Gara-gara Mba Sekar menulis tentang kembang api dan mercon pada waktu kecilnya, saya juga teringat akan sebuah kejadian yang melibatkan ledakan. Namun bukan soal dua jari saya bengkak selama beberapa hari, akibat gaya-gayaan meledakkan mercon sambil di pegang *dulu, yang top di sini itu kalau gak merk merconnya adalah kodok*, tapi benar-benar sebuah ledakan pelor alias peluru, akibatnya kuping saya rasanya berdenging selama 3 hari.
Sebabnya sederhana saja, karena saya mau bikin kalung dari peluru. Soalnya waktu itu lagi trend para senior di lingkungan rumah saya pakai kalung peluru, walau sama sekali bukanlah komplek perumahan tentara. Sebagaimana biasanya, mereka lantas menjadi contoh bagi para junior-juniornya yang masih SD itu *termasuk saya*.
Karena di lingkungan rumah saya dulu, gaulnya itu nyampur antara yang tua dan muda, cuma kadang kala yang kecil-kecil ini jadi semacam bahan praktik. Nanti deh, kapan waktu saya cerita bagaimana kami yang masih SD digunduli berjamaah oleh para senior yang sudah SMA. Kali ini, saya mau cerita soal membuat kalung peluru yang gagal total saja dulu ya…
Demi melihat para kakak-kakak itu *hayyyah… padahal dari dulu sampai sekarang kami sebenarnya tak pernah memanggil para senior itu dengan kakak atau mas, langsung panggil nama, tu de poin…* membuat kalung dari peluru, saya juga tertarik. Saya yang saat itu masih SD cari tau, dan kemudian dijelaskan bahwa untuk memasang tempat tali kalungnya yang terbuat dari peniti, bagian yang melingkanya, maka peluru itu harus dibakar dulu, biar meleleh.
Pulang ke rumah, saya bongkar koleksi barang-barang saya, dan ahha…. saya menemukan sebuah peluru, koleksi saya. Langsung saya mengambil lilin dan duduk manis di dapur. Menggunakan sebuah tang, saya jepit peluru itu dan dibakar di atas lilin yang menyala.
Beberapa lama membakar peluru di atas lilin, saya mendengar ada semacam bunyi berdesir dari dalam peluru, “hemmm… sebentar lagi bagian belakang peluru ini bakal meleleh”, demikian saya membatin. Hati saya berdebar sambil tersenyum, membayangkan betapa gagahnya saya sebentar lagi akan mengenakan kalung yang terbuat dari peluru. Tak kalah dengan mereka yang sudah SMA itu.
“saya juga bisa dan harus bisa …!”Apa mereka pikir cuma mereka yang bisa bikin? Saya juga bisa! Kalau teman-teman seangkatan saya bikinnya didampingi oleh kakak-kakak mereka, maka saya tidak, karena saya anak sulung, saya bisa bikin sendiri. Saya bisa dan harus bisa !
Tak sampai 5 menit dari bunyi halus itu, dorrr…!!!!, kejadian yang hanya sekitar 1-2 detik itu sungguh mengejutkan. Pelurunya meledak !!! benar-benar meledak sodara! Tang yang tadinya erat dalam genggaman lepas entah kemana, saya bergeser mundur, lilinnya terbang entah kemana, saya melihat pecahan peluru ada di banyak titik. Saya terdiam dan gugup. Masih dalam urutan kejadian yang sangat cepat itu, sambil terasa betapa tangan saya bergetar, tubuh saya juga bergetar karena gugup, kuping saya terasa berdenging, ada semacam bunyi ngiiiiiiiiiiiiiiiiing… yang saya dengar.
![]()
Sontak semua yang ada di rumah berhamburan lari ke arah dapur menghampiri saya. Mungkin semua orang itu heran melihat saya yang duduk terdiam dan terlihat gemetar, bahkan mungkin pucat *karena saya tak bisa melihat bagaimana kondisi wajah saya*. Semua bertanya tentang apa yang terjadi. Saya hanya bisa jawab ringkas, “habis bakar peluru…”.
Singkat kata singkat cerita, proyek pembuatan kalung peluru saya gagal akibat ada satu kesalahan fatal yang saya lakukan. Sebenarnya yang harus dibakar itu adalah proyektil peluru yang terbuat dari timah. Sementara saya? yang saya bakar adalah peluru hampa!!! Sebuah peluru hampa yang masih utuh!!! tentu saja peluru hampa ini tak memiliki proyektil dan kalau dibakar akan meledak. Masih untung *nah ini tipikal orang Indonesia yang selalu ada untungnya*, ya masih untung tidak ada satupun pecahan peluru yang mengenai saya.
Saya yakin, seyakin-yakinnya, jika saja orang tua saya tau anaknya lagi main apaan, pasti akan dilarang dan ditegur habis-habisan. Karena memang sudah kewajiban orang tua untuk mengawasi anaknya. Cuma dalam kasus ini, sang anaklah yang agak susah diawasi. Repot memang. Kesalahan memang bukan pada televisi anda, eh.. orang tua maksutnya.
Sialnya, saat tubuh gemetar dan ketakutan, saya masih sempat terpikir, gagal total rencana untuk gagah menggunakan kalung dari peluru.















wakakakakakakaka….
*aku kok malah ketawa seneng*
untungya (dan orang indonesia memang selalu beruntung Pian..) selamat dan tidak terjadi hal yang membuat kerugian materil
he…he… percobaan yang gagal ! Tapi mantap juga idenya.!
Percobaan yang gagal itu kenapa gak dicoba lagi agar lebih sempurna? kan biar proyeknya goal
Waduh untung aja nggak terjadi apa apa hehehe emang masa kecil adalah masa paling indah buat coba coba
masih untung….
bagaimanapun juga tetap menyisakan kelatahan ala Indonesia, huehuehuehue…
Cerita yang …. “adegan ini jangan ditiru di rumah” … tapi, Pakacil kecil termasuk anak yang rasa ingin tahunya besar … jangan diulangi lagi ya Pakacil hahahaha
ternyata masih ingat ‘mercon cap kodok’. saingannya ada ‘cap kawat’,'cap bintang’ dll. ah,masa muda yg berapi2
beh, ingat banar wan marcon cap kodok inya, mun handak mambanam peluru, ambil dirumah ada sabigi lagi! tahun kemarin granat nenas sudah ku antar ke kodim, gair jua ieh banyak kakanakan di rumah.
jadi ingat masa SMA, teman-teman yang tinggal di asrama tentara biasanya mencirikan diri dengan pernak pernik berbau militer (salah satunya kalung dari selongsong peluru)
huakakkakakk, serem banget bisa sampe meledak gt
untungnya nggak kenapa2 si om-nya
kayaknya ngebet bgt tuh mau ngebuktiin, kalo pak kacil bisa
Kalo saya waktu kecil, bikin kalungnya dari ranting ubi yang masih seger. dah seneng tuh, padahal gampang bgt he2
masih untung masih bisa ketemu dengan yang nulis cerita .. kalo tidak, tidak ada yang menceritakan pengalaman ini.
Tidak apa-apa secara fisik, tapi sepertinya merusak secara otak… *menggeser duduk jauh-jauh…*
haqhaqhaqhaq…..*ngakak*
kocak juga pengalamannya pak…
dan ada untungnya juga pak acil waktu itu mo nyobain walaupun gagal. kalo sekarang pak acil bikin lagi, mungkin bisa berhasil kalungnya….
untung saya belum pernah nyoba bikin kalung dari peluru, kalo gak entah apa yg terjadi…
wakakaka….
sokor….
sok teu sih….
eniwei, kenang2an semasa kecil memang selalu membuat kita tertawa terpingkal2 bila kita mengingatnya hehehe…
masa kecil merupakan masa yg paling indah, banyak memory yg indah tercipta sewaktu kecil…
nice post kang…
tak tunggu cerita yg mengenai kakak sepermainanmu…
xixixixixixi … ngakak guling²
dohhhhhhh Pakacil, untung saja pendengaran Pakacil masih normal .. xixixixixixi