Sepak bola pertama yang menyesakkan

Euro 2008 sudah resmi berakhir beberapa jam yang lalu. Spanyol menjadi jawara kali ini. Banyak momen tercipta, banyak suka cita dan air mata duka tertumpah. Gempita tidak hanya ada di negara penyelenggara namun juga di ragam belahan dunia lainnya. Akibat euro ini, sambil menyiapkan seporsi mie goreng + orak-arik telur di dapur pada paruh pertandingan, aku teringat pada permainan sepak bola pertamaku.

Bukan PS. Rajawali Muda, sebuah klub tempat bernaungku pada kisaran tahun 1987-1988 yang membuatku terkenang. Bukan kepala Om Basuki (sang pelatih) nan botak itu yang membuatku tersenyum sendirian. Tak pula posisi mendadak sebagai winger kanan yang harus berlari kencang lalu menusuk jantung pertahanan lawan yang membuatku sesak. Tapi sungguh, permainan sepak bola pertamaku membuatku sesak nafas.

Bukan lapangan rumput, tapi sebuah ruas jalan yang kami gunakan untuk tempat bermain saat itu. Kala itu, awal taun 80-an, perumahan tempatku tinggal sampai dengan saat ini, memiliki sebuah akses jalan yang belum diaspal, dan lapisan pasir berwarna putih di atasnya sungguh tebal. Pada ruas jalan itulah kami bermain. Sekalipun kini, di atas ruas jalan yang dulu sudah berdiri sejumlah perumahan baru, dan jalan kami telah dialihkan.

Kami, riuh bermain bola menggunakan sebuah bola plastik, tanpa baju keseblasan atau alas kaki. Teman satu kelompok hanya berdasarkan identifikasi keseharian, bahwa si anu adalah teman kita, dan si anu adalah musuh kita. Perjanjian jelas, siapa yang kalah harus bermain tanpa mengenakan baju.

Entah dengan dasar apa, aku ditugaskan menjadi seorang penjaga gawang oleh kawan-kawan. Tiang gawang yang terbuat dari tumpukan sendal para pemainnya itu sungguh menjadi batasan yang absurd. Apalagi tingginya, tidak ada patokan yang jelas. Kalau tidak salah ingat, batas tinggi gawang adalah berdasarkan kesepakatan sahaje.

Permainan sungguh berjalan dengan riuh. Laju bola akibat tendangan seseorang dapat diiringi oleh serbuan butir-butir pasir yang bisa saja memerihkan mata. Namun tetap bahagia dan ceria. Akhirnya, pencipta sesak nafas itu datang tanpa diundang…

Seorang kawan, aku lupa siapa, menendang bola ke arah gawang yang ku kawal, persis ke ujung tiang gawang impian. Sebagai seorang penjaga gawang yang bertanggung jawab, dan setelah memperhitungkan arah datangnya bola. Aku menerjang, menerkam bola untuk menghentikan lajunya.

Hebat, bola itu kutangkap dengan sempurna sehingga tak jadi membuat kami berada dalam petaka bermain bola sambil telanjang dada. Namun, akibat tindak penyelamatan gemilang itulah aku mengalami sesak nafas, betul-betul sesak nafas. Pangkal masalahnya adalah posisiku menerjang tanpa teknik itu. Sekalipun tangan dengan sigap menangkap bola, ternyata dada dan perutku mendarat di permukaan tanah dengan sempurna pula, dan mengakibatkan sesak nafas.

Demi menyaksikan penyelamatanku, kawan-kawan satu tim bersorak gembira, sebagian bertepuk tangan. Aku masih terdiam rebahan dan mungkin mereka mengira aku tengah merasakan sensasi menjadi seorang pahlawan tim dengan diamku itu. Sungguh, mereka tak tau kalau aku tengah sesak nafas, aku menderita…

Aku kini mengingat para pemain bola idola…
Patar Tambunan (bek Indonesia yang tendangannya maut), Hermansyah (penjaga gawang Indonesia yang ayunan tangannya kala penalti selalu ku ingat), John Barnes (Pemain bola luar idola pertamaku), Daniele Massaro & Dejan Savicevic (duo penyerang idolaku), Franco Baresi & Paolo Maldini (duo bek idola). Selain mereka, aku tak lagi punya idola….

Bisa jadi hikmah yang kurang penting:
Pengalaman pertama memang tak selalu menyenangkan dan membahagiakan. Namun, seringkali selalu menyenangkan dan membahagiakan jika mengenang pengalaman pertama.

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

3 komentar pada Sepak bola pertama yang menyesakkan

  • kalau saya dulu kecil main bola di jalan aspal pasti jempol kaki luka yang mesti sakit banget dulu..

    nah, pas sudah besar masih ada yg terluka kah?

  • ika

    aku kalah taruhan…

    turut berduka cita…
    maksudnya pengalaman main bola pertamanya diwarnai dengan kalah taruhan ya? :D

  • Idola Pertama saya adalah Diego Maradona! dan kebetulan beberapa saat sebelum partai final saya menyaksikan profil si Pibe de Oro.

    Sampai sekarang, juergen Klinsmann dengan rekor 80% masuk ketika menembak. Zainuddin Zidane yang spektakuler. Serta kakak tercinta Fabio Cannavaro adalah idola sesungguhnya buat saya.

    Soal main bola sampai sampai saya selalu memilih posisi bek sebagai tanda penghormatan dan simbol kecintaan saya pada Cannavaro.

    Saya mengidolakan Cannavaro berhubung tanggal lahir yang sama.

    memang selalu tersedia beragam alasan untuk mengidolakan seseorang, tak harus selalu sama

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain