Kali ini bukan soal insiden padamnya aliran listrik saat upacara resmi peringatan hari jadi Kalimantan Selatan di Banjarbaru tempo hari yang membuat saya tertarik, soalnya kejadian macam ini sudah biasa dan tak membuat kami cengeng dan/atau disiarkan melalui jaringan nasional kalau cuma soal mati lampu, macam di beberapa daerah dibagian lain negeri nan indah ini.
Bukan pula karena lagu Farid Hardja yang beken itu.. oouooo.. karmila… oouooo.. karmila…, tapi kali ini kisah seorang gadis yang bernama asli Nurkamilah dan juga memiliki nama bukan sebenarnya, Memey.
Kenapa saya tertarik dengan Memey? naaah… ini tentu ada kisahnya, ada asal muasalnya. Sebab pertama tentu karena saya adalah seorang lelaki tulen yang sempat hafal Dasa Dharma Pramuka tapi kurang telaten menabung.
Sebab kedua adalah, karena Memey bagi saya adalah representasi dari sebuah kinerja sistem. Sebab ini menjadi sebab utama dan terutama ketertarikan saya. *sekali-kali meletakkan sebab utama pada urutan kedua tak masalah toh?*
Berawal dari sebuah ajang bernama Pemilihan Nanang Galuh tingkat Kota Banjarbaru, Memey menjadi pemenang dan dinobatkan menjadi Galuh untuk tingkat Kota Banjarbaru. Selamat …
Mafhumnya, Memey dan juga Nanang Banjarbaru terpilih, akan mewakili Kota Banjarbaru pada Pemilihan Nanang-Galuh tingkat Propinsi Kalimantan Selatan. Selamat lagi…
“…Kok bisa begitu ?!?…”Namun… *naah, sudah ada aroma gak enak nih* pada saat ajang Pemilihan Nanang Galuh Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan, ternyata bukanlah Memey yang mewakili Galuh Banjarbaru, melainkan seorang gadis lain yang bernama Mutia Ananda, putri tercinta Hj. Zubaidah, Ketua Panitia Penyelenggara Pemilihan Nanang-Galuh Banjarbaru, yang sama sekali tak pernah mengikuti seleksi tingkat Banjarbaru. Kiamaaaaat…
Kok bisa ??? …
Begini alasannya, menurut Penyelenggara …
Tidak memiliki waktu antara ajang tingkat Banjarbaru dan Kalimantan Selatan, sehingga keikutsertaan Mutia dan Ade Khomaini (Nanang Banjarbaru terpilih) adalah melalui jalur umum, yakni melalui agensi. Mutia dan Ade berasal dari agensi yang sama.
oke… kalau itu alasannya maka …
- Saya sangat mempertanyakan kinerja Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Banjarbaru. Apakah sama sekali tidak memiliki informasi tentang pelaksanaan ajang ini ditingkat propinsi yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun itu?
- Hal lain yang tercermin dari kejadian ini adalah, munculnya sebuah pertanyaan lain, bagaimana sebenarnya kualitas perencanaan kerja yang dilakukan oleh Disparpora Kota Banjarbaru?
- Melalui jalur umum? Pada sisi lain propinsi sudah menjelaskan bahwa mereka yang bersaing di provinsi adalah hasil penjaringan di tingkat kabupaten/kota. Siapa yang melakukan kebohongan? Apakah propinsi yang tetap menerima jalur umum? atau Banjarbaru yang mengatakan bahwa yang dikirim oleh Banjarbaru itu merupakan hasil penjaringan?
Setidaknya sudah 2 hari ini sebagian media massa di Kalsel mengangkat kejadian ini, namun belum terlihat ulasan tentang pertanyaan ketiga di atas itu.
Sialnya atau mantapnya, saya yang memang tak pernah suka terhadap ajang macam ini, atau ajang putri-putrian dan miss-miss-an, seolah-olah mendapat durian runtuh, untuk kian tak menyukai ajang macam ini. ckckckck… tak salah mungkin kalau kali ini saya merasa sangat beruntung dengan kejadian ini.
Pada sisi lain, saya turut merasa bangga dengan sikap yang diambil oleh Nurkamilah (Memey, -nama panggilannya) yang memutuskan untuk mengembalikan gelar dan semua hadiah yang telah diterimanya kepada penyelenggara. Salut …
Sungguh… jika misalnya ada semacam penalti dari propinsi untuk Banjarbaru atas kejadian ini, misalnya saja Banjarbaru dilarang untuk mengikuti ajang Pemilihan Nanang-Galuh tingkat Propinsi Kalimantan Selatan tahun depan, maka saya akan termasuk salah seorang yang akan sangat super duper ikhlas menerimanya. Bahkan saya sangat berharap harus ada putusan yang bersifat punishment atas hal ini.
Sebagai pribadi atau individu, dan atas dasar pandangan subyektif, saya memang sudah dari sana-nya tak suka atas ajang macam ini. Namun, dalam kapasitas sebagai warga Banjarbaru, saya merasa malu…
![]()















itu artinya memey sebenarnya beruntung diselamatkan situasi
dan lebih beruntung lagi kalau sempat baca tulisan pakacil ini dan ngajak kopdar
Saya sudah baca beritanya di B-Post, dan lumayan asik pemaparan fakta yang ditulis wartawan B-post – si Aris.
Beberapa data yang saya tangkap:
1. Memey adalah pemenang pemilihan Galuh Banjarbaru
2. Memey tidak diikut sertakan ke pemilihan Galuh Provinsi
3. Ade Khomaini adalah pemenang pemilihan Nanang Banjarbaru
4. Ade Khomaini diikut sertakan ke pemilihan Nanang Provinsi
5. Wakil Galuh Banjarbaru ke tingkat provinsi adalah Mutia Ananda putri dari Hj. Zubaidah
6. Hj. Zubaidah adalah KETUA PANITIA PEMILIHAN NANANG DAN GALUH BANJARBARU
Pertanyaannya adalah:
“Apakah peserta pemilihan Nanang da Galuh tingkat provinsi HARUS berasal dari pemenang di tingkat kabupaten/kota?”
note:
idem, saya juga sebenarnya tidak peduli dengan pemilihan macam penis atau vagina terbaik macam ini, tapi inti masalahnya adalah kejelasan aturan dan hukuman bagi yang memang bersalah..
kenapa yaaa Pakacil ga suka dengan pemilihan NAGA banjar???
macem-macem aja tu penjelasan Hj.Zubaidah, kalo pake jalur umum ngapain pake ada pemilihan berjenjang di tingkat kabupaten/kota, sekalian aja buka jalur umum jadi ga usah pake pemilihan naga di tingkat kabupaten/kota.
gmana si hajjah teh..
Saya sepertinya mencium aroma KKN di sini….tapi tak tauu lah…
Sekalian aja Ibu nya yang diikutkan sama suaminya yang jadi nanangnya..
secantik apa coba anaknya itu sehingga memey yang telah melewati seleksi sebegitu panjangnya hingga jadi juara tapi tidak diikut setakan
Ya..semakin aneh aja.. lucu kalau baca.. kenapa waktunya mepet tapi nanangnya bisa aja dikirim ya..?
Ikut salut juga buat Memey… sabar aja deh..! Terus berkarya aja !
Sebagai pribadi atau individu, dan atas dasar pandangan subyektif, saya memang sudah dari sana-nya tak suka atas ajang macam ini. Namun, dalam kapasitas sebagai warga Banjarbaru, saya merasa malu…
Malu karena ajangnya, atau malu karena amburadulnya
but
eniwei
ralat dr pemberitaan dkoran mas, nama lengkap saya Nurkamilah.
terima kasih atas pendapatnya.
kebetulan tempaan alam swaktu aq msh aktif di organisasi mapala unisi yogyakarta, mengajarkan banyak hal dalam diriku. salah satunya keras menegakkan prinsip. klo iya blng iya, klo ngga blng ngga..
jng mpe ‘iya yg ngga ngga’..
Eh, ada memey yang aseli.. Kopdar yuk bu…
*mencuri start*
“tempaan alam swaktu aq msh aktif di organisasi mapala unisi yogyakarta,”
Boleh neh diadakan kopdar dengan sesama anggota mapala…
Pemenang haruslah yang mewakilkan…
gak adil nih namanya..
Salut Buat Memey.. Prinsip anda bagus,,
slm lestari buat memey
jiahhhhh…aneh!!!!
kok bisa2nya sampe seprti itu.
salut sama memey, benar2 mengambil sikap yang mungkin panitia peyelenggara jadi mikir *mudah2an bisa berpikir atas sikap memey*….
Sebagai manusia yang terdampar di dalam kantor dibawah pemko banjarbaru, mungkin statement dari salah seorang pejabat pemko Banjarbaru bisa menjawab pertanyaan anda tadi:
Disbudpar itu kerjaannya kan setahun 2 kali: Festival tanglong dan Ultah Banjarbaru, selebihnya? NOTHING!!!!
*catatan, statement tersebut sudah saya modifikasi*
no Comment bro..
salut buat memey !
jari tengah buat panitia !
ah keduluan ente posting tentang ini,
jadi kapan kopdarnya, bos ?” hihihi
[...] nurkamilah alias memey, telah mengambil sikap tegas yang patut untuk diapresiasi dan memberikan pelajaran kepada mereka-mereka yang terlibat. [...]