Ada 2 (dua) kategori tema yang biasa saya pegang kalau mengisi program-program semacam diklat keorganisasian. Pertama adalah Leadership dan yang kedua adalah Humanisme. Kalau kemudian mendapatkan jatah mengisi materi yang berbeda, maka biasanya itu karena kepepet. Sekalipun kedua materi itu berbeda dalam substansi, namun perbedaan itu sama sekali tidak berada pada substansi lain yang bernama honor.
Sebelum terlanjur khilaf menulis panjang lebar soal honor, perlu saya tegaskan, bahwa tulisan ini sama sekali bukan masalah honorarium, bukan, sama sekali bukan! Cuma entah kenapa tiba-tiba saya teringat soal istilah. Padahal sebelumnya saya sudah mulai asik ngetik tulisan yang berjudul ‘Andai Saya jadi Hobnur’ yang kemudian cuma saya simpan sebagai draft dan buka tulisan baru, ya soal istilah ini.
Menurut KBBI, atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah itu adalah:
- kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu;
- sebutan; nama;
- kata atau ungkapan khusus.
Sementara, menurut saya, istilah itu adalah, ya… nurut saja sama KBBI. Apa susahnya sih ngikut yang sudah ada, tinggal pakai, tak perlu pusing. Lagi pula, itu sudah resmi.
Masalahnya adalah… Saya kadang kala suka mengobrak-abrik istilah resmi, menjadi setengah resmi, atau malah bisa jadi amburadul. Contoh :
Kalau bicara soal leadership, saya seringkali bilang, bahwa sebenarnya itu adalah campuran dari bahasa inggris dan indonesia, yakni leader dan sip. Sehingga ‘leadership’ itu berarti sebuah proses dimana seorang leader atau pemimpin dapat menjadi sip atau oke. Itu saja.
Kalau bicara soal humanisme, maka secara ngawur kerap saya katakan, kalau itu juga terdiri dari bahasa inggris dan indonesia, yakni human dan manis. Sehingga, humanisme adalah bagaimana caranya agar seorang human atau manusia itu menjadi manis, tentu saja tidak dalam artian fisik.
***
Pada suatu waktu, seorang kawan bertanya, “apa itu kemerdekaan, apa itu kebebasan?”
Saya jawab, “kebebasan adalah turunan pertama kemerdekaan terhadap aktivitas dan kehidupan sosial”. *mungkin habis mabuk gara-gara kalkulus*
“referensimu apa?”, itu kawan bertanya lagi.
“kau tanya pendapatku, atau kau tanya pendapat orang lain?”, saya jawab sambil tanya.
***
Istilah bisa jadi hanya sekedar sebuah istilah, namun bisa jadi pula jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya sendiri. Istilah, bisa jadi begitu sederhana bisa jadi pula begitu rumit, begitu tinggi. Ada yang memposisikan istilah sebagai ciri sebuah kasta intelektualitas, ada pula yang suka-suka saja, mengalir apa adanya. Istilah bisa begitu lugas, bisa begitu mumet. Bahkan ada yang sampai menjadi tren.
Istilah bisa juga dipakai untuk menggiring opini, bisa dipakai untuk pencitraan, bisa dipakai menutupi sesuatu, pendek kata, bisa dipakai untuk macam-macam keperluan. Dari era ‘salah prosedur’ sampai ke era ‘dampak sistemik’ saja sudah banyak istilah yang beredar dari telinga ke telinga.
Tapi yang pasti, mau istilahnya hitam, hirang, black, ireng, hideung, schwarz atau zwart, tetap saja kode warnanya #000000.
Lantas, apa maksudnya Istilah Titik-Titik di bawah Ini pada judul itu?
Oh, tidak ada maksud apa-apa, sekedar judul, dari pada berjudul isilah titik-titik di bawah ini? nanti malah dikira UN. Hemmm… punya istilah favorit?
Banjarbaru, pada suatu dini hari
dari isi kepala yang lagi tidak jelas mau apa
istilah tepatnya, bingung …















Menurutku sih, judulnya nurut pakacil aja, bukankah mengikut nyang sudah ada itu enak pak? Sayangnya belum tentu resmi ya?
Pakacil, kumat lagi deh ngaconya.
ha..ha…., ngakak aku bacanya Mas kedua istilah itu.
Sponsorship terdiri dari dua kata; sponsor dan sip. sponsor yang sip. he..he…
salam.
banyak istilah di sekitar kita yg sebenarnya harus dikritisi oleh ahli bahasa, apalagi semenjak era reformasi bergulir. setiap hari muncul istilah baru.
- orang katanya disuruh bijak sana, lha yg di sini bijak juga nggak?
- anggota dpr punya hak angket. sekarang lagi rame. pdhl ada hak lain yg nggak pernah disorot publik : hak angkut. apanya yg diangkut? banyak lah… bermilyar2 kok jumlahnya.
- yg terbaru dimakzulkan, loh emang emaknya si zul ada di mana sih?
contohnya 3 saja ya he..he..
Maaf Mas, saya kirim email ke Panjenengan. tanks.
mau ngisi titiknya… kok gag ada yah…, kalo honornya mau dong
yaelah, pagi-pagi dapat tugas mengisi titik-titik dari pakacil.
pokoknya pak acil itu klo bikin postingan, nge-pas!
utak atik katanya, pas banget!
usil dan jailnya juga pas!
kesimpulan bundo: pak acil pas-pasan.
itu mas Badrus pasti mau nanyain tentang batu cincