Saya mampir ke kantor polsek yang terdekat dengan rumah target dan melakukan sedikit pembicaraan dengan bapak/ibu polisi yang ada di Polsek tersebut. Melalui sebuah pengaturan dan berbagai alasan, targetnya adalah harus berhasil mendatangkan target ke kantor polsek dengan prinsip ada masalah yang harus diselesaikan. Antara dua saja, kalau tidak saya, maka target yang bermasalah. Soal ini tergantung situasi di lapangan.
Namun, setelah selesai melakukan cross check alamat target, saya jadi pesimis bahwa rencana di atas itu akan berhasil. Analisis tersebut di dasarkan pada salah satu kata pada nama komplek alamat target. Sederhananya, saya sangat tidak yakin kalau pak polisi berani. Terlebih lagi apa yang disampaikan oleh sopir taksi pada saya. Sopir yang mengantarkan saya itu bilang …
“duh… sulit kalau taksi Jakarta masuk daerah Karawang. Bisa-bisa harus berurusan dengan polisi”, ucap pak sopir yang duduk di depan, sewaktu saya ajak dia jalan-jalan ke Karawang dari Depok. Jelas sudah, rencana di awal tulisan ini tidak mungkin dilakukan. Akan jatuh korban yang tidak perlu hanya demi mengejar rencana “bikin korban”.
Sabtu siang, saya meluncur dari Banjarbaru dan pada Sabtu malamnya langsung menghadiri sebuah acara di Antam, nun jauh di Ibukota sana. Pada minggu sore saya meluncur dari Depok menuju Karawang. Sepanjang perjalanan, saya kerap kali melakukan komunikasi dengan seorang partner in crime, untuk memastikan keberadaan target di lokasi. Karena gak lucu aja, begitu sampai ternyata malah yang bersangkutan tidak ada di rumah. Memangnya Banjarbaru – Martapura, yang bisa ditempuh kurang dari 10 menit !!!
Karena sudah dikabarkan, bahwa saya akan menjadi seorang kurir pengantar kue oleh Bundo nakjaDimande, makanya kemudian itu kue yang saya bawa dari Banjarbaru, saya bagi dua saja di Depok. Tujuannya tentu saja supaya tidak membuat beliau berbohong secara tidak sengaja.
Proses perencanaan ini sudah diceritakan Bundo pada halaman ladang jiwa beliau
Sore hari, saya sampai di Karawang, di depan rumah Guskar. Saya pencet itu bel beberapa kali, tak ada yang keluar. Saya pergi ke tetangga Guskar, tanya apa itu benar rumah Guskar. Benar kata mereka. Akhirnya ya sudah, saya telpon saja, bilang kalau pengantar kue sudah datang. Guskar muncul dan membukakan pintu lantas mempersilakan masuk. Untung saya dipersilakan masuk, bayangkan saja kalau beliau tiba-tiba bertanya, “cuma ngantar titipan kue dari Bundo kan?”

Guskar juga sudah bercerita tentang kejadiannya pada PadebloganKyaine beliau
Setelah lebih dari pukul 19.00 WIB, saya masih mengenakan celana pendek dan kaos, meluncur meninggalkan kediaman Guskar, untuk kembali ke Jakarta dengan membawa serta sebuah buku hadiah dari Guskar. Untungnya, sewaktu diperjalanan menuju Karawang, sudah berkatalah saya kepada itu pak sopir yang duduk di depan, yang pegang kemudi supaya lancar jalannya, “bos… tunggu aja ya sebentar, nanti saia ikut balik ke Jakarta. Cuma aturan mainnya kita sepakati dulu, itu argo kita matikan saja. Lumayanlah, dari pada situ pulang sendirian, bengong, gak ada temen ngobrol?”. Pak Sopir bilang setuju sama itu penumpang. Sudah tau kan siapa penumpangnya?
Perjalanan kali ini memang mengalami banyak perubahan. Tadinya benar² berniat dan berencana untuk juga meluncur ke Sumatera. Namun tiba² arah akan dirubah ke Malang, sehingga jalur berubah dari Karawang langsung ke Bandung untuk istirahat sebentar lantas terus ke Malang. Namun, dalam perjalanan menuju Karawang, saya mendapatkan kabar yang konsekuensinya harus langsung pulang ke Banjarbaru. Akhirnya rute berubah dengan serta merta, langsung kembali ke Jakarta sehabis menyerbu Karawang. Karena dari dulu memang tak begitu suka keliling ibukota, jadinya saya hanya tiduran di kamar hotel menunggu waktu untuk bersua lagi dengan para pramugari.
