Hidangan baru bernama GG

Singkatan GG saat ini sudah begitu populer di kalangan birokrat Kota Banjarbaru, tidak hanya pada level pejabat, tapi juga pada tingkat staff. Walaupun mungkin tidak seluruhnya mengerti dengan jelas apa itu GG, tapi setidaknya hampir semua karyawan Pemko Banjarbaru setidaknya pernah mendengar dan fasih mengucapkan GG.


GG, bukanlah singkatan salah satu perusahaan dan merk rokok yang begitu terkenal di Indonesia itu, melainkan sebuah wacana yang dikembangkan oleh Al Gore, mantan Wapres Amerika Serikat yang sekarang di uji coba terapkan di beberapa pemerintahan, khususnya Indonesia. Konon, kenapa Indonesia terpilih untuk melaksanakan ini, karena banyak bantuan internasional dan khususnya bantuan dari US yang menguap entah kemana tanpa hasil yang jelas.

Dengan demikian, kalau menilik dari sejarah GG alias Good Governance dan bukan Good Goverment, tentu saja jangan buru-buru berbangga hati. Sebab Indonesia terpilih sebagai daerah uji coba GG itu karena tingginya tingkat kebocoran, maka akhirnya logis saja kalau kemudian beberapa daerah di Indonesia yang dipilih sebagai pilot project wacana GG ini juga karena adanya sinyalemen tingginya tingkat kebocoran. Cuma kemudian berdasarkan kebiasaan umum di Indonesia, yang sangat tidak mau menerima kata kegagalan, maka bisa jadi juga daerah yang dipilih adalah daerah dengan tingkat kebocoran rendah, sehingga nantinya angka keberhasilan implementasi GG ini akan semakin tinggi. Nah, kalau demikian halnya, tentu saja tidak akan salah kalau berbangga hati. Sekali ini, ini hanya opini.

Kembali ke persoalan, euforia GG di Kota Banjarbaru memang sangat menarik untuk diikuti, tentu saja bagi yang merasa tertarik, karena rupanya GG ini telah mempengaruhi para birokrat di Banjarbaru sedemikian rupa.

Bukti yang paling sahih dan sederhana adalah bertebarannya spanduk-spanduk yang mendukung pelaksanaan GG ini. Setidaknya dengan spanduk-spanduk yang dipajang tersebut, kemeriahan GG tidak akan mengalahkan kemeriahan peringatan-peringatan hari besar lainnya. Persoalan apakah transparasi sudah terwujud, itu adalah soal lain.

Para pejabat di Banjarbaru mungkin sibuk menjelaskan prinsip-prinsip pelaksanaan GG. Kalau perkara menghafal prinsip-prinsip GG, mungkin anak SMP pun akan dapat melakukannya dengan mudah, paling-paling hanya akan terjebak pada jumlah yang sebenarnya prinsip dasar GG. Karena para ahli sendiri menyampaikan dengan caranya masing-masing tentang GG ini. Kalau kemudian permasalahan akuntabilitas pemerintahan itu terlupakan, itu adalah persoalan lain, karena selama ini para pejabat itu tengah sibuk menjelaskan apa itu GG dan terdiri dari berapa prinsipkah GG itu. Walaupun kadang ada saja para pejabat yang tidak bisa menyebutkan dengan benar kepanjangan GG itu sendiri, Good Governance disebut sebagai Good Government, sungguh, 2 hal yang sungguh berbeda. Kalau saya pribadi masih dapat memaafkan kesalahan, karena mungkin saja masih belajar apa itu GG. Yang sulit dimaafkan mungkin kenapa saat sudah lama jadi pejabat baru saja belajar menjadi seorang birokrat yang baik, karena tidak perlu GG untuk menjadi seorang pejabat yang jujur dan bersih.

GG memang sangat fenomenal. Sampai-sampai beberapa PTT yang saya ajak bicara ternyata menyampaikan keluhan yang intinya sama, yakni susah untuk mencari tambahan saat ini, akibat GG ini. Tentu saja mereka mengeluh, karena selama ini tidak lagi mendapatkan honor dari beberapa proyek/kegiatan yang mereka terlibat di dalamnya, padahal mungkni selama ini itulah yang mereka harapkan.

GG memang mempengaruhi banyak orang dan juga seharusnya mempengaruhi masyarakat. Bagaimana pengaruh GG kepada masyarakat? Jelas sekali, dengan implementasi wacana GG ini, tentu saja publik akan semakin dimanjakan oleh daerah, publik akan semakin dilayani dan akan memperoleh pelayanan yang mantap. Masyarakat tidak akan khawatir lagi kalau berurusan dengan pemerintah, masyarakat akan dapat semakin mempercayai pemerintahnya, masyarakat akan memperoleh kepastian dalam pelayanan, masyarakat akan dapat melakukan kontrol kepada pemerintahnya dan masyarakat tidak akan melakukan banyak dosa berjamaah karena tidak lagi sibuk mengurusi gosip bahwa kepala dinas A selalu korupsi, bahwa pejabat B selalu KKN dan lain sebagainya.

Seharusnya, GG di Banjarbaru tidak lagi sebatas wacana, sudah saatnya mengambil tindakan yang jelas, membangun sistem dan mengembangkan unsur pendukung yang cukup. Suatu hal yang mustahil tata pemerintahan yang baik akan tercapai apabila hanya sebatas pemajangan spanduk-spanduk dimana-mana tanpa adanya perubahan perilaku manajemen pemerintahan itu sendiri.

Bagi sebagian orang, GG memang akan menyakitkan namun sungguh akan memberikan sesuatu yang luar biasa bagi sebagian orang banyak lainnya, walaupun sebetulnya tidak perlu GG untuk menjadi seorang pejabat publik yang bersih dan baik.

GG, memang hanya wacana, masih sebatas teori, dan inilah yang kini kita santap beramai-ramai.

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain