Silakan Pilih: Cinta atau Mati !

Kegelisahan saya kembali berulang, karena pada Rabu sore, saya dan Aap menuju Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tujuan utama kami adalah menjenguk putera salah satu kenalan kami di Banjarbaru, yang kebetulan tengah berada dalam kondisi kritis akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya.

bermain dimasa kecil Saya tak akan saya ceritakan kondisi sang anak, tidak tega. Yang jelas, informasi yang saya dapatkan dari pihak terkait menyatakan bahwa belum ada dokter di Kalimantan Selatan yang pernah menangani kasus seperti yang kali ini terjadi.

Satu hal yang pasti, korban adalah seorang pelajar berusia 13 tahun. Saya juga sudah pernah sentil soal anak-anak kecil yang belum cukup syarat itu untuk kesana-sini naik motor, tentang saya yang tak bisa menemukan sebuah sisi lucu, karena ini soal nyawa yang cuma punya satu-satunya !!! Karena itulah kali ini saya berkata, silakan pilih: Cinta atau MATI !

Berawal dari sebuah fenomena …

Begitu banyak anak-anak kecil yang masih berstatus pelajar SD dan SMP sudah boleh menggunakan kendaraan roda 2 (motor). Jelas sekali, tidak terbantahkan kalau secara normatif mereka tidak memenuhi syarat untuk hal ini. Saya masih gelisah atas hal ini …

Manakah yang sekiranya lebih banyak, kebaikan atau keburukan dari pembiaran fenomena di atas itu? Satu hal yang dapat dipastikan adalah, pihak penjual adalah pihak yang paling diuntungkan atas fenomena tersebut. Sementara bagaimana dari sisi lain?

Saya berusaha menghubungi rekan-rekan saya yang kebetulan menjadi psikolog untuk coba mengkaji fenomena ini dari sudut pandang psikologi. Terutama terkait perkembangan kejiwaan anak dan pergaulan sosialnya. Apakah membawa manfaat yang lebih banyak atau tidak.

Saya hanya sering menemukan bahwa seorang anak kecil yang minta diajari naik motor pada orang tuanya, hanya karena melihat kawan mainnya sudah bisa naik motor. Dengan kata lain, karena IRI. Sementara, sebagian orang tua mengajari anak kecilnya naik motor karena melihat anak-anak lain sudah bisa. Dengan kata lain, GENGSI. Walaupun ada juga karena alasan lain yang tidak masuk kategori gengsi ini. Jika sudah bisa, maka tunggulah waktunya, mereka akan keluyuran.

Saya masih belum bisa menuliskan sejumlah telaah lain terkait dengan sistem transportasi massal, volume jalan, pertambahan penduduk, dll yang dalam pikiran saya mendasari dan menjadi sebuah konsekuensi akibat fenomena yang nampak sederhana ini. Saya masih belum begitu konsen, entah kenapa saya masih agak pusing setelah sebuah urusan di PMI Banjarmasin setelah seharian cuma tak sampai sepiring nasi yang masuk.

Namun, untuk saat ini, sebagai penyelesaian taktis atas kegelisahan tak terbendung saya. Lebih baik menggunakan pendekatan normatif terlebih dahulu, menggunakan aturan-aturan yang memang sudah ada saja.

Karena itulah, demi Tuhan yang nyawa saya ada ditangannya serta demi penghulu para utusan yang cintanya menyeruakkan siang dan malam, serta demi kegelisahan saya …

Kepada :
• Kepala Kepolisian Daerah (KAPOLDA) Kalimantan Selatan ; serta
• Kepala Kepolisian Resort Kota (KAPOLRESTA) Banjarbaru

Saya memohon dengan sangat …

Instruksikanlah kepada jajaran lalu lintas Anda untuk menindak anak-anak yang belum memenuhi syarat itu kalau mendapati mereka menggunakan motor. Gunakanlah segala aturan yang ada untuk mencegah mereka menggunakan motor di jalanan umum.

Sungguh, ini bukan untuk menyalahkan mereka tapi untuk mencegah sesuatu yang lebih besar. Bukan untuk menghakimi mereka namun untuk menyayangi dan membesarkan mereka dengan cinta. Bantulah para orang tua itu untuk mencintai secara bijaksana.

Sementara surat saya untuk KAPOLDA Kalsel dan KAPOLRESTA Banjarbaru tentang hal yang sama masih belum selesai, saya masih gelisah, dan sedikit pening, harus tidur lagi …
:(

Pakacil Banjarbaru © www.pakacil.com

24 komentar pada Silakan Pilih: Cinta atau Mati !

  • pusingnya lagi, skarang anak2 yg belum cukup diberi dispensasi untuk bisa mendapatkan SIM ! :hehh:

    jadi inget prinsip ortu saya dulu yang baru ngasih saya ijin naek motor kalo udah bisa nyar duit sendiri ..

    buat yg mengalami musibah… tawakal ya ..

    dispensasi ???
    kalo saya dulu bikin SIM itu pas umur sudah 17 atau 18, lupa persisnya.
    nampaknya jarang sekarang orang tua yang berprinsip yang sama

  • Aap

    Dengan beberapa kejadian yang menimpa keluarga dan teman semakin bikin saya takut naik motor sama keluarga tercinta terutama di hari sore jum’at sampai malam minggu di Banjarbaru…..! Banyak yang ngga ngerti lampu belok, banyak yang ngga takut nyawa hilang baik punya sendiri atau orang lain…!

    banyak anak-anak yang merasa badannya terbuat dari kanvas dan merasa punya nyawa rangkap

  • Ikutin mbah surip aja untuk anak2 yang belum cukup umur naek kendaraan bermotor…. “Tak Gendong” aman toh…………… :|

    soal aman sih aman om.. tapi yang gendong bakal gempor… :D

  • aku gak bisa komen..habis di ceritain aap kondisinya..prihatin… :cry:

    nah, itu dia. gak bisa ngomong saia kalau soal kondisinya :(

  • jadikanlah ini pelajaran :ok: jangan sampai duit bisa membutakan segalanya

    ya… besarkan anak dengan bijaksana..

  • Betul kata Reza :)

    sepakat :)

  • Update:
    Kabar terakhir yang saya terima beberapa waktu lalu disore ini, anak lelaki yang saya ceritakan diawal tulisan ini telah meninggal dunia.

    Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan.

  • jika kabar terakhirnya saya mewakili insan perfilman Dunia dan blogger asia mengucapkan jutaan belasungkawa dan turut berdukacita

    terima kasih :)

  • Kalau ditindak langsung anak-anak belum cukup umur naik motor tentunya cukup banyak dan sudah begitu meluas di Indonesia.

    Saya kira salah satu langkah yang urgen dan penting bisa dilakukan sekarang adalah mendidik anak-anak tsb agar mengetahui aturan dan tata tertib berlalu lintas.

    Misalnya materi aturan lalu lintas dijadikan materi di kurikulum muatan lokal. Sepengamatan saya kecelakaan yang terjadi lebih banyak terjadi akibat salah satu pihak melanggar aturan lalu lintas. Lihat saja banyak yang mendahului dari kanan, itu sangat berbahaya. Ada lagi yang tidak memakai spion (gengsi dan malu) padahal spion sangat penting bagi pengendara.Dan begitu banyak aturan standar keselamatan yang tidak dijalankan.

    Gimana Pakacil?

    hemmm.. bagi saya yang urgen dan taktis itu adalah :
    • Sekolah, misalnya SMP, melarang siswanya membawa kendaraan ke sekolah
    • Aparat harus sering melakukan penertiban
    karena persoalan anak² yg bawa motor ini bukan semata-mata persoalan normatif, aturan, tapi terkait persoalan lain. Orang tua saja masih banyak yang belum dewasa di jalan raya, bagaimana dengan kematangan anak-anak? dan persoalan sosial lainnya.

  • Inas

    Hmm, dari saya kelas 7, saya sudah menggunakan kendaraan bermotor sendiri karena orang tua saya tidak bisa mengantarkan saya ke sekolah, selain itu, dihitung2 dibanding dengan naik angkutan umum (ojek/becak), lebih murah berkendaraan sendiri selain jarak yg relatif dekat dan juga tidak ada angkutan umum yg lewat jurusan rumah saya. Dan sampai sekarang, saya sudah menginjak kelas 11, saya belum menginjak 16 tahun (itu berarti 4 tahun saya tidak memiliki SIM A & C yg seharusnya saya miliki). Jadi bagaimana dgn orangtua yg sibuk bekerja, dan memfasilitasi anaknya untuk mandiri (keluyuran sendiri)?

    -memang melanggar hukum, tp solusinya … (?)

    Bagi yang memiliki kemampuan finansial, silakan gaji seseorang untuk menjadi petugas antar jemput atau kalau tidak, gunakanlah sistem transportasi umum dan untuk pelajar. Dulu ada angkutan khusus pelajar, kawan-kawan saya banyak yang menggunakan itu dan tidak jadi masalah. Sekarang saya tak pernah lagi melihat angkutan khusus pelajar ini. Saya yakin selalu ada solusi. Saya dulu sekolah kemana-mana jalan kaki.
    Persoalan lebih murah itu sangat relatif. Berapa biaya untuk beli kendaraan bermotor atau bayar kreditannya perbulan, tambah dengan biaya BBM-nya. Itu seringkali tak dihitung. Namun, biaya dalam artian duit ini, tidak ada artinya bila dibandingkan dengan BIAYA SOSIAL yang mungkin ditanggung. Biaya sosial ini tak bisa dihitung dengan duit.

  • hadoh kurang satu kata, maksudnya yg belum cukup umur.
    lha wong yg ngasih dispensasi kepolisian sini kok, ada kan beritanya entah kapan itu
    :hehh:

    oh, ralat yang pertama itu ya…
    kacau juga kalau sampai kepolisian memberikan dispensasi atas hal macam ini. kalau memang benar, apa bisa diartikan kepolisian turut serta melanggar aturan gak ya?

    :siul:

  • Jadi bersyukur :) Bahwasanya saya pernah punya motor manakala udah mampu beli sendiri (udah kerja = udah tua), jadi mungkin gak bisa ngawur lagi makainya :D

    memang benar-benar harus disyukuri. Saia juga bawa motor pas sudah besar dan SIM saya bertahun-tahun tak terpakai, cuma buat koleksi. Benar-benar beda sama anak-anak sekarang.

  • Ewin

    Saya yang 2 malam lalu sempat dijemput 10 polisi untuk diperiksa 1×24 jam, alhamdulillah punya kesempatan mendiskusikan masalah laka lantas dan etika berkendaraan, terkait dengan menyalip lewat jalur kiri. Detilnya nanti saya posting hehehe, karena saya masih harus bolak balik bjb-bjm karena wajib lapor.. :p

    heh?!? kena kasus apa ente ? :think:

  • cinta dan sayang orang tua terhadap anak kadang melebihi batas kewajaran. seringkali memberi fasilitas sebelum masanya. sering memberi sesuatu yang sebenarnya belum saatnya. kalo dah terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan, sapa yang mau di salahkan????
    hhmmm, sungguh memprihatinkan!!!
    karena, terkadang pemberian yang berlebih itu kadangkala terjadi hanya karna sebuah gengsi, nggak mau kalah dengan keluarga yang lain. nggak mau anaknya terbiasa dengan hidup yang sederhana…

    Ketika terjadi kecelakaan, penyesalannya bukan menyadari akan hal itu, tapi justru hanya melihat dari segi penderitaan yang di alami. panik, sedih, dukacita. kalo dah sembuh, tetap aja di kasih kebebasan dan fasilitas itu. masyaallah…

    saya bersyukur, jaman kecil nggak punya fasilitas apa2
    bersyukur, karena kondisi ekonomi yang pas-pasan!!!

    semoga hal2 kecil yang punya efek besar seperti ini, nggak akan pernah terjadi lagi. semoga para orang tua membuka mata dan memberi ketegasan terhadapa anak2nya, karena nyawa itu nggak ada di jual di loakan!!!

    Salam,

    Benar, sepakat Mas Zul, saya rasa bahagia dan bangga mengingat bagaimana dibesarkan oleh orang tua dengan cara mereka dulu membesarkan saya. Persoalan ini memang nampak sepele, tapi luar biasa pengaruhnya. Bahkan dulu waktu kecil saya gak boleh main game ! saya lupa namanya, jauh sebelum jaman PS dan game center. Tapi boleh main, kalau mainannya bikin sama teman-teman.
    Apalagi kalau menyangkut soal nyawa … jangankan diloakan, di mall kelas I juga gak bakalan ada…

  • kalo dipikir pikir, kalo memang salah satu keluarga tersebut memiliki kemampuan lebih dalam hal finansial, yaudah tinggal menggaji orang aja untuk pelayanan anak2nya. dan itu nggak harus yang punya mobil aja yang punya sopir pribadi, punya motorpun banyak kok yang bisa di bayar tenaganya. kalo nggak, bisa juga berlangganan ojek dan di bayar bulanan.

    kalo hal itu nggak mau di lakukan, tapi mampu memberi fasilitas lebih yaitu kendaraan, apakah itu bukan gengsi namanya??? masyaallah….

    Banyak jalan menuju roma…

    bener Mas Zul, selalu ada solusi kok.
    Perbandingannya kan sederhana, ada anak yang gak pakai fasilitas tapi bisa tetap sampai ke sekolah kok…
    kenapa yang lain tidak bisa?

Sampaikan komentar? silakan...

 

 

 

:lol: :ogah: :siul: :dance: :peluk: :cry: :tepuk: :think: :semuk: :hehh: :weee: :wink: :nono: ;) more »

Pastikan semua form telah terisi dengan benar & jika komentar tak langsung muncul, biasanya karena akismet dan masuk daftar pending • Maaf, komentar yang sama sekali tak terkait konten (OOT) akan dipindahkan ke buku tamu yang sudah tersedia

Pakacil Banjarbaru

 

Tulisan terbaru di pakacil.com

atau silakan pilih salah satu kategori tulisan berikut:
Asal Jepret | Cerita Sekitar | Cerpen | Event | Usul Asal Usil | Kisah Bahasa Banjar | Mengitari Banjarbaru | Personal | Sudut Lain

 

Pakacil - Banjarbaru, Kalimantan Selatan © www.pakacil.com