Terima kasih kepada Bundo nakjaDimande, atas segala bantuannya. Ijinkanlah saia untuk mengingat-ingat janji saya, apakah berjanji untuk tidak ngerjain bundo, ataukah berjanji tidak akan ngerjain bundo dengan cara yang sama. Karena memang pengertian dua hal ini jauh berbeda.
Terima kasih dan permohonan maaf kepada Guskar. Jika memang Guskar marah, mohon kutuk saya biar banyak rejeki buat bisa jalan-jalan ke banyak kawan-kawan. Itu saja…
Sekarang, saya sudah di rumah lagi…
Banjarbaru lagi
setelah 2 hari ditinggalkan















hebat…. hebat ……….. Pakacil, gitu lho……..
duh, Pakacil memang raja jail tanpa tandingan…………..
salam.
bunda dah baca kisah ditempat guskar dan juga di Ladang ilalangnya Bundo.
bener2 gak nyangka………….. *ngakak sampai mules*
untung Kyaine gak jantungan ya
Begitu Pakacil ada kepastian kembali ke Banjarbaru, ada yang jingkrak2 kegirangan. Artinya, dalam satu-dua hari itu ia nggak jd korban berikutnya.
Kurirnya Sudah Datang…
Jumat, 19-02-10 Awal sebuah konfirasi di akhir fekan. Baca detilnya di sini. Sabtu, 20-02-10 Pukul 11:35:54 ada SMS masuk ke inbox saya : + Punteun kak, mau tanya besok siang sampai malam ada di rumah? Ada seorg teman kakak (bukan aku loh ya) mau kirim…
Hah..!! saya baru ingat kalo anda mau ke ibukota, hampir malam minggu kemarin saya ke rumah………
Perjalanan panjang yang menghasilkan cerita panjang…
Mirip acara termehek2, tapi yang ini lebih hidup karena siaran langsung.
Ternyata sesuatu yg dibenak saya nggak mungkin, jadi mungkin di tangan Pakacil, Bundo dan GusKar.
Saya menanti kejutan2 berikutnya.
Salam buat Keluarga Banjarbaru semuanya.
**
“cuman nganter kue kan?” dan Kyaine langsung melempar pintu di depan kurir tsb! **wkkkwkkk.. asyik juga klo kejadiannya begitu!
analisa bundo bahwa sebenarnya beliau mulai sebal karena bundo mengganggu acara hari minggunya hanya gara-gara KUEH, di kepalanya ada tanduk dan ngomel “urusan kueh besok aja kenapa siyh?!”
tapi dalam waktu yang cukup singkat itu Kyaine pasti sempat mikir, ada kurir dari jakarta repot-repot pake taksi cuman mo nganter kueh.. kacian banget klo ngga diajak masuk
***
Datanglah ke Bukittinggi dengan cerdas, tunggu sampai braces ini dilepas. Agar bisa diatur rute wisata yang nyaman maka jangan pernah ke Bukittinggi tanpa memberitahu tuan rumah **Melihat bundo gugup gagap salah tingkah itu gampang, ngga usah pake skenario tingkat tinggi
…dan datanglah dengan selamat, jangan pernah sendirian!
[...] : Rencana awal saia ingin melibatkan polisi, biar korban agak [...]
emang kadang kala rencana itu nggak sesuai dengan rencana.. huh….
dan perubahan rencana itu ‘sedikit’ mengejutkan buat saya
tapi ya sudahlah, perjalanan saya rupanya harus dilanjutkan sendirian
Klarifikasi dari pelaku. Saya ngakak membaca di sini, di sana dan di sono. Untung saja bukan saya, slamet … slamet …
waah! coba kalo lanjut ke sumatra! ke bukittinggi asyik tuwh kayaknya
hihy.. indahnya persohiblogan
pakacil isengnya kumat kayak gini nih….
wakwkak mosok kutukan kok request pakacil teh bisa ajah hehhehe
Hebat sekali skenario bundoo dan pakacil ini. Perjalanan yang penuh dengan perjuangan analisa dan pertimbangan untuk menghasilkan suatu hasil yang memuaskan..
pakacil seandainya dikutuk oleh pak guskar biar banyak rejeki buat jalan-jalan.. saya juga mau dikutuk pak guskar supaya rencana mengambil S2 di jerman atau prancis akan terlaksana 1 atau 2 tahun ke depan
*ampunnnn mbah gus… masih belom selesai membaca bukunya*
ufhhhh…ufhhhh
kada ngerti nah critanya..hehe
lagi lemot..
tunggu2.. ulun baca ulang lah skali lagi..