Gara-gara futsal ini pula, rumah ini kadang dipenuhi oleh pasukan siswa adikku itu. Aku yang sampai saat ini tidak tau, berapa jumlah pemain dalam satu tim futsal, kadang juga bingung, keramaiannya melebihi sebuah kesebelasan sepak bola. Kalau soal kesebelasan ini aku tau persis, sebab jumlah pemain dalam tim sepakbola yang bermain adalah 11 orang. Gara-gara futsal ini pulalah kemarin aku sempat sedikit sewot. Sebabnya adalah sandal. Sandal? Kok bisa?
Kalau memang sudah mau jadi masalah, maka apapun itu, bakal jadi masalah. Sandal pun bisa jadi masalah. Apalagi kalau sampai dua pasang. Belum lagi kalau persoalan sandal ini ditambah dengan roti. Gawat.
Alkisah, setibanya dari Banjarmasin kemarin sore, aku langsung menuju ruangan tempatku biasanya bekerja. Biasanya, hal pertama yang kulakukan adalah mencari sepasang sandal yang biasa digunakan untuk di dalam rumah. Ternyata sandal itu lenyap dari posisinya. Ah, mungkin hanya karena lupa meletakkannya. Kucoba mencari sandal back-up yang sepasang lagi, ternyata hasilnya sama, lenyap. Pikiranku sudah mulai berputar, kalau kedua pasang sandal itu sudah tidak ada di merata tempat yang dicari, maka tentu tidak lenyap dengan sendirinya, pasti ada keterlibatan pihak lain. Aku belum tau siapa.
Hal lain yang membuat bertambah geram adalah, hilangnya sebagian besar potongan roti yang ada di meja komputer. Benar-benar hilang. Masalah ini cukup besar, karena membuyarkan rencana yang sudah disusun diperjalanan dari Banjarmasin. Bahwa aku malas untuk cari makanan dalam bentuk nasi, maka aku cukup mengkonsumsi potongan tepung yang dimasak + cokelat itu saja setibanya di rumah. Bayangan yang cukup indah bagiku, apalagi dalam keadaan lapar. Namun apa daya, setibanya di rumah potongan roti ini sudah lenyap dan asemnya, aku hanya disisakan sedikit potongan, benar-benar sedikit, dan bahkan potongan yang sedikit ini kubagi dua, untukku dan untuk seekor kucing yang dari tadi membututi dan mengeong minta makan.
Sandal tiada dan rotipun lenyap.
Aku tipe orang yang tidak suka kalau ada seseorang apalagi banyak orang yang tidak kukenal, apalagi tidak kuajak untuk masuk ke ruang kerjaku. Karena bagiku ini adalah wilayah dengan privacy cukup tinggi. Sebab hanya dua ruangan yang kuakrabi di rumah ini, kamar tidur dan ruang kerja, selebihnya hanya pendukung dan dikunjungi sekedar perlu saja, seperti kamar mandi dan kamar kecil.
Aku tipe manusia yang cukup ketat dengan aturan menyangkut barang-barang pribadi. Misalnya kalau meminjam, maka harus dikembalikan pada waktunya dan tempatnya. Kalau pinjam bukuku, maka aturannya akan tambah banyak lagi, tidak boleh dilipat, dilarang digulung, harus menggunakan pembatas buku atau ingatan saja untuk penanda halaman, dan lain sebagainya.
Beragam aturan itu semua bukan karena aku pelit, paling tidak menurutku, aturan itu kubuat hanya mendukung segala properti yang ada dalam kewenanganku agar tidak mengganggu irama hidupku dan yang terkait dengannya.
Karena itulah, begitu tau sandal (& roti) itu tidak ada, aku sudah mulai pusing untuk mencari siapa yang bakal kena semprot. Itu barang pribadi, bukan barang umum! Sembari menenangkan diri, aku hanya duduk di teras rumah sembari menikmati secangkir teh panas buatan sendiri. Melewatkan waktu dengan melamun dan menelpon rekan-rekan.
dan ternyata….
Tidak berapa lama kemudian datanglah pasukan futsal adikku itu. Mataku tertuju pada dua pasang kaki, dan aku mengenali persis, sangat pasti, bahwa mereka mengenakan sandalku. Mereka mengenakan sandalku yang seharusnya untuk digunakan di dalam rumah, mereka gunakan untuk aktifitas di luar rumah. Ini kesalahan. Mereka menggunakan itu tanpa ijinku, ini kesalahan besar. Mereka mengambilnya dari ruanganku, ini kesalahan sangat besar. Total, ada tiga kesalahan.
Rombongan pasukan yang dikomandani adikku itu langsung menuju teras belakang rumah, seperti biasa mereka ngumpul di sana. Adikku kalau di luar sekolah memang cenderung seperti teman dengan para siswanya. Aku sebenarnya suka saja dengan hal tersebut. Tapi kalau kemudian para siswa itu agak kelewatan di rumah ini, maka bagiku itu bukan salah para siswa itu, melainkan salah adikku yang tidak memberikan informasi mengenai tata tertib di rumah ini, apalagi yang berkaitan dengan barang milik orang lain.
Sementara mereka asyik ngobrol dan berbincang tentang pertandingan yang baru dijalani, aku mandi sore, hitung-hitung mendinginkan kepala. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku langsung panggil adikku dan ku ajak ke teras. Kuperlihatkan padanya sepasang sandal yang tadi kucari-cari sambil kukatakan padanya: "ternyata, murid-muridmu itu yang pakai sandalku tanpa ijin, dan mereka mengambilnya dari ruanganku. Aku tidak suka itu. Aku tidak mau tau caranya, yang penting murid-muridmu itu harus bertanggung jawab, sandalku ini harus bersih sebelum kugunakan lagi". Hal selanjutnya yang terjadi adalah, adikku mengambil dua pasang sandal itu dan membawanya ke belakang sambil mengucapkan sesuatu pada pasukannya. Akhirnya, yang kutau saat ini, sandal itu sudah bersih, disikat nampaknya.
Bisa jadi hikmah yang kurang penting:
Sandal, bagaimanapun bentuknya, letaknya tetap dikaki. Kalau kemudian sandal itu berpindah tempat ke wajah, maka tentu ada sesuatu yang sangat salah.














