya ada 2 (dua) kandidat dengan latar belakang sebagai berikut:</p>
<blockquote><p><strong>Kandidat 1</strong><br />
Bukan orang alim, belum berhaji, isterinya dua, masuk kantor sering telat, pengelolaan keuangan daerah tertib, mampu meningkatkan investasi dan perekonomian daerah, perhatian tinggi pada pendidikan dan kesehatan.<br />
Pendek kata, nakal tapi memang bisa kerja.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kandidat 2</strong><br />
Alim, kerap ceramah atau khutbah dimana-mana, sudah haji, isterinya cuma satu, tertib masuk kantor, pengelolaan keuangan daerah amburadul, tak bisa bikin terobosan pembangunan atau peningkatan kesejahteraan.<br />
Pendek kata, alim tapi cuma bisa ceramah.</p></blockquote>
<p>Maka, dengan dasar pemikiran sebagai berikut:<br />
<img src="http://pakacil.com/file/2010/02/menunjuk_pakacil.jpg" alt="menunjuk pakacil" title="menunjuk pakacil &copy; www.pakacil.com" width="85" height="135" class="alignleft size-full wp-image-890" />
<ol>
<li>Religiusitas adalah persoalan yang tak bisa diukur oleh mata.</li>
<li>Pembangunan adalah keputusan bumi, bukan keputusan langit.</li>
<li>Orang lapar itu diatasi dengan makan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Pengangguran itu diatasi dengan motivasi kerja dan terbukanya kesempatan, bukan dengan disuruh sabar.</li>
<li>Daerah bisa maju dengan kerja riil, bukan dengan pasang baliho.</li>
<li>Rendahnya kesejahteraan memiliki potensi lebih untuk menimbulkan keresahan.</li>
<li>Kalau sekedar soal warna kopiah, di pasar juga banyak pilihan !!!</li>
<li>dan lain-lain yang sejenis</li>
</ol>
<p>Jelas, saya akan memilih Kandidat Nomor 1 !!!  </p>
<p>Sebenarnya, masih ada item persetujuan lainnya, yang ketinggalan pada bagian awal di atas itu, yakni sebagai berikut:</p>
<blockquote class="jawab"><p><span style="color: #993300;">Saya mengerti dan memahami bahwa:</span><br />
<span style="color: #993300;">
<ol>
<li>Inti utama dari tulisan ini adalah persoalan <strong>tugas dan kewajiban utama</strong> seorang kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) dan bukan menghadapkan secara <em>vis-a-vis</em> persoalan religiusitas dan politik.</li>
<li>Kesejahteraan tidak bisa dibangun melalui baliho dan proses pencitraan yang luar biasa, melainkan dengan kenyataan dan kerja.</li>
</ol>
<p></span></p></blockquote>
<p>Namun, bagi Anda yang sudah terlanjur selesai membacanya, maka saya anggap bahwa Anda juga menyetujui klausa terakhir ini, lagi pula setuju atau tidak, toh Anda sudah terlanjur baca. Namun lagi, jika memang Anda tetap tak sependapat, silakan klik Cancel di bawah ini untuk membatalkan :<br />
<a href="javascript:window.close();"><img class="alignnone size-full wp-image-889" title="Saya tidak sepakat dengan perjanjian di atas" src="http://pakacil.com/file/2010/02/cancel.jpg" alt="cancel" width="73" height="21" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><span class="init">B</span>anjarbaru, yang ada di Kalimantan Selatan<br />
di tengah gegap gempita promosi calon kepala daerah<br />
serta tertular <a href="http://marsudiyanto.info/" target="_blank" title="It’s Not Just a Blog - It’s a Metamarsphose  Blog">Pak Mars</a> yang posting macam² dipakai itu<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kabur.gif' alt=':kabur:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/jika-memang-harus-memilih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bernyanyi, Ououo &#8230;</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 18:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[bernyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi.

Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera “bebas mimpi buruk” sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas spring bed ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/bebas_lepas.jpg" alt="bebaskan lepaskan" title="bebaskan lepaskan &copy; www.pakacil.com" width="85" height="94" class="alignleft size-full wp-image-882" />Bisa jadi anak muda itu ingat bahwa kami pernah bersua pada satu kesempatan, karena itulah ia tersenyum dan mengangguk tatkala melihat wajah saya. Saya pun tersenyum dan mengangguk. Ia tetap dengan properti yang sama, sebuah gitar. Mulailah ia memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya kenal judulnya. Ah&#8230; pasti itu lagu anak band abad 21.</p>
<p>Sore itu, saya dan <a title="Aap - Abahnya Najmy" href="http://aap.adacerita.com" target="_blank">Abahnya Najmy</a> tengah menikmati bakso, pakai <em>es</em>. Sebab bakso kalau tidak pakai <em>es</em> jadinya <em>bako</em>.</p>
<p>Seingat saya, dari seluruh pengamen yang pernah saya jumpai di Banjarbaru, anak muda inilah yang memiliki suara paling bagus. Pada perjumpaan kami yang pertama dulu, saat ia mau beranjak pergi, kami bilang, &#8220;eit&#8230; mau kemana, nyanyi satu lagu lagi, Ibu, lagunya Iwan Fals&#8221;. Satu lagu terfavorit dalam hidup saya, karena kesederhanaan dan isinya yang luar biasa.<br />
<span id="more-881"></span><br />
Anak muda itu menjawab, &#8220;maaf <abbr title="saya tidak hafal">ulun kada hafal</abbr> lagu itu&#8230;&#8221;. Sayang sekali, ia tak bisa membuat saya mendengar suaranya menyanyikan lagu yang pada keadaan tertentu, sungguh dapat membuat saya menitikkan air mata kalau menyanyikannya sembari memainkan gitar.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':|' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www31.indowebster.com/a61ef38a458276ff283cdd949977f550.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Namun sore itu, saya tidak lagi mengajukan request lagu. Saya biarkan ia selesai dan kemudian berkeliling mendatangi meja² mereka yang makan, untuk sekedar menjemput tanda jasa seusai ia bernyanyi. Saya hanya memperhatikan dan menunggu, sembari tangan kanan saya bergerak menarik kursi.</p>
<p>Sampailah ia di meja kami.. Saya pegang dan tarik lengannya sambil berucap, &#8220;duduk dulu kamu sini, ngobrol, sambil makan bakso&#8221;. Seporsi bakso pesanan tambahan untuknya pun tiba. &#8220;Sekarang giliranmu makan, saya sudah. Tak baik menolak rejeki&#8230;&#8221;, saya berucap menyuruhnya makan.</p>
<p>Sembari ia makan, saya ambil itu dia punya gitar, ah&#8230; saya pinjam sebentar maksudnya, saya pinjam pula <em>pick</em>-nya yang terbuat dari potongan plastik entah apa itu. Genjrang.. genjreng&#8230; saya mainkan dan mengalirlah sebuah lagu yang bertarikh dari akhir abad 20, Seperti Kekasihku, milik Padi.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="70" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true" /><param name="src" value="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="false" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="70" src="http://www.indowebster.com/templates/object/mediaplayer.swf" allowfullscreen="false" wmode="transparent" flashvars="file=http://www12.indowebster.com/3ad2855a961e631199181dd121d039ec.mp3&amp;frontcolor=0xffffff&amp;backcolor=0xe6e6dc&amp;lightcolor=0xffffff&amp;logo=http://www.indowebster.com/templates/img/idws.png&amp;autostart=false&amp;usefullscreen=false&amp;showeq=true"></embed></object></p>
<p>Lagu yang mungkin ia juga kenal. Benar saja, kadang ia menimpali, duet ceritanya. Lagi pula sepertinya suaranya tak cocok untuk menyanyikan lagu² macam Biarkan Aku Menangis-nya Tommy J Pisa. Aap memilih jadi pendengar saja. Entah apa yang ada di kepala pemilik warung bakso dan para pelayannya melihat kami, biarkan saja. Lagi pula, lagu itu sendiri bagi saya masih masuk kategori lagu terbaru.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_joged.gif' alt=':dance:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebuah lagu telah usai. Anak muda itu tetap sambil menikmati bakso-nya sembari kami berbincang tentang banyak hal. Saya juga bilang ke dia untuk ikut audisi Indonesian Idol kalau ada dilaksanakan di Kalsel, kalau tak ada ya apa boleh buat.</p>
<p>Sore yang indah &#8230;</p>
<p>Apa kabar kau, Ainun kawanku, pengamen dari sudut terminal? Bagaimana kiranya kabarmu bapak teman bicara, yang kerap jaga parkir di depan deretan pertokoan itu? Bagaimana kabarmu Dik&#8230; yang biasa bernyanyi dari warung ke warung di pinggir jalan Banjarmasin dan pernah kumintakan sebuah lagu untuk kau nyanyikan itu? Dimana kau Mas&#8230; rekan duduk dan tidur di emperan terminal bertahun lalu? Pak.. Bu.. kalian yang kerap menjajakan makanan kecil keliling, yang kita kerap bercanda di pinggiran jalan, apa kabarmu malam ini?</p>
<p>Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi.</p>
<p>Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera &#8220;bebas mimpi buruk&#8221; sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas <em>spring bed</em> saja.</p>
<p>Paling tidak, marilah kita bernyanyi, untuk mengusir sepi, merajut mimpi &#038; tetap berdiri&#8230;<br />
<span style="color: #993300;">&#8230;<br />
nyanyian jiwa, bersayap menembus awan jingga  /  mega-mega, berberai diterjang halilintar<br />
mata hati, bagai pisau merobek sangsi  /  hari ini, kutelan semua masa lalu<br />
&#8230;<br />
menjeritlah, menjeritlah selagi bisa  /  menangislah, jika itu dianggap penyelesaian<br />
&#8230;<br />
aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai  /  <strong>tapi aku tetap berdiri</strong> &#8230; </span><br />
(Nyanyian Jiwa • Iwan Fals &#8211; SWAMI II 1991)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, suatu hari yang entah kenapa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/mari-bernyanyi-ououo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Indonesia Ke Banjarbaru</title>
		<link>http://pakacil.com/mengitari-banjarbaru/2010/dari-indonesia-ke-banjarbaru</link>
		<comments>http://pakacil.com/mengitari-banjarbaru/2010/dari-indonesia-ke-banjarbaru#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 18:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengitari Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[rute perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Sidang pembaca yang budiman, berawal dari sebuah pertanyaan yang masuk ke buku tamu pakacil.com ini, serta pertanyaan lain yang masuk melalui form kontak via email tentang Kota Banjarbaru, rasanya tak salah bagi saya untuk kali ini kembali bercerita tentang kota ini, Kota Banjarbaru.
