Satu dua hari ini saya mencoba mengingat, apakah sewaktu kecil memiliki sebuah cita-cita layaknya anak kecil lainnya. Konon menurut banyak kisah melalui tipi dan lain sebagainya, anak-anak itu kalau ditanya, “apa cita-citanya?”, maka akan jawab mau jadi dokter, jadi pilot, jadi tentara atau lain sebagainya. Saya? entahlah, sampai saat ini saya masih belum menemukan rekam sejarah tersebut, baik melalui orang tua atau sodara lainnya.
Setengah mati saya coba mengingat, mencari tau apa pernah mengucapkan mau jadi apa kalau sudah besar, tetap saja saya tak mampu membalik buku sejarah hidup masa kecil itu. Gelap… Apa yang muncul hanyalah sejumlah snippet yang tak memiliki korelasi dengan pertanyaan pribadi saya. Namun, konon kakek pernah berpesan tentang profesi anak cucunya.
Momen terkait cita-cita yang saya ingat betul hanyalah sewaktu lebih kurang kelas 3 SMA. Waktu itu saya sudah menancapkan niat dengan gagah perwira, bahwa saya tidak akan pernah menjadi pegawai negeri sipil atau karyawan apapun. Saya maunya berwirausaha saja.
Berbekal niat tersebut, akhirnya sampai dengan saat ini, hanya sebagai contoh, saya sama sekali tak pernah gagal tes PNS atau seleksi penerimaan karyawan di perusahaan manapun. Benar-benar tak pernah gagal. Rahasia tak pernah gagal seleksi penerimaan pegawai ini hanya satu: yakni jangan ikut tes !!!
Lagi pula, ada perbedaan besar antara tak pernah gagal dan selalu berhasil. Saya berada pada maqam tak pernah gagal itu. Soal keberhasilan? mana saya tau, namanya juga tak pernah ikut kok…
Waktu berjalan, perlahan saya mengawali usaha sendiri, dan mungkin nanti suatu waktu akan ada cerita soal hal ini, sekarang kembali ke cita-cita dan pesan kakek saja dulu.
“… jadi polisi, jaksa dan hakim …”Konon, pada suatu waktu Kakek pernah berpesan untuk anak cucunya. Pesan kakek tersebut saya dengar dari Mama saya (-demikian saya dan urang banjar umumnya, biasa memanggil ibu dengan sebutan Mama-), bahwa Kakek, ibunya Mama saya pernah berpesan agar anak cucu dan keturunannya jangan ada yang menjadi polisi, jaksa dan hakim.
Tiga profesi tersebut nampaknya dilarang keras olah kakek untuk menjadi pekerjaan dan ladang penghidupan bagi anak cucunya. Benar saja, anak cucu kakek kini umumnya menjalani 2 profesi yakni menjadi tenaga pendidik dan kesehatan. Ibarat data, saya mungkin adalah pencilan, yang tak berada di dunia pendidikan dan kesehatan itu. Tapi saya jelas selalu hormat pada pendidik yang memiliki dedikasi, serta tak mungkin menjadi petugas kesehatan, mengingat betapa mudah ‘tersentuhnya’ hati dan lutut saya oleh darah dan alkes.
Seluruh anak cucu kakek sampai saat ini secara langsung atau tidak, telah menuruti pesan tersebut. Jika kakek masih hidup KPK itu sudah berdiri, saya tidak bisa menebak, apakah berkarir di KPK juga termasuk profesi terlarang menurut kakek.
Atau, apakah ada yang bisa ikut menebak-nebak isi kepala kakek? kenapa gerangan sampai beliau melarang kami, anak cucunya ini untuk menjadi polisi, jaksa atau hakim?
![]()















nasihat kakek pak acil nggak jauh beda dengan nasihat bapak saya. klo beliau menasihatkan agar jangan berprofesi : jaksa, peg bea cukai atau polisi
nasihat itu saya ingat ketika saya meresensi buku biografi pak Hoegeng, mantan kapolri.
artikel ini pernah ditanyakan oleh anak saya, ada apa dng 3 profesi itu? saya menjawabnya dng berita2 di koran dan televisi he..he..
ralat dikit, Kakek is bapaknya Mama, bukan ibunya, tumben salah ketik hehehe
dan soal tiga profesi itu, tergantung niat juga sih..
walau kalo melihat kenyataan sekarang itu, nganu.. ya begitulah.. ente tau sendiri ..
sayangnya saya gak pernah dikasih pesan macam begituan, yang ada cuma kerja dimana saja, yg penting bisa ‘jaga diri’ ..
Konon profesi pengadil dan bidang hukum itu seperti menginjak kaki kanan di surga, kaki kiri di neraka.. Mungkin karena itu kakeknya pakacil berpesan demikian. Takut kualat. Surga neraka kok diinjak-injak…
tiga profesi itu bagi saya juga jelas jauh dari cita-cita, dari kecil secara diam-diam saya pingin menjadi penyair, rasanya sampai sekarang pun belum kesampaian, malah terdampar menjadi tenaga pendidik padahal saya lulusan perguruan tinggi umum.
mungkin harusnya satu lagi larangannya yaitu jangan jadi presiden
ummm…… kenapa yah? aku sih emang mikir sendiri pakacil… gak mau jadi itu klo udah gede (pas kecil dulu). aku mikirnya… capek jadi polisi harus ngejar2 penjahat. capek jadi hakim dan jaksa harus bisa ngapalin kitab hukum. tapi dulu niih kita (aku dan tmn2 kecil) sering main hakim2an… ada yg jadi hakim-jaksa-polisi-yg jd pencuri juga ada. hihi…
.-= • fadhilatul muharram nulis ini lho… Thanks to Thufail Al-Ghifari =-.
baru dengar larangan yang seperti itu, bagaimana jika takdir menentukan ada anak cucu yang diberi kesempatan menjalani tiga profesi itu bakal diambil gak jobnya?
.-= • mamah aline nulis ini lho… Cerita Kunci Pintu =-.
hmmmm, gimana gak di larang, 3 profesi tersebut merupakan profesi yang bisa di bilang langka di temukan orang2 yang jujur menekuni profesinya itu,,,,
kalo cita2 saya dari kecil adalah membantu emak, dan alhamdulillah kesampaian, walaupun gak tau mau berprofesi apaan hi hi hi
hehehe tergantung orangnya juga bro.. siapa tahu polisinya baik
jangankan kakek, nenek pun nglarang kali ya…
pak acil.. ntar klo punya anak, didiklah ia menjadi anak yang mampu meletakkan dunia di genggamannya dan meletakkan akhirat di hatinya. kemudian sarankan ia memilih salah satu dari 3 profesi itu.. hanya begitulah satu-satunya cara, bila ingin merubah sesuatu kita harus berada didalamnya **bundo sok iyeeee
Yang jelas pakacil udah sukses berwirausaha..ya ngga..!
hehehe…
kayaknya ketiga pekerjaan itu udah diharamkan oleh kakek anda
wah mas…
sekarang banyak tuh temen2 kul terutama cewe, maonya pacaran ama polisi
tak laku saya mah
Knp pesan kakeknya Pakacil Spt itu y?
Hehe.. baru turun gunung neh.. Ketinggalan berita..