Beberapa tahun yang lalu mungkin tidak ada yang tidak mengenal, atau tidak pernah melihat Mak Ti. Hanya dengan nama itu beliau dikenal. Nama sesungguhnya? Entahlah… selama itu tidak ada yang tau, bahkan mungkin tidak ada yang bertanya.
Khusus untuk Fakulatas MIPA Brawijaya Malang, berani dikatakan kalau popularitas beliau dapat saja mengalahkan Dekan. Setiap orang dapat berjumpa dengan beliau tanpa perlu birokrasi, tanpa perlu sungkan, bahkan beliau akan sangat senang apabila kemudian ada orang lain, baik mahasiswa maupun karyawan yang mampir kepada beliau. Bahkan keberadaan beliau kadang-kadang menjadi sebuah pertanyaan. Apabila dalam sehari Mak Ti tidak kelihatan, maka akan ada saja yang menanyakan, setidaknya bertanya-tanya pada diri sendiri, kemanakah Mak Ti gerangan pada ini hari.
Tidak seperti sejumlah birokrat di negeri ini, yang jelas-jelas menjadi pelayan publik, saat masyarakat datang untuk sebuah urusan mereka terkadang pasang wajah seram dan garang, paling tidak sok cuek, seolah-olah masyarakat yang membutuhkan mereka begitu rupa. Padahal kalau saja mereka sadar, sesungguhnya gaji bulanan yang diperoleh itu justru berasal dari masyarakat. Lain hanya dengan Mak Ti, ini pengecualian, kalau ada yang datang Mak Ti akan menyapa dengan ramah, sembari mengajak ngobrol ringan. Saya sendiri cukup betah untuk meluangkan waktu untuk sekedar ngobrol dengan Mak Ti.
Setiap mereka yang lewat di Fakultas MIPA Brawijaya, setidaknya akan melewati Mak Ti, seorang perempuan pekerja keras yang sudah tidak muda lagi.
Sejumlah jajanan selalu menemani Mak Ti, dan inilah terkadang yang membuat berlama-lama betah berada di samping Mak Ti, tentu saja disamping persoalan kebersahajaan dan ketulusannya yang tidak dibungkus dengan kepura-puraan. Siapapun yang datang akan disambut dengan cara yang sama, terkecuali saya mungkin…. ? bukan karena apa-apa, Mak Ti pernah tinggal selama 10 tahun di daerah saya sehingga bisa mengerti bahasa daerah saya, sehingga saya bisa berkomunikasi dengan Mak Ti dengan menggunakan bahasa ibu. Bagi
Mak Ti, mendengarkan bahasa daerah saya mungkin sedikit banyak membawa beliau ber-romantisme, mengenang masa-masa indah bersama suami tercinta. Karena hanya kenangan itulah yang dimiliki beliau. Hal ini lah yang membuat saya mendapatkan pelayanan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan yang lainnya.
Bagi sebagian orang, Mak Ti hanya mungkin seorang penjual jajanan keliling biasa, yang rutinitas sehari-harinya membawa jajanan untuk dijual di kampus, berharap hari itu mendapatkan keuntungan yang lebih untuk menyambung hidup.
Tidak bagi saya, Mak Ti adalah seorang pejuang wanita masa kini. Kami kerap berlama-lama berbicara tentang beberapa hal sambil duduk lesehan di lantai teras gedung fakultas, tanpa peduli orang lain yang lalu lalang. Keteguhan Mak Ti dalam memegang prinsip (-yang tidak bisa saya ceritakan, karena amanat beliau untuk merahasiakan) membuat saya terkagum-kagum dan membuat saya memaksa Mak Ti untuk mengatakan pada siapapun saja, bahwa mulai saat itu, Mak Ti boleh menganggap saya sebagai ponakan sendiri, dan saya juga akan menganggap Mak Ti sebagai famili sendiri.
Keteguhan hati Mak Ti dapat membuat iri orang lain, ah… kalau saja saya bisa menceritakannya…
Sekeluarnya dari kampus, saya juga sudah tidak bisa bertemu dengan beliau. Berselang tahun kemudian saya mendengar kabar kalau Mak Ti sudah berpulang menemui Tuhan yang selama ini dicintainya begitu rupa, yang inipun membuat saya iri. Saya hanya terdiam…
Teringat bagaimana tawa Mak Ti, teringat bagaimana bahagianya Mak Ti saat menerima oleh-oleh makanan khas daerah saya yang saya bawakan khusus untuk beliau sepulangnya dari liburan setelah ujian semester, teringat bagaimana gemetarnya Mak Ti saat menceritakan berbagai persoalan…
Mak Ti… saat ini engkau telah menunggu kami semua… jangan khawatir, kami semua akan menyusulmu. Aku yakin Tuhan memberikan sesuatu yang indah untuk Mak Ti, karena perjuanganmu membuat Mak Ti pantas untuk menerima keistimewaan itu…
Kutulis ini karena entah kenapa hari ini aku teringat Mak Ti …