Karenanya, sebelum cerita ini dimulai, ada baiknya sidang pembaca yang budiman mengatur posisi duduk, kasihani pinggangnya. Silakan atur jarak pandang dari monitor, kasihani ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/ke_banjarbaru.jpg" alt="Indonesia » Kalimantan Selatan » Banjarbaru" title="Kota Banjarbaru" width="117" height="150" class="alignleft size-full wp-image-877" />Sidang pembaca yang budiman, berawal dari sebuah pertanyaan yang masuk ke buku tamu pakacil.com ini, serta pertanyaan lain yang masuk melalui form kontak via email tentang Kota Banjarbaru, rasanya tak salah bagi saya untuk kali ini kembali bercerita tentang kota ini, Kota Banjarbaru.</p>
<p>Karenanya, sebelum cerita ini dimulai, ada baiknya sidang pembaca yang budiman mengatur posisi duduk, kasihani pinggangnya. Silakan atur jarak pandang dari monitor, kasihani matanya. Bagi yang belum mengambil air minum, silakan diambil. Terakhir, mohon kepada sidang pembaca untuk membaca dengan tenang, jangan melakukan tindakan² yang tidak semestinya, misalnya membaca ini sambil nyetir atau sambil main futsal. <em>Here we go&#8230;.</em><br />
<span id="more-873"></span><br />
Dari Indonesia ke Banjarbaru&#8230;</p>
<p>Untuk mencapai dan/atau menuju Banjarbaru, sangat sangat mudah, berikut informasinya melalui masing-masing jalur:<br />
• Menuju Banjarbaru melalui <a title="jalur darat ke Banjarbaru" href="#jalur_darat">Jalur Darat</a><br />
• Menuju Banjarbaru melalui <a title="jalur udara ke Banjarbaru" href="#jalur_udara">Jalur Udara</a><br />
• Menuju Banjarbaru melalui <a title="jalur laut ke Banjarbaru" href="#jalur_laut">Jalur Laut</a><br />
cekidot  &#8230;  <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_berkuda.gif' alt=':kuda:' class='wp-smiley' /> </p>
<h3><a name="jalur_darat">Menuju Banjarbaru lewat Jalur Darat</a></h3>
<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/jalur_darat.png" alt="jalur darat" title="ke Banjarbaru lewat jalur darat" width="85" height="68" class="alignright size-full wp-image-874" />Karena Banjarbaru terletak di Pulau Kalimantan, maka memang hanya dapat ditempuh dari mereka yang ada di Kalimantan Saja. Kalimantan Selatan sendiri berbatasan langsung dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. <span style="color: #999999;">*jangan salahkan saya kalau nilai geografi Anda jelek kalau tidak tau hal ini*.</span></p>
<p>Banjarbaru <strong>sangat mudah ditempuh melalui jalur darat</strong>. Karena Banjarbaru berada pada perlintasan utama Propinsi Kalimantan Selatan, dengan jalan A. Yani sebagai poros jalan utama, jalan negara ceritanya. Pendek kata, asal sudah memasuki wilayah Kalimantan Selatan (kecuali dari Kab. Kotabaru yang merupakan pulau terpisah), maka akses ke Banjarbaru melalui jalan darat dipastikan mudah dah dah dah.</p>
<p>Sementara Banjarmasin, ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan, dapat ditempuh dalam waktu ±45 menit dari Banjarbaru. Tapi tenang, kemacetan yang biasa terjadi di Banjarmasin tidak akan ditemukan di Banjarbaru. Kecuali ada truk terguling dan menghalangi seluruh badan jalan. Di darat, Banjarbaru berbatasan langsung dengan Kota Banjarmasin, Kab. Banjar (ibukotanya: Martapura) dan Kab. Tanah Laut (beribukota Pelaihari).</p>
<h3><a name="jalur_udara">Menuju Banjarbaru lewat Jalur Udara</a></h3>
<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/jalur_udara.png" alt="jalur udara" title="ke Banjarbaru melalui jalur udara" width="85" height="68" class="alignleft size-full wp-image-875" />Bagi mereka yang menggunakan jalur udara, semisal pesawat, heli, balon udara atau karpet ajaib, juga <strong>sangat mudah menuju Kota Banjarbaru</strong>, karena bandar udara utama di Kalimantan Selatan, yakni Bandara Syamsuddin Noor berada di Kota Banjarbaru !!!</p>
<p>Jarak tempuh dari Bandara Syamsuddin Noor ke pusat Kota Banjarbaru (-bukan puser Kota Banjarbaru !!!) berkisar ±15 &#8211; 20 menit melalui jalur darat, yakni jalan utama propinsi Kalimantan Selatan. Sebegitu pula lah jarak tempuh dari bandara ke rumah saya. Pernah juga saya coba dari rumah ke bandara, hanya ditempuh dalam waktu 10 menit. Setelah itu saya tak berani lagi, takut dapat bonus nginap di rumah sakit.</p>
<p>Karenanya, bagi Anda yang tidak berada di Kalimantan dan ingin menggunakan jalur udara, selama ada penerbangan menuju Banjarmasin (di rute penerbangan disebutkan Banjarmasin), maka dipastikan pesawat tersebut akan mendarat di Banjarbaru. Kalau tidak ada, ya terpaksa menggunakan penerbangan yang connecting, atau nyambung, kalau istilah saya naik bis sih biasanya &#8216;ngecer&#8217;. </p>
<h3><a name="jalur_laut">Menuju Banjarbaru lewat Jalur Laut</a></h3>
<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/jalur_laut.png" alt="jalur laut" title="menuju Banjarbaru melalui jalur laut" width="85" height="68" class="alignright size-full wp-image-876" />Banjarbaru tidak memiliki daerah laut atau sungai yang dapat dijadikan jalur transportasi. Karenanya, jika ingin ke Banjarbaru melalui jalur laut haruslah melalui pelabuhan laut di daerah lain. Pelabuhan laut yang terdekat dengan Kota Banjarbaru berada di Banjarmasin, yakni pelabuhan Trisakti. Sementara yang dari daerah Sulawesi, biasa menggunakan pelabuhan di Batu Licin yang kalau ditempuh dari Banjarbaru masuk dalam hitungan jam.</p>
<p>Setelah sandar di Pelabuhan Trisakti, perjalanan ditempuh ke Banjarbaru melalui jalur darat yang biasanya melalui &#8220;jalan tol&#8221;. Tapi jangan bayangkan dengan jalan tol di jawa, di sini gratis. Jarak tempuh dari Pelabuhan Trisakti ke pusat Kota Banjarbaru berkisar ±45-60 menit. Kalau nekad, bisa ditempuh dalam ±20-30 menit. Namun untuk melakukan ini, saya sarankan untuk melengkapi diri dengan asuransi jiwa yang dilengkapi dengan klausul KO akibat kecerobohan.</p>
<h3>Ilustrasi Menuju Banjarbaru</h3>
<p>Misalnya saja saya dari Malang, Jawa Timur, maka akan ada rute sebagai berikut:<br />
01. Udara =  Malang » Surabaya » Banjarbaru<br />
02. Laut = Malang » Surabaya » Banjarmasin » Banjarbaru</p>
<p>Kalau misalnya dari Bandung, maka rute yang paling pendek adalah:<br />
• Bandung » Jakarta » Banjarbaru<br />
Dulu ada direct flight dari Bandung ke Banjarbaru, sekarang sepertinya sudah tidak ada.<br />
Untuk lewat laut, terakhir saya naik kapal rute Jakarta &#8211; Banjarmasin itu pada tahun 1991, dan waktu itu makan waktu 3 hari 2 malam.</p>
<p>Kalau misalnya dari Makassar, maka rutenya adalah:<br />
• Makassar » Banjarbaru (<em>direct flight</em>)</p>
<p><img alt="pakacil" src="/file/img/line.gif" title="pakacil" class="aligncenter" width="252" height="9" /><br />
Sidang pembaca yang budiman, demikianlah tulisan kali ini, semoga tulisan kali ini dapat memberikan informasi yang berguna dan menuntun sidang pembaca ke jalan yang benar menuju Banjarbaru.</p>
<blockquote class="note"><p>Jika sidang pembaca berkenan, sudilah <del>silalahi</del> untuk berbagi informasi, baik melalui komentar atau tulisan tersendiri, bagaimana kiranya rute ke kota tempat tinggal dari bandara dan/atau dari pelabuhan terdekat. Siapa tau berguna&#8230;<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_hayal.gif' alt=':wink:' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>Mohon maaf, untuk saat ini, tulisan ini masih sebatas informasi yang siapa tau berguna, belum ada pikiran untuk menyertakan voucher berupa tiket perjalanan menuju Banjarbaru pada tulisan ini. Saya masih banyak pikiran.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_kuda_ee.gif' alt=':kudaee:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jika mau ngulang baca rute perjalanan ke Banjarbaru, silakan klik tiap rute berikut ini:<br />
• <a title="jalur darat ke Banjarbaru" href="#jalur_darat">Jalur Darat</a> • <a title="jalur udara ke Banjarbaru" href="#jalur_udara">Jalur Udara</a> • <a title="jalur laut ke Banjarbaru" href="#jalur_laut">Jalur Laut</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/mengitari-banjarbaru/2010/dari-indonesia-ke-banjarbaru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istilah Titik-Titik di bawah Ini</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 21:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[istilah]]></category>
		<category><![CDATA[substansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Istilah bisa jadi hanya sekedar sebuah istilah, namun bisa jadi pula jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya sendiri. Istilah, bisa jadi begitu sederhana bisa jadi pula begitu rumit, begitu tinggi. Ada yang memposisikan istilah sebagai ciri sebuah kasta intelektualitas, ada pula yang suka-suka saja, mengalir apa adanya. Istilah bisa begitu lugas, bisa begitu mumet. Bahkan ada yang sampai menjadi tren.

Istilah bisa juga dipakai untuk menggiring opini, bisa dipakai untuk pencitraan, bisa dipakai menutupi sesuatu, pendek kata, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan. Dari era ’salah prosedur’ sampai ke era ‘dampak sistemik’ saja sudah banyak istilah yang beredar dari telinga ke telinga. Tapi yang pasti, mau istilahnya hitam, hirang, black, ireng, hideung, schwarz atau zwart, tetap saja kode warnanya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/salto_bingung.jpg" alt="salto bingung" title="salto bingung" width="85" height="81" class="alignleft size-full wp-image-868" />Ada 2 (dua) kategori tema yang biasa saya pegang kalau mengisi program-program semacam diklat keorganisasian. Pertama adalah <strong>Leadership</strong> dan yang kedua adalah <strong>Humanisme</strong>. Kalau kemudian mendapatkan jatah mengisi materi yang berbeda, maka biasanya itu karena kepepet. Sekalipun kedua materi itu berbeda dalam substansi, namun perbedaan itu sama sekali tidak berada pada substansi lain yang bernama honor.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_tidak.gif' alt=':ogah:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebelum terlanjur khilaf menulis panjang lebar soal honor, perlu saya tegaskan, bahwa tulisan ini sama sekali bukan masalah honorarium, bukan, sama sekali bukan! Cuma entah kenapa tiba-tiba saya teringat soal <strong>istilah</strong>. Padahal sebelumnya saya sudah mulai asik ngetik tulisan yang berjudul &#8216;Andai Saya jadi Hobnur&#8217; yang kemudian cuma saya simpan sebagai draft dan buka tulisan baru, ya soal istilah ini.<br />
<span id="more-867"></span><br />
Menurut <strong>KBBI</strong>, atau <strong>Kamus Besar Bahasa Indonesia</strong>, istilah itu adalah:</p>
<blockquote class="note">
<ol>
<li>kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu;</li>
<li>sebutan; nama;</li>
<li>kata atau ungkapan khusus.</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Sementara, menurut saya, <strong>istilah</strong> itu adalah, ya&#8230; nurut saja sama KBBI. Apa susahnya sih ngikut yang sudah ada, tinggal pakai, tak perlu pusing. Lagi pula, itu sudah resmi.</p>
<p>Masalahnya adalah&#8230; Saya kadang kala suka mengobrak-abrik istilah resmi, menjadi setengah resmi, atau malah bisa jadi amburadul. Contoh :</p>
<p>Kalau bicara soal <strong>leadership</strong>, saya seringkali bilang, bahwa sebenarnya itu adalah campuran dari bahasa inggris dan indonesia, yakni <strong>leader</strong> dan <strong>sip</strong>. Sehingga &#8216;leadership&#8217; itu berarti sebuah proses dimana seorang leader atau pemimpin dapat menjadi sip atau oke. Itu saja.</p>
<p>Kalau bicara soal <strong>humanisme</strong>, maka secara ngawur kerap saya katakan, kalau itu juga terdiri dari bahasa inggris dan indonesia, yakni <strong>human</strong> dan <strong>manis</strong>. Sehingga, humanisme adalah bagaimana caranya agar seorang human atau manusia itu menjadi manis, tentu saja tidak dalam artian fisik.</p>
<p>***<br />
Pada suatu waktu, seorang kawan bertanya, &#8220;apa itu kemerdekaan, apa itu kebebasan?&#8221;<br />
Saya jawab, &#8220;kebebasan adalah turunan pertama kemerdekaan terhadap aktivitas dan kehidupan sosial&#8221;.  <span style="color: #c0c0c0;">*mungkin habis mabuk gara-gara kalkulus*</span></p>
<p>&#8220;referensimu apa?&#8221;, itu kawan bertanya lagi.<br />
&#8220;kau tanya pendapatku, atau kau tanya pendapat orang lain?&#8221;, saya jawab sambil tanya.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>***<br />
Istilah bisa jadi hanya sekedar sebuah istilah, namun bisa jadi pula jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya sendiri. Istilah, bisa jadi begitu sederhana bisa jadi pula begitu rumit, begitu tinggi. Ada yang memposisikan istilah sebagai ciri sebuah kasta intelektualitas, ada pula yang suka-suka saja, mengalir apa adanya. Istilah bisa begitu lugas, bisa begitu mumet. Bahkan ada yang sampai menjadi tren.</p>
<p>Istilah bisa juga dipakai untuk menggiring opini, bisa dipakai untuk pencitraan, bisa dipakai menutupi sesuatu, pendek kata, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan. Dari era &#8217;salah prosedur&#8217; sampai ke era &#8216;dampak sistemik&#8217; saja sudah banyak istilah yang beredar dari telinga ke telinga. </p>
<p>Tapi yang pasti, mau istilahnya <em>hitam</em>, <em>hirang</em>, <em>black</em>, <em>ireng</em>, <em>hideung</em>, <em>schwarz</em> atau <em>zwart</em>, tetap saja kode warnanya <strong>#000000</strong>.</p>
<p>Lantas, apa maksudnya <strong>Istilah Titik-Titik di bawah Ini</strong> pada judul itu?<br />
Oh, tidak ada maksud apa-apa, sekedar judul, dari pada berjudul isilah titik-titik di bawah ini? nanti malah dikira UN. Hemmm&#8230; punya istilah favorit?<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, pada suatu dini hari<br />
dari isi kepala yang lagi tidak jelas mau apa<br />
istilah tepatnya, bingung &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/istilah-titik-titik-di-bawah-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Batu yang Tak Berputar</title>
		<link>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar</link>
		<comments>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sudut Lain]]></category>
		<category><![CDATA[batu ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[batu cincin]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[martapura]]></category>
		<category><![CDATA[paranormal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Itu dua orang teman saya mendatangi seorang paranormal, orang pintar katanya. Seorang teman bercerita bahwa sewaktu tidur ia bermimpi aneh, ia diberikan oleh seseorang batu dan diminta untuk menjaga. Sesaat setelah bangun tidur, ia menemukan batu di sisi bantalnya, sebagaimana batu yang dilihat dalam mimpinya. Batu itu lantas diserahkan pada si orang pintar atawa paranormal itu.

Sang Paranormal memperhatikan batu itu dengan saksama. Lalu ia menjelaskan bahwa batu itu adalah batu sakti, batu ajaib, memiliki pengaruh itu dan ini, serta beruntunglah ia yang dititipi batu itu lewat mimpi yang menjadi nyata. Karenanya ia wajib untuk menjaga batu itu, jangan sampai hilang. Demi mendengar penjelasan sang paranormal, tentu yang lain sakit perut menahan tawa. Kok ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_858" class="wp-caption alignleft" style="width: 135px"><img src="http://pakacil.com/file/2010/02/batu2.jpg" alt="Produk Batu-Batuan" title="Produk Batu-Batuan" width="125" height="94" class="size-full wp-image-858" /><p class="wp-caption-text">Bukan Punya Saya !!!</p></div>Saya lupa namanya, yang jelas dia senior saya di kampus dulu. Mas &#8230;. saya memanggilnya, walau saya sendiri selalu membiasakan adik kelas untuk tidak sungkan panggil nama saya langsung. Siang itu, beberapa orang duduk-duduk santai di depan himpunan, mengelilingi sebuah meja. Termasuk saya dan si Mas *benar² lupa namanya saya*.</p>
<p>Saya lihat di salah satu jarinya memakai sebuah cincin, batu akik. Saya betul² perhatikan itu cincin sampai akhirnya si mas itu sadar dan bertanya, &#8220;ada apa?&#8221;, begitu tanya si mas, pendek sekali bukan?  Merasa mendapat pertanyaan, saya pun memberi jawaban, &#8220;&#8230; oh, gak apa-apa mas. bisa liat cincinnya gak sebentar&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;oh boleh&#8230;&#8221;, kata si mas sembari melepaskan cincinnya. Ia bertanya lagi ada apa sembari menyerahkan itu cincin pada saya. Kali itu saya tidak memberikan jawaban, hanya menerima cincin itu yang lantas saya perhatikan dengan beragam gaya. Saya angkat keatas itu cincin, supaya jelas terkena matahari, saya turunkan ke bawah supaya terlindung cahaya. Semua dengan ekspresi serius, sangat serius bahkan. Tak lupa sambil manggut-manggut.<br />
<span id="more-856"></span><br />
Akhirnya, saya serahkan kembali itu cincin kepada si empunya sambil berucap, &#8220;bagus mas, bagus, dipakai saja dan jangan sampai hilang&#8221;. Si mas menerima cincinnya lagi sambil tersenyum, senanglah dia. Saya pun senang telah membuat orang senang. Walau sebenarnya saya tak mengerti apa-apa dan ada apa dengan itu cincin. Sebab yang saya tau cuma cincin itu memang bagus, dan memang harus dipakai, serta sudah seharusnya dijaga jangan sampai hilang. Soal muatan magis? ah&#8230; saya kan tak tau soal itu, kalau si mas merasa ada yang gaib gara² cara saya memperhatikan itu cincin, ya saya mohon maaf.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_getok.gif' alt=':bakbuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>• Jauh bertahun-tahun sebelumnya, <em>pada kantin sebuah SMA</em></p>
<p>Saya dan seorang kawan tengah duduk-duduk di kantin. Mudah-mudahan waktu itu memang waktunya istirahat, karena kalau tidak, berarti kami sedang bolos. Tak lama kemudian seorang guru muncul. Beliau mengenakan sebuah cincin dengan batu yang cukup besar di jarinya. Saya dan teman lirik-lirikan, sama-sama faham. <em>It&#8217;s show tiiiime </em>&#8230;</p>
<p>Setelah dikasih ijin, itu Bapak Guru melepaskan cincinnya dan menyerahkannya pada kami. Kami telaah dengan seksama dalam tempo yang tidak singkat. Teman saya melihat pada saya, dan saya mengerti maksudnya, untuk saling mendukung.</p>
<p>&#8220;luar biasa Pak&#8230; cincin Bapak ini, batunya, bisa menghilangkan haus&#8221;, katanya. Bapak itu terdiam penasaran dan menyimak. &#8220;Caranya begini Pak&#8230; kalau bapak haus, lepas cincin ini dari jari, ambil air segelas dan masukkan cincin ini ke dalam gelas itu. Lantas minum airnya&#8221;, urai teman saya menjelaskan. Bapak itu bengong dan sebagaimana biasa, saya dan teman tetap pasang tampang serius. Ah&#8230; maafkan kami Pak ya&#8230; Namun yang jelas, sampai sekarang komunikasi saya dengan Bapak itu masih berjalan baik.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_tepuktangan.gif' alt=':tepuk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>• Bertahun-tahun lalu, <em>di rumah seorang paranormal</em></p>
<p>Itu dua orang teman saya mendatangi seorang paranormal, orang pintar katanya. Seorang teman bercerita bahwa sewaktu tidur ia bermimpi aneh, ia diberikan oleh seseorang batu dan diminta untuk menjaga. Sesaat setelah bangun tidur, ia menemukan batu di sisi bantalnya, sebagaimana batu yang dilihat dalam mimpinya. Batu itu lantas diserahkan pada si orang pintar atawa paranormal itu.</p>
<p>Sang Paranormal memperhatikan batu itu dengan saksama. Lalu ia menjelaskan bahwa batu itu adalah batu sakti, batu ajaib, memiliki pengaruh itu dan ini, serta beruntunglah ia yang dititipi batu itu lewat mimpi yang menjadi nyata. Karenanya ia wajib untuk menjaga batu itu, jangan sampai hilang. Demi mendengar penjelasan sang paranormal, tentu yang lain sakit perut menahan tawa. Kok bisa?</p>
<p>Soalnya paranormal itu tidak tau kejadian sebenarnya. Batu itu bukannya di dapat dari mimpi, melainkan iseng-iseng diambil sekenanya di pinggir jalan dan iseng² pula ditanyakan pada sang paranormal dengan sedikit improvisasi hikayat penemuannya. Benar² bisa berjudul &#8216;jatuhnya kredibilitas seorang paranormal alias dukun&#8217;.<br />
 <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_ngakak.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="aligncenter" title="liner" src="/file/img/line.gif" alt="liner" width="252" height="9" /></p>
<p><div id="attachment_857" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-857" title="batu mulia kalimantan" src="http://pakacil.com/file/2010/02/batu.jpg" alt="batu mulia kalimantan" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Pusat Batu Mulia Kalimantan</p></div>Pada dasarnya, tulisan ini memang seputar batu namun sama sekali bukan tentang batu yang berputar, namun sebagai salah satu penunaian janji saya atas komentar saya pada <a href="http://ourlovenotes.com/hadiah-itu-aquamarine.html">tulisan mba sovi tentang batu</a>. Karena saat itu saya berjanji untuk menuliskan tentang <strong>pengalaman saya dengan batu</strong>. Lagi pula saya tak memiliki pengetahuan tentang batu-batu mulia. <del>usil terstruktur tengah kambuh</del></p>
<p>Namun, khususnya <strong>Kota Martapura</strong> di Kalimantan Selatan, memang terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan batu mulia di Indonesia. Beragam jenis batu mulia dapat diperoleh di Martapura.</p>
<p>Bahkan konon, kualitas intan yang berasal dari Kalimantan Selatan adalah salah satu yang terbaik di dunia, dan produksinya memang tak berlimpah macam di afrika. Sampai kadang makelar intan dari luar negeri lansung datang ke Banjarbaru atau Martapura untuk mencari intan. Kebetulan salah satu dari mereka juga pernah berkunjung ke rumah untuk sebuah urusan lain, namun setelah saya desak, lelaki dari Belgia itu mengaku ke Kalsel memang khusus untuk mencari intan. *<em>Belgia adalah salah satu pusat penggosokan intan terbaik</em>.</p>
<p>Karenanya, jika kebetulan jalan ke Kalimantan Selatan, tak salah kiranya untuk mengunjungi pusat batu mulia di Martapura. Sudaaaah&#8230; selesai&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/sudut-lain/2010/seputar-batu-yang-tak-berputar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dan pada akhirnya &#8230;</title>
		<link>http://pakacil.com/personal/2010/dan-pada-akhirnya</link>
		<comments>http://pakacil.com/personal/2010/dan-pada-akhirnya#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 19:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pakacil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[dampak sistemik]]></category>
		<category><![CDATA[hibernasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pakacil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakacil.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Ijinkan saya menyapa kawan semua, melalui tulisan pertama setelah hibernasi sekian lama. Terima kasih dan penghargaan yang luar biasa, bagi kawan yang berkunjung ke tempat ini. Permohonan maaf yang luar biasa, dari saya untuk teman semua, saya tak sempat berkunjung. semoga saja saya tidak dimakzulkan dari silaturahmi yang telah ada.
Doa saya, semoga teman semua dalam keadaan yang terbaik … ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="init">J</span>arum jam dinding sudah menunjukkan lebih dari pukul 2 dini hari. Hujan di luar sana, agak dingin terasa di dalam sini, dalam ruangan ini, tempat di mana biasa saya berada. Banjarbaru, 1 Februari 2010. Demikian kalender sebutkan dalam angka dan nama.</p>
<p><span style="color: #900000;">&#8220;Hello darkness, my old friend. I&#8217;ve come to talk with you again. Because a vision softly creeping. Left its seeds while I was sleeping, and the vision that was planted in my brain, still remains. Within the sound of silence&#8230;&#8221;</span>, demikian alunan lirik The Sound of Silences yang dibawakan Simon &amp; Garfunkel, menemani saya malam ini.</p>
<p>Ya &#8230; di luar masih tedengar suara hujan meski tak selebat semula. Mungkin berbanding lurus, dingin di dalam sini pun terasa berkurang. The Dance yang dibawakan Garth Brooks kini menemani saya. <span style="color: #900000;">&#8220;And now I&#8217;m glad I didn&#8217;t know. The way it all would end the way it all would go. Our lives are better left to chance. I could have missed the pain&#8230;&#8221;</span>, katanya bernyanyi.<br />
<span id="more-847"></span><br />
<span class="init">F</span>acebook, 16 Januari 2010 # 09:01am<br />
<span style="color: #003156;">memulai kembali aktivitas online lewat fesbuk, semoga kawan semua dalam keadaan yang terbaik&#8230; ; ijinkan saya untuk bernyanyi terlebih dahulu untuk kawan semua&#8230; &#8220;mister toyyib&#8230; mister toyyib&#8230; why you&#8217;re not go home &#8211; go home, your children&#8230; your children&#8230; , calling calling on your name&#8230;&#8221;</span></p>
<p>Itulah langkah pertama saya untuk kembali menapaki jejaring di dunia maya. Sebuah pembiasaan lagi, melalui update status facebook yang juga saya tinggalkan. Sebelum kembali sepenuhnya mengakrabi blog dan melakukan blogwalking. Karena blogging bagi saya memerlukan lebih dari sekedar waktu. Tapi kalau cuma update status facebook, <em>maaf-maaf</em>, sambil e&#8217;e juga bisa.</p>
<p>ah,  sebentar &#8230; saya istirahat sejenak.<br />
Atlantic Star tengah melantunkan I&#8217;ll Remember You<br />
<del datetime="2010-01-31T18:30:03+00:00">membuat ingat warung makan Atlantik dan anaknya pemilik warung, manis&#8230;</del><br />
&#8230; &#8230; &#8230;</p>
<p><span class="init">R</span>upanya sudah pukul 02.36 wita sekarang. Hujan di luar sana sepertinya kian lebat. Bukankah ini malam yang indah, teman? Saya yakin, kucing-kucing saya pun tengah bengong entah di sudut mana. Mungkin pula kini mereka tertidur, lelap kekenyangan setelah sekitar pukul 01.30 dikasih makan. Jadual makan mereka ikut yang punya. Sama tak teraturnya.</p>
<p><em>duh&#8230; permisi ke belakang sebentar, kebelet pipis</em> &#8230;<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-848" title="pemadam" src="http://pakacil.com/file/2010/02/pemadam.gif" alt="pemadam" width="100" height="30" /><br />
&#8230; &#8230; &#8230;<br />
&#8230; &#8230; &#8230;<br />
sudahhh&#8230; legaaa &#8230;</p>
<p><span class="init">S</span>ebagaimana yang sudah, setelah hibernasi akibat terkena <strong><a href="http://wiki.pakacil.com/index.php/Dampak_sistemik" title="Pengertian, penjelasan dan teknik analisa dampak sistemik">dampak sistemik</a></strong> dari ragam hal, kali ini tampilan halaman yang ada di sini juga mengalami sedikit perubahan. Hanya sebagai penyegaran. Mulai dengan adanya aksen kepala burung enggang yang terlihat samar pada header, siluet lawung yang tergradasi. Entahlah, saya tak tau, apakah kerumunan orang-orang di atas itu masih tau tentang burung enggang dan lawung. Semoga sejarah akan memaafkan kita.</p>
<p><span style="color: #900000;">&#8220;I will dance so freely, holding on to no one. You can hold me only, if you too will fall. Away from all these useless fears and chains&#8221;</span>, kali ini  Josh Groban menyapa melalui Let Me Fall &#8230; lembut, sangat lembut. <span style="color: #900000;">&#8220;There&#8217;s a moment when fear And dreams must collide&#8221;</span>, katanya pula.<br />
&#8230;</p>
<p><span class="init">P</span>akacil.com ;  1 Februari 2010  # lewat dari pukul 3 dini hari</p>
<blockquote><p>Ijinkan saya menyapa kawan semua, melalui tulisan pertama setelah hibernasi sekian lama. Terima kasih dan penghargaan yang luar biasa, bagi kawan yang berkunjung ke tempat ini. Permohonan maaf yang luar biasa, dari saya untuk teman semua, saya tak sempat berkunjung. semoga saja saya tidak dimakzulkan.<br />
Doa saya, semoga teman semua dalam keadaan yang terbaik &#8230;</p></blockquote>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-849" title="pakacil nyanyi" src="http://pakacil.com/file/2010/02/nyanyi.gif" alt="pakacil nyanyi" width="33" height="56" />Sebagai persembahan awal, ijinkanlah saya menyanyikan lagu untuk kawan semua, lagu Indonesia dengan cita rasa internasional, sudah globalized ceritanya, yang berjudul Bang Toyyib<br />
<span style="color: #003156;">&#8220;mister toyyib… mister toyyib… why you’re not go home – go home, your children… your children… , calling calling on your name…”.</span></p>
<p>dan pada akhirnya &#8230; selamat berjumpa &#8230;   <img src='http://pakacil.com/wp-includes/images/smilies/emo_peluk.gif' alt=':peluk:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><span class="init">B</span>anjarbaru, pada suatu rentang waktu<br />
hujan di luar sana sudah berhenti<br />
semoga hangat perlahan menyeruak<br />
salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakacil.com/personal/2010/dan-pada-akhirnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
