Dia seorang penjual stiker keliling. Lelaki muda itu membeli stiker untuk kemudian dijual kembali ke beberapa daerah. Setidaknya ke sebuah tempat yang saya tahu dengan pasti. Ke sebuah tempat di pelosok Kota Jombang. Kebetulan mungkin kami tiap bulan beberapa waktu yang lampau selalu bertemu ditempat yang sama.
Dia seorang pengamen,yang sehari-hari beroperasi di daerah terminal Armosari Malang dan juga bis-bis Kota yang berangkat dari terminal ini. Sebuah gitar tua selalu menemani suaranya yang agak serak pada setiap harinya. Kadang saya bertemu dengannya seorang diri, dan ini seringkali. Pernah suatu ketika saya bertemu dengannya beserta seorang lainnya. Seorang pemuda juga yang sama-sama menjalani profesi menjadi pengamen bis kota. Kami kerap bertemu di pelosok Kota Jombang. Hampir setiap bulan kami bertemu di tempat yang pada jaman Orde Baru itu sama sekali tidak dilirik.
Lelaki itu memiliki rambut yang gondrong, panjang sepunggung. Kadang-kadang dalam sehari ia menjadi seorang penjaga stan aksesoris milik temannya di sebuah Plaza di Kota Malang. Kalau tidak berada di situ, mungkin ia berkumpul dengan beberapa teman yang terpaksa menjalani profesi sebagai pencopet di daerah Pasar Besar Kota Malang. Kami kerap bertemu untuk setiap bulannya, bahkan seringkali pulang bersama ke Malang dari daerah pelosok itu. Kerap kali kami sampai di Kota Malang pada jam 3 atau jam 4 subuh. Kami bersama-sama pulang dari sebuah tempat di pelosok Kota Jombang.
Dia masih muda, semangatnya membara. Khas seorang mahasiswa. Saat itupun saya memiliki status yang sama. Yang membedakan, saya menjadi pengikut Prabu Brawijaya di Kota Malang, sedangkan ia menjadi mahasiswa di ITS, Surabaya. Kerap kali melontarkan pemikirannya soal teknologi, sembari sekali-kali kami bercanda dan memperbincangkan hal-hal yang ringan dan tertawa bersama. Kami bertemu tanpa berjanji terlebih dahulu di pelosok Kota Jombang.
Pada suatu ketika, kami semua dan banyak orang lainnya bertemu, lebih tepatnya disambangi oleh seorang jenderal berbintang tiga yang dengan gamblang bercerita tentang situasi menjelang runtuhnya orde baru. Ia menceritakan bagaimana Kota Jakarta berada dalam situasi yang mencekam, dan bersiaga atas sebuah peperangan politik dan senjata. Yang membuat takjub, kejendralannya luntur didepan mata ribuan orang itu. Ia dicecar oleh banyak orang dengan pertanyaan yang tidak mungkin diajukan oleh orang yang belum menyadari bahwa jendral itu hanyalah sebatas simbol-simbol yang melekat pada pundak dan akan hilang dengan sendirinya.
Pada suatu ketika, kami dikunjungi oleh seorang menteri yang [harusnya] mengurusi perekonomian rakyat kecil. Sang menteri bertutur dengan fasih tentang tugas-tugasnya menyehatkan perekonomian rakyat kebanyakan melalui koperasi. Karena ia memang menteri koperasi. Namun kembali kementriannya tanggal, luruh begitu rupa di hadapan ribuan orang yang mungkin akan membuat ia berpikir, apakah menjadi seorang menteri koperasi atau menteri yang bertugas melakukan ko-operasi [baca: co-operate] dengan pihak-pihak tertentu saja.
Kami semua bertemu dan dipertemukan disebuah tempat yang sama. Di pelosok Kota Jombang.
Tempat pertemuan kami memang terpencil, tapi tidak juga terpencil. Terpencil dalam artian geografis, karena memang berada dipelosok Jombang yang untuk menempuhnya harus menggunakan angkutan umum, yang pada jam 5 sore sudah habis. Jadi harus bergegas untuk dapat mencapai tempat itu. Terpencil karena setelah naik angkutan kami harus kembali menggunakan jasa penarik becak atau penarik ojek untuk mencapai lokasi dengan tenang. Namun, tempat itu tidak terpencil dalam karena dikenal oleh ribuan orang, dan dikunjungi oleh ribuan orang pada setiap bulan purnama.
Ya, tempat itu adalah rumah si Kyai Mbeling Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Sekalipun Cak Nun tidak merasa sreg dengan gelar Kyai. Karena sapi saja ada yang bernama Kyai Slamet katanya pada suatu ketika, namun tetap saja ia mendapatkan gelar itu, untungnya masih ada embel-embel mbeling, jadilah ia sebagai Kyai Mbeling, Kyai Nyleneh. Sehingga mungkin bebannya menjadi berkurang, wallahu ‘alam. Tapi kita tidak berbicara soal Cak yang satu ini.
Tempat itu, pengajian Padhang mBulan telah menjadi sebuah kutub yang menyatukan berbagai manusia dan secara perlahan-lahan membangun kesadaran yang utuh bahwa manusia itu sama. Jangan dibayangkan di tempat itu terjadi doktrinisasi, justru sebaliknya. Proses dialektika sangat berjalan. Demokrasi secara perlahan mulai meruang dan menemukan bentuk pada tataran yang sederhana. Kesadaran akan keutuhan manusia, warga negara, umat beragama, terbentuk dengan tanpa harus melalui proses yang bersifat dogmatis. Dogma adalah keyakinan, tapi indoktrinasi bukanlah jalan utama. Keluhuran nilai menjadi jawaban.
Pelosok itu menjadi contoh. Bukan mustahil memiliki sebuah tempat dimana kita semua sama. Mungkin kami menilai terlalu berlebihan dan sangat subyektif. Namun bukan itu tujuannya. Dimanakah kira-kira saat ini dapat ditemukan sebuah tempat yang tidak membedakan pakaian dan penampilan. Tempat yang meluluhlantakkan pangkat dan jabatan. Bahkan saat di masjid pun kita tak boleh untuk berada di shaf terdepan, sekalipun kita datang di awal waktu, karena tempat itu sudah ada peruntukkannya. Bahkan saat kita mengangkat handphone bukan untuk menerima telepon, melainkan untuk memperlihatkan, bahwa telepon genggam yang kita miliki adalah keluaran terbaru, sementara kita hanya bisa menjalankan fungsi menelepon dan sms saja.
Saat ini saya hanya bisa berharap bahwa pelosok itu masih ada.














