Hari ini, lelaki muda itu datang lagi. Menginjakkan kakinya di teras rumah ini. Namun penampilannya sudah berganti, tak seperti dulu lagi.
Saya beranjak keluar rumah dan menghampirinya. Memberikan sebatang rokok yang langsung disambutnya tanpa ekspresi. Korek geret saya nyalakan, namun apinya segera padam tertiup angin siang. “anginnya…“, saya berkata. Tangannya bergegas membentuk sebuah perlindungan untuk nyala api. Sejurus kemudian, dia menghisap dalam sebatang rokok itu, untuk kemudian beranjak pergi entah kemana.
Lelaki lusuh itu adalah seorang lelaki yang bertahun lalu selalu nampak rapi. Namun entah badai apa yang membuatnya menjadi begitu rupa. Namun, jauh bertahun-tahun lalu, ia sempat bercerita bahwa ia dibuang oleh keluarganya dari Banjarmasin ke Banjarbaru dan kemudian ia berusaha melanjutkan hidup semampunya. Kalau tak salah saat itu saya masih duduk di bangku SMA.
Saya yang tengah beranjak remaja, kerap melihat ia datang ke rumah, sepintas melihat wajah ramahnya menyapa. kemudian orang tua saya memberikan makanan atau uang untuknya, sekali seminggu atau mungkin lebih. Saya tak ingat pasti. Namun ada yang saya ingat pasti, bahwa ia dulu tak sebagaimana saat ini.
Lelaki itu, yang dibuang oleh keluarganya, yang tidur entah dimana, yang hidupnya dijamin oleh Sang Cahaya, sejenak datang menyapa setelah bertahun-tahun lamanya. Namun ada yang tak jauh berbeda, yakni saya tak bisa berbuat apa-apa …















