Apakah itu bernama nintendo, sega, atau play station, tak pernah kuakrabi semuanya. Termasuk PC Game. Kalau game yang ada di komputer itu seadanya saja. Sudah hampir tidak pernah memainkannya lagi. Kalaupun ada, maka itu sebatas zuma dan tumblebugs. Pernah juga sih menginstalasi serta memainkan Fritz dan Chessmaster, keduanya game catur, namun sekarang sudah tidak lagi.
Apalah lagi dengan berbagai ragam permainan olah raga, perang-perangan, bangun kota dan sejenisnya itu. Jangankan memainkan, namanya saja tak tau. Pernah datang seorang kawan, ngetes apakah master instalasi gamenya masih bagus. Setelah selesai diinstall, coba kumainkan dan ternyata hasilnya adalah pusing-pusing. Benar-benar pusing kepala, sehingga harus sampai istirahat sejenak dari depan PC.
Nah, ini adik sepupu datang meminta bantuan untuk instalasi dan setting game menggunakan joystick. Alamat kiamat.
Benar saja…
Sore hari datang ke rumah si Ihza, ambil DVD master game-nya, dan lakukan instalasi program. Sukses. Ya, memang kalau cuma sebatas instalasi game mungkin masih bisa. Tiba saatnya pasang stick dan nyoba, apakah ada masalah atau tidak.
Benar lagi, ada masalah. Ada tampilan untuk mensetting nama pemain, ku gerak-gerakkan stick untuk memilih huruf. Hebat, pilihan bergerak kian kemari. Namun sialnya, tak kunjung bisa memilih abad yang dimaksud. Semua tombol dipencet, hasilnya tetap sama, tidak ada perubahan, yang ada bolak-balik tak karuan.
Ihza diam tak bersuara. Aku khawatir dia kesal dan tak sabar menunggu. Akhirnya kusampaikan, “sebentar ya Za, kakak telpon teman dulu…”, ucapku seraya langsung mengambil telpon dan menghubungi seorang kawan yang memang teramat fasil soal game. Telpon diangkat…
“Her, makai joystick gimana sih? ada semacam tombol enternya ga?”
“oohh… main game ya?”
“ga, buat adik sepupuku. Gimana nih?”
“itu biasanya… bla….bla….bla….bla….“, panjang lebar dijelaskan dan ternyata sampai kutuliskan ini tak ada satupun yang kuingat lagi.
Ditengah mendengarkan kuliah tentang joystick, tiba-tiba layar monitor memberi tampilan yang berubah, nampaknya game sudah mulai berjalan. Permainan bola. Ihza asyik dengan stick yang ada ditangannya. Klak-klik entah apa yang dimainkan, yang jelas semua berjalan sebagaimana mestinya. Telpon ku tutup.
“lho, itu tadi Ihza yang mainkan sampai bisa jalan begitu?”, tanyaku.
“inggih…” sahut Ihza.
“Ihza bisa main? Pakai stick itu? ngatur-ngaturnya?”
“inggih…” sahut Ihza lagi.
“sudah lama bisanya?”
“sudah…”
“kok ga bilang?”
“hehehehe…..”, bukan inggih lagi yang keluar, tapi tertawa.
Aku terdiam, knocked Out.

mungkin sesuatu :
kalau memang sudah tak bisa, memang tak bisa diapa-apakan lagi. Menerima kenyataan itu memang kadang adalah pilihan yang terbaik. Merubah sebuah kenyataan memang akan melahirkan sebuah kenyataan lainnya. Namun ada kenyataan yang mungkin tak kan pernah berubah, bahwa aku memang tak bisa main game.















[...] NOTE: ini adalah skrinsyut dari kejadian yang dialami oleh dunia persepakbolaan virtual bernama Pro Evolution Soccer. Game jahanam yang membuat saya ketagihan saat ini. Game ini juga pernah diinstall di kompinya Pakacil dan langsung membuatnya pusing. [...]