Banjir, Tenung dan Bingung

hemmIni benar-benar kejadian “luar biasa” dan baru kami alami. Luar biasa disitu maksudnya adalah di luar kebiasaan kami. Saya tidak tau, apakah penggunaan istilah santet ini tepat atau tidak, karena konon menurut salah satu sumber, santet atau tenung itu dilakukan dari jarak jauh. Sementara yang kami alami ini benar-benar dalam jarak dekat. Kalau dalam istilah bahasa daerah saya, Bahasa Banjar, secara umum biasanya disebut dengan “manggawi” atau padanannya dalam bahasa Indonesia adalah “mengerjai”.

Kalau saja rumah kami tidak kebanjiran sebanyak 2 (dua) kali dalam 1 (satu) bulan ini, mungkin saja hal ini tak akan kami ketahui secepat ini. Bisa jadi dalam kasus ini kami berterima kasih kepada banjir yang telah melanda. Begini ceritanya sodara-sodara …

Akhir-akhir ini di Banjarbaru, kota tempat saya tinggal ini, kadang diguyur hujan yang sangat lebat, bahkan disertai angin kencang. Pada waktu yang bersamaan, rumah sebelah kanan dari rumah kami, yang kebetulan dimiliki oleh pengusaha sukses di bidangnya, bahkan sebagai bentuk penghargaan pemerintah negeri ini, beliau di ajak oleh salah satu menteri untuk berkunjung dan meninjau usaha sejenis di negara lain. Beliau melakukan renovasi total terhadap rumah itu.

Namanya saja melakukan renovasi total, tentu diperlukan material bangunan yang tidak sedikit. Akibat dari tumpukan material itu akhirnya menutupi saluran drainase di depan rumah yang di rehab itu. Sementara aliran air seharusnya melewati drainase depan rumahnya, sebagai kelanjutan drainase yang ada di depan rumah kami.

Karena drainase tertutup sementara hujan turun pula sangat lebatnya, alhasil rumah kami kebanjiran UNTUK PERTAMA KALINYA selama kami menempati rumah ini sejak tahun 1983. Mengetahui rumah kebanjiran ini pertama kali membuat saya tertawa, benar-benar tertawa. Akhirnya merasakan juga bagaimana rasanya kebanjiran, walaupun banjir kecil, tapi seluruh lantai di rumah terendam air. Kasur pun ikut basah.

Mengetahui rumah kami dan tetangga sebelah kiri kami kebanjiran (total saat itu ada 2 rumah yang kebanjiran) besoknya beliau memerintahkan para pekerja bangunannya untuk membenahi drainase. Namun ternyata mereka bekerja tidak selesai. Hanya merapikan bagian yang terlihat, sementara gorong-gorong tidak dirapikan. Yang agak kurang ajar, ada pekerja yang bersuara dan mengatakan bahwa masalah ada di drainase kami.

hehehe...“Dengkulmu !!! air itu kodratnya mengalir ke tempat yang lebih rendah, ke drainase yang kalian kerjakan itu, bukan malah naik ke drainase kami !!!” maki saya dalam hati. Tak tega saja rasanya ngomel-ngomel ga jelas kepada para pekerja bangunan itu. Menghadapi ucapan yang lansung disampaikan kepada saya itu, saya hanya tersenyum.

Karena pekerjaan mereka merapikan drainase akibat banjir pertama itu tidak tuntas, akhirnya beberapa hari yang lalu saat hujan lebat kembali turun disertai angin kencang, rumah kami dan tetangga di sebelah kiri kebanjiran lagi. Untuk yang kedua kalinya dalam sejarah. Kali ini saya sudah mulai merasakan nyut-nyutan di ubun-ubun. Apalagi setelah sepupu saya hampir ngamuk, mendengar kembali seorang pekerja bersuara yang sama, menyalahkan drainase kami. Sementara terlihat sangat jelas kalau gorong-gorong dan drainase mereka tertutup koral dan pasir, mampet… pet…

Karena itulah, pada status akun buku wajah saya kemudian tertera :

Banjir episode 2 gara-gara drainase tetangga.
Cukup sudah diam dan senyum. Malam ini langsung bertindak !!!

Tindakan yang kami ambil malam itu adalah, langsung nyari tukang, mencari seseorang yang akan membenahi drainase kami sendiri, bukan drainase mereka ! Kami harus buktikan bahwa bukan milik kami yang bermasalah. Buktikan secara langsung, karena tidak ada gunanya debat kusir dan tidak jelas.

Saat melihat seseorang membenahi drainase kami sendiri, lumayan, mereka juga mengambil inisiatif untuk kembali merapikan drainase mereka. Tapi tetap saja pekerjaannya tidak sempurna. Akibatnya nanti akan saya ceritakan di akhir tulisan ini.

Pada saat pekerja membenahi drainase kami inilah, sewaktu siang, alat kerjanya menumbuk 2 keping papan yang tersusun rapi. Begitu dibukanya kepingan papan itu, ternyata ada sesuatu dibaliknya. Ia bergegas memanggil saya dan menginformasikan bahwa ada “suatu bungkusan” di balik kepingan papan itu.

Setelah melihat benda dimaksud, saya amati sebentar, kemudian saya angkat telepon dan berbicara dengan Abah saya. “Bah, dulu waktu bangun rumah ini, ada tanam syarat-syarat khusus ga?” tanya saya.
“Syarat macam apa?”, Abah balik bertanya dan saya jawab, “ya.. syarat..”
“tidak, tidak ada yang macam itu”, jawab Abah, hal yang sama juga ditekankan oleh Mama. Saya memang memanggil kedua orang tua dengan panggilan Abah dan Mama, sebagaimana mafhumnya Urang Banjar umumnya.

Mendengar penegasan orang tua, saya merasa tenang dan bangga. Karena keluarga kami memang tak menggunakan hal-hal macam itu. Takut jatuh syirik, sekalipun dengan alasan ‘usaha’ yang seringkali lebih menjadi sebuah jutifikasi belaka. Tapi kami juga tak pernah ngurusi kalau orang mau menggunakan cara macam itu, paling cuma heran.

Banjir kecil yang melanda rumah kami ternyata memberikan hikmah atas penemuan sekantong benda aneh yang kerap terkait dengan urusan gaib dan negatif. Sebagian masyarakat kita memang masih mengamalkan mistis, tapi jelas bukan kami.

Sang pekerja saya minta untuk mengeluarkan bungkusan itu, dan setelah melakukan konfirmasi ke beberapa pihak, diketahui bahwa itu merupakan tanah kuburan dan dibungkus dengan kain kafan. Biasanya digunakan untuk hal-hal yang kurang baik. Tentu saja karena di tanam di depan rumah kami, maka kami yang akan dijadikan sasaran. Bahkan si pekerja sempat bertanya, “memangnya ada masalah apa sih mas?”. Saya hanya jawab saya tidak tau, karena memang tidak tahu apa-apa. Kalau ada yang bertanya, dari mana tau itu kalau tanah kuburan, nah.. soal ini panjang ceritanya.

Bungkusan "Keramat"

Bungkusan "Keramat"

Setelah bungkusan itu diangkat, segeralah kamera ponsel saya bertindak. Jeprett… lumayan jadi kenang-kenangan sebelum saya buang. Akhirnya bungkusan itu saya buang ke bak sampah di tempat pembuangan sampah sementara milik Pemko Banjarbaru. Saya yakin, saat ini bungkusan itu sudah berada di tempat pembuangan akhir sampah Kota Banjarbaru.

Setelah saya buang, barulah saya melakukan beberapa inventarisasi. Kira-kira kami memiliki masalah apa saja. Orang tua saya toh sudah lama tidak tinggal di Banjarbaru lagi. Sementara umur kain itu saya perkirakan secara umum tidak terlalu lama/tua, hanya beberapa tahun. Karena kondisinya masih kuat, tidak lapuk. Sementara ia ditanam di tanah yang jelas lembab dan malah seringkali berair. Kalau saja sudah lapuk, tentu mudah bagi saya untuk menyobeknya barang sedikit saat ingin mengetahui apa isinya. Sementara saya tak bisa menyobeknya, harus menggunakan gunting.

Musuh? musuh apa? rasa-rasanya saya tidak memiliki musuh. Kalau orang yang memusuhi, tentu itu di luar pengetahuan saya. Hal itupun masih membuat saya bingung, kalaupun ada permusuhan, untuk masalah apa? Politik? ahh.. sejak kapan di Banjarbaru sini saya masuk parpol, sementara saya sudah keluar dan berhenti dari parpol pada tahun 1999. Kalau ada yang tidak terima dengan pandangan-pandangan saya, bisa jadi juga ada, tapi saya tidak tau.

Saingan usaha? ahh… apalagi ini, kok ya rasanya sulit dimengerti. Omzet saya bukanlah milyaran atau sangat besar. Saya juga bukan termasuk orang yang gemar berebut ladang usaha, rasa-rasanya saya tidak kemaruk kok. Kalau mau hitung-hitungan, sudah banyak pekerjaan yang sebetulnya ditawarkan pada saya, namun justru si pemberi pekerjaan saya sarankan untuk kontrak dengan rekan-rekan saya yang lain. Alasan saya sederhana kok, spesialisasi dan bagi-bagi rejeki. Sebab saya yakin, dengan melakukan itu “jatah saya” dari BELIAU tidak akan berkurang sedikitpun, masing-masing orang sudah ada takarannya. Itu saya sangat percaya.

Karena itulah, siapapun Anda yang telah melakukan itu, saya tidak akan menasihati Anda soal kemusyrikan dan lain-lain sejenisnya. Itu urusan Anda pribadi dengan Tuhan Anda, bukan urusan saya. Kami tak akan ikut campur.

Namun, sekiranya ada masalah, bukankah lebih mudah diatasi dengan jalan duduk bersama, bahkan mungkin sambil makan siang bersama sembari membicarakan masalahnya apa dan dimana. Jangan khawatir, saya traktir kok … Mari saling berargumen dan membuktikan. Sebagaimana hasil pembuktian kami tentang drainase itu tadi.

Karena hari ini, hujan kembali mengguyur Kota Banjarbaru, beruntung tak begitu hebat sebagaimana yang sudah pernah terjadi. Tapi tetap saja, kali ini teras belakang rumah kami sudah mulai disapa air lagi, sudah hampir di depan pintu, alias hampir banjir lagi. Padahal drainase + gorong-gorong kami sudah dibenahi, sebagaimana dituduhkan. Bayangkan kalau hujan lebat macam kemarin itu. Sementara drainase mereka masih tertutup koral dan pasir.

Ahh.. sudah cukup panjang ternyata, sementara saya masih memiliki agenda kebersihan selanjutnya. Yakni mencari pekerja lagi untuk membersihkan samping rumah, dari tumpukan kayu-kayu dan serpihan material akibat pekerjaan sebelah yang juga menutupi selokan kami. Biar saja dikerjakan sendiri, tak perlu minta mereka untuk mengerjakannya, sekali-sekali membantu seorang konglomerat sekaligus memberikan jab jab ringan. Tapi saya tak akan peduli, kalau ternyata kayu-kayu itu masih diperlukan untuk bekerja, tetap saja akan saya perintahkan untuk dibuang. Toh bukan milik saya, dan mengotori selokan kami. Nah.. kalau yang ini namanya sudah upper cut.
jahil

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

19 komentar pada Banjir, Tenung dan Bingung

  • semoga saja itu kejadian itu tidak terulang (Banjir dan Kain yg usang itu) :semuk:

    amiin…

  • Ha ha ha…menarik. :tepuk:

    hehehe… memang ada² saja

  • Kejadian yg aneh… :think:
    soal bungkusan itu, punya orang yg terjatuh kali.. :P

    hehehe… yang jelas ditanam secara rapi ditutup papan

  • jangan-jangan “syarat” untuk rumah tetangga Bro…. :D

    jiahahaha… bisa jadi juga sih
    tapi kok ya nanamnya di tempat saia?

  • wah, ternyata ada hikmahnya juga banjir itu, pakacil. bisa2 kalau ndak kebanjiran, bungkusan tanah kuburan itu sudah menyebarkan tuahnya, hehe … sebagian daerah di tanah jawa juga mempercayai hal2 semacam itu, pakacil istilahnya memang tenung, semacam guna2 ilmu hitam yang konon digunakan utk mencelakai orang yang tdk disukai. duh, kok saya jadi ngelantur.

    benar-benar membawa hikmah kalau banjir yg ini
    jadi amann.. udah ga kepanasan lagi saya. hehehe…

  • nia

    Ungtung saja isi bungkusan itu bukan ari² bayi ya Pakacil yaaaaa????

    —> liat koment aidicard :think: :think:
    abis jatuh trus ada yang berbaik hati menanam bungkusan itu supaya aman ditempatnya ya Aidi yaa???? :weee: :weee:

    saya malah sempat bilang itu isinya jempol yang sudah hancur, hasilnya adik saya kaget
    hahaha… tapi kok amannya ditempat saya yah? hiiiii…

  • kok ya mau-maunya itu orang buwang barang keramat di tempatmu bro…? padahal gak dapat duit dari kamu kan? bodoh kok di miliki sendiri ya, tu orang… :lol:

    lha.. bukannya bagus kalau dimiliki dia sendiri ? dari pada dibagi-bagi, nanti malah orang banyak ikutan juga, mudharatnya jadi lebih banyak dong
    hehehehe…

  • hmm.. membingungkan, mungkin isi bungkusannya pupuk urea kali ya? he… alx ditanam dibawah tanah sih..

    hahaha.. bisa jadi itu pupuk
    biar airnya tambah banyak

  • aku jua sudah curiga yu.. liat aja komplek kita itu selalu sepi, selalu banyak rumah kosong, aku malah curiga bahwa tanah yang ente dapat itulah tanah asli komplek kita, sisanya tanah kuburan :P hehehehe

    kalau itu yang asli terus sisanya kuburan
    artinya kita harus segera melakukan pelurusan sejarah

  • Masih ada ya yang begituan..Astaghfirullah :think:

    nampaknya memang masih ada yg begituan

  • DV

    Wah kisah Anda sangat menarik sekali!
    Saya, tepatnya orang tua saya pernah ada di posisi seperti Anda tapi ya alhamdulilah semua bisa terlewati.

    Konon, orang yang banyak humor dan bercanda tak mempan kena santet, tapi saya lebih percaya bahwa, kena atau tidak kena, mempan atau tidak mempan, kita tetap harus menghadapi hidup ini dengan banyak humor dan bercanda.

    Begitu, bukan?

    bukaaaaaan…
    eh sori, maksudnya sepakat…. hehehe…

  • agaknya kena guna-guna. kejadian yang sama pernah menimpa kawan saya (minus banjirnya loh). ditemukan buntelan dari kain mori. konon katanya guna-guna seperti itu bisa memporakporandakan keharmonisan isi rumah tapi nyatanya tidakk.keluarganya mesra2 saja. hanya anaknya yang selalu sakit-sakit, dimana-mana dia selalu melihat hantu, mulai dari nenek berjalan sampai yang sangat menyeramkan, bantal jadi kepala manusia!
    sempat diusir pakai istigosah, tapi hanya beberapa hari saja aman, selanjutnya balik lagi semua dan lama-lama jadi biasa alias bersahabat dengan penghuni rumah. setelah cari tahu pada sesepuh kampung ternyata rumah itu dulunya adalah tempat pembuangan tumbal dari pendirian bangunan, jembatan, atau juga penebangan pohon klenik.

    loh, jadi penyebabnya kain mori tadi atau ‘limbah’ setan…

    ah, koq jadi nakut2in pakacil he he he he….

    bisa jadi kain mori itu salah satu limbah yang dibuang ke sana. hahaha…

  • ada korbannya gak pak dari keganjilan itu???

    yg jelas rasanya ruangan saya tak sepanas dulu lagi, dan sudah ga keringatan macam kemarin² lagi
    hehehe…

  • Aap

    he..he..sekarang ada kerjaan baru ya.. waspada banjir..!

    setiap hujan luar biasa lebat selalu bikin was-was

  • Seandainya bungkusan itu isinya harta karun, hmmm.. :wink:

    nah, kalau bisa sih itu

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain

 

Pakacil - Banjarbaru, Kalimantan Selatan © www.pakacil.com