
www.pakacil.com memberikan layanan delivery. Tulisan akan dikirim langsung ke email Anda dengan bantuan FeedBurner. Untuk memastikan, konfirmasi registrasi akan dikirim melalui email Anda. Terima kasih.
|
 10/02/2010 @ 23:27 wita
Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:
Saya mengerti dan memahami bahwa:
- Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.
- Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.
- Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.
- Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian penulisnya.
Klik Next untuk melanjutkan atau Cancel untuk membatalkan :

 09/02/2010 @ 02:49 wita
Bisa jadi anak muda itu ingat bahwa kami pernah bersua pada satu kesempatan, karena itulah ia tersenyum dan mengangguk tatkala melihat wajah saya. Saya pun tersenyum dan mengangguk. Ia tetap dengan properti yang sama, sebuah gitar. Mulailah ia memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya kenal judulnya. Ah… pasti itu lagu anak band abad 21.
Sore itu, saya dan Abahnya Najmy tengah menikmati bakso, pakai es. Sebab bakso kalau tidak pakai es jadinya bako.
Seingat saya, dari seluruh pengamen yang pernah saya jumpai di Banjarbaru, anak muda inilah yang memiliki suara paling bagus. Pada perjumpaan kami yang pertama dulu, saat ia mau beranjak pergi, kami bilang, “eit… mau kemana, nyanyi satu lagu lagi, Ibu, lagunya Iwan Fals”. Satu lagu terfavorit dalam hidup saya, karena kesederhanaan dan isinya yang luar biasa.
 08/02/2010 @ 02:52 wita
Sidang pembaca yang budiman, berawal dari sebuah pertanyaan yang masuk ke buku tamu pakacil.com ini, serta pertanyaan lain yang masuk melalui form kontak via email tentang Kota Banjarbaru, rasanya tak salah bagi saya untuk kali ini kembali bercerita tentang kota ini, Kota Banjarbaru.
Karenanya, sebelum cerita ini dimulai, ada baiknya sidang pembaca yang budiman mengatur posisi duduk, kasihani pinggangnya. Silakan atur jarak pandang dari monitor, kasihani matanya. Bagi yang belum mengambil air minum, silakan diambil. Terakhir, mohon kepada sidang pembaca untuk membaca dengan tenang, jangan melakukan tindakan² yang tidak semestinya, misalnya membaca ini sambil nyetir atau sambil main futsal. Here we go….
 06/02/2010 @ 05:21 wita
Ada 2 (dua) kategori tema yang biasa saya pegang kalau mengisi program-program semacam diklat keorganisasian. Pertama adalah Leadership dan yang kedua adalah Humanisme. Kalau kemudian mendapatkan jatah mengisi materi yang berbeda, maka biasanya itu karena kepepet. Sekalipun kedua materi itu berbeda dalam substansi, namun perbedaan itu sama sekali tidak berada pada substansi lain yang bernama honor.
Sebelum terlanjur khilaf menulis panjang lebar soal honor, perlu saya tegaskan, bahwa tulisan ini sama sekali bukan masalah honorarium, bukan, sama sekali bukan! Cuma entah kenapa tiba-tiba saya teringat soal istilah. Padahal sebelumnya saya sudah mulai asik ngetik tulisan yang berjudul ‘Andai Saya jadi Hobnur’ yang kemudian cuma saya simpan sebagai draft dan buka tulisan baru, ya soal istilah ini.
|
|
Yang Barusan Ngomen...