Benar-benar pusing kali ini, bahkan untuk menorehkan kalimat awal pada tulisan hari ini saja cukup membuat termenung sejenak. Tulisan ini rencananya adalah tulisan perdana pasca ramadhan. Namun jangan sekali-kali diartikan Ramadhan dan ‘Idul Fithri adalah sumber kebuntuan ide, karena bagi saya memang tidak ada hubungannya antara produktivitas dan kedua momen tersebut.

Sekalipun sebenarnya ada beberapa hal dan ide yang ingin dibagi, tetap saja kemudian terbentur pada masalah yang sama, yang sepertinya mengalami kebuntuan. duhh…. akhirnya selama beberapa waktu hanya diisi dengan melakukan perubahan minor pada tampikan pakacil.com ini, yang walaupun perubahan pada post-layout bersifat minor, namun diharapkan membawa kenyamanan lebih bagi kawan yang membaca secara langsung, walau mungkin tak begitu terasa.
Kembali ke soal agak buntu walau ada beberapa hal dan ide di atas, berikut contohnya…
RENCANA TULISAN 1
“… Mau cerita soal lebaran? …”mmm.. apa ya… mungkin hanya bahwa ini merupakan lebaran pertama kalinya bagi saya mengumpulkan dan menyuruh baris anak-anak kecil famili saya di rumah untuk dikasih duit 2000-an baru. Seandainya saja bukan duit 2000-an baru itu, mungkin perintah berbaris itu tak akan pernah keluar dari mulut saya.
Kenapa 2000-an baru yg jadi alasan? tak lain dan tak bukan karena pada gambarnya ada Pangeran Antasari dan pada sisi lainnya terdapat gambar sejumlah penari dayak dengan bulu Burung Enggang menghiasi kepala mereka. Itu saja. Biar mereka tahu dan ingat serta tak akan melupakan asal usul darah dan budayanya. Jangan pernah merasa minder dengan budaya sendiri sepanjang budaya itu tidak salah.
Alasan itulah yang kemudian membuat saya berkompromi dengan sejarah dan prinsip, bahwa saya tak pernah dibesarkan dan takkan membagi uang saat lebaran kali ini pada anak-anak. Lebaran nanti? jangan harap. Sebab pada dasarnya tradisi itu bukanlah apa yang saya yakini. Kalau orang lain menilai bahwa hal itu tak masalah, terserah saja, karena saya memang tidak berapa pada posisi untuk menilai dan menghakimi penilaian orang lain.
tuuu… kan, apa gak sedikit aneh bagi sebagian orang, soal lebaran malah disangkutpautkan dengan soal idealisme dan penghargaan pada darah dan budaya. Bisa jadi ada yang bilang saya terlalu kebanyakan mikir. Tapi apa daya, akhirnya mungkin lebih baik cerita soal lain saja.
![]()
RENCANA TULISAN 2
“… tak mau minum air PDAM …”Hal lain yang sebenarnya mau saya bagi adalah, tentang saya yang tak mau lagi menggunakan air produksi PDAM untuk air minum di rumah. Selain itu saya juga memang sudah lama tak mau minum air isi ulang galonan itu. Saya lebih memilih air sumur yang kemudian direbus sebagai air minum utama di rumah. Alasannya juga sederhana, karena ngeri saja rasanya minum air produksi PDAM Intan Banjar itu.
Bagaimana saya tidak ngeri? setelah berulang kali mengalami, begitu air dimasak, baik kemudian yang di dalam kulkas atau bukan, selalu timbul endapan alias kotor kalau saya bilang sih… Sementara tempat air sudah berulang kali dibersihkan. Plus ini bukan hanya saya yang mengalaminya.
Akhirnya lebih baik ke air tanah atau air sumur saja. Air sumur itu dimasukkan ke tempat penampungan sementara, dan dari tempat penampungan inilah yang kemudian diambil untuk direbus sebagai air minum. Air PDAM? Oh… tetap digunakan kok, tapi namanya saja dirubah, tidak lagi menjadi Perusahaan Daerah Air Minum, tapi menjadi Perusahaan Daerah Air Mandi, maksudnya air dari PDAM hanya digunakan untuk keperluan mandi dan sejenisnya, bukan untuk konsumsi.
Naaah… saya juga bingung kalau mau cerita soal air sebagaimana di atas ini. Bagaimana kalau saya misalnya dituntut oleh PDAM telah melakukan pencemaran nama baik, ‘kan gawat … akhirnya juga harus mikir kalau mau nulis itu. Lebih baik mikir soal nulis yang lain saja…
![]()
RENCANA TULISAN 3
“… cerita soal ngantor lagi …”walah… apalagi mau cerita soal tentang hari pertama ngantor setelah cuti bersama lebaran kemarin. Super duper aneh jadinya. Pertama dan terutama, kantornya saya itu ya suka-suka saya bukanya hari apa dan jam berapa. Mau masuk atau libur ya bebas-sebebasnya, yang penting begitu ada pekerjaan, harus selesai pada waktunya. Selesai perkara.
Mungkin karena menghormati mereka-mereka yang punya kantor dan ada agenda cuti bersama, akhirnya kemarin itu, sekitar jam 9-an saya juga sudah bersiap. Dengan
terpaksamengenakan celana panjang + kemeja disetrika rapi, bekeliling sejumlah kantorlah saya di Banjarbaru ini. Salim sana salim sini, sambil mengucapkan, “barila’an lah…”.Namun safari kantor kali ini juga memiliki agenda lain, yakni memberikan informasi tentang suatu hal yang sedang saya rencanakan di Banjarbaru dan mimpi saya adalah akan diikuti oleh ribuan orang Banjarbaru dalam sebuah semangat kolektif. Beruntung, seluruh pihak yang ditemui telah menyatakan komitmen untuk mendukung secara aktif. Soal ini, masih tak banyak yang dapat dibagikan infonya kepada publik, selain sedikit banner pada pojok kanan atas halaman depan blog ini.
Sementara informasi detilnya, harus menunggu selesainya persiapan dari sisi hukum dan sistem yang sudah mampu bekerja 100%. Namun prisip dasarnya adalah, untuk kepentingan dunia pendidikan di Kota Banjarbaru.
Naaah… kalau memang belum siap sepenuhnya, lantas apa yang mau diceritakan? bingung juga jadinya. Sementara hari ini rencananya sudah mau nulis lagi. Bagaimana kalau nulis yang lain saja, sesuatu yang sederhana saja dulu, biar gak mumet. Soal cendol… ya… soal cendol saja dulu ya…
Kemarin siang, di antara waktu safari kantor, saya menyempatkan diri ke pemakaman untuk menghadiri pemakaman seseorang. Cuaca di Banjarbaru kemarin itu panasnya minta ampun. Berada di area terbuka dengan cuaca sedemikian rupa, membuat khayalan melayang pada segelas es cendol.
Luar biasa rasanya sodara-sodara… dibawah terik mentari simpati dan xl, membayangkan gelas es cendol dan buliran air akibat dinginnya es di sisi gelas cendol itu. Motivasi untuk mendapatkan cendol di terik hari itu kian kuat.
Walhasil, selesai acara pemakaman, saya langsung keliling beberapa wilayah di pusat Kota Banjarbaru untuk nyari cendol. Sialnya, beberapa tempat yang diidentifikasi sebagai penjual cendol ternyata masih tutup. Berbekal informasi dari seorang kawan, saya menuju tempat terakhir. Benar saja, saya melihat sebuah toples berisi cendol, berwarna hijau menggiurkan. Tak lama lagi akan berakhir pencarian cendol yang melelahkan pada ini hari, demikian saya membatin. Harapan timbul kembali.
Dengan langkah pasti, saya mendekat. Dengan suara dan intonasi jelas plus disertai senyum terkembang, saya menyampaikan pada sang penjual, “…mba, tolong es cendolnya, dibungkus ya, 2 (dua)…”. Dengan tak kalah jelas suara dan intonasi, juga plus disertai senyum, sang penjual menjawab, “maaf mas, gula merahnya habis…”. Glekkk…..















Jadi siang itu tidak kesampaian menikmati segelas cendol dengan gula merah..
kalo masalah air minum itu, saya di rumah sudah sejak dulu menggunakan air sumur..
Bingung juga mau mengomentari rencana tulisan yang mana, tapi sudahlah yang penting anda sudah menulis dan saya sudah komentar….ha…ha…ha..
Heran, bingung mau nulis apa aja idenya udah sampe empat… Apalagi klo niat yak, empat2nya bisa jadi artikel tersendiri hehehehee… Soal cendol, cuma mau bilang, kasiiiiaaaannnn dech hihihi…
Sama seperti Yulian, saya juga jadi bingung mana yang harus dikomentari.
Ah, ini aja. Saya tetap bangga jadi orang Banjar meski tinggal di perantauan. Bangga dengan pengakuan Pangeran Antasari sebagai pahlawan dan diabadikan di uang kertas 2000.
Barilaanlah, Pakacil.
pakacil itu ya lucu, hehe … bisa bikin postingan sampai 3 subjudul kok ngomongnya bingung, hehe …. hmmm …. ada acara baris-berbaris rupanya utk menerima hadiah lebaran dari pakacil. ttg blog, saya malah dapat hadiah deface dari hacker, pak. hosting tempat saya berlangganan diacak2 hacker hingga menghancurkan semua pelanggan. doh, kok malah curhat.
“gpp mba, ga usah pake gula merah.. mba nya kan dah manis..”
bundo dirumah juga pake air sumur.. satu kelompok kaluraga masih pake air dari sumur yang sama. Alhamdulillah ga kering dari sejak bundo masih kecil.. dulu warga ngambil air pake timba, tapi sekarang dah dialirkan pake pompa..
tolonglah pak acil hapus komen bundo yg pertama.. ternyata walau ud di cansel secepatnya tetap saja kekirim
kok tidak ada cerita tentang perjalanan silaturahim ke rumah seorang kawan yang ternyata rumahnya di ujung dunia itu terkunci rapat tak berpenghuni
maaf belum sempat melakukan kunjungan balasan ke negara tetangga, pak.. tadi sore sudah niat kesana, batal karena sesuatu hal..
*hloh, kok saya malah cerita panjang disini hihi*
sebelumnya salam kenal pakacill…
wew,, hebat, baru rencana udah tertulis tiga2nya… mantap!! gimana klo nulis soall,,,, ummm… soal… gak tau deh, terserah yg punya blog. hehe… jiaahh….
.-= • fadhilatul muharram nulis ini lho… Tau Gak Dimana? =-.
oia maaf lahir bathin
.-= • fadhilatul muharram nulis ini lho… Tau Gak Dimana? =-.
Selamat idul fitri maaf lahir batin.
Salam kenal,
(nah…baru komen…)
Meskipun cuma draft yang nggak jadi diposting tapi 2 tema di atas jelas sudah misinya jadi meskipun cendol hambar tanpa gula tapi isi postingannya sudah segar melepas dahaga.
setuju om, jangan pernah momen yang dua itu dijadikan alasan
Rencana 1:
saya gak bisa berkmentar banyak tentang hal ini. karena menurut saya, semua kembali pada bagaimana menyikapinya aja. semua orang memiliki keyakinan masing2, yang kurang lebih pasti ada perbedaan. makan nggak makan asal kumpul, sawer nggak sawer yang penting kumpul *nggak nyambung*
Rencana 2:
wedewww, ngeri sangat kalo banyak endapan. penyakit senantiasa menanti. disini juga gitu, banyak endapan. tapi bukan dari PDAM, karena di hutan di olah sendiri oleh salah satu departemen di tambang sini. jadi, terpaksa harus beli aqua terus, dengan harga hutan yang minta ampun mahalnya
Rencana 3:
kalo saya, sama sekali nggak dapat libur bersama. yang ada, sedih bersama. tapi, semua harus di syukuri. banyak teman2 yang mudik,malah dapat musibah atau bahkan celaka di jalan. hanya saja, kok kerjaan tetap aja banyak yah he2
ha ha ha ha, maaf mas gula merahnya belum di bikin kekekekkkk
ouch! kalau pakacil sedang hamil, bakalan deh bayinya ileran mulu. hihi… kata orang-orang sih.
sama, bang. saya juga suka bingung buat nulis, terutama kalau idenya masih belum matang. banyak ide tapi ngambang semua. jadi bener juga triknya, tulis yang ringan-ringan saja, ya seperti masalah cendol itu. hihi… mau saya kirimin gula merah dari sini, bang?
Lho kok banyak amat rencana tulisannya.
Selamat Idul Fitri
Minal aidin wal-faizin
Maaf lahir dan batin
Salam kenal sehangat-hangatnya dari Surabaya
alhamdulillah….
meski diliputi rasa kebingungan… tapi inilah awal tulisan om setelah lebaran…. 
walau akhirnya berujung dengan es cendol yang belum tercapai… kacian deh om…
btw skrg es cendol na udah dpt lom om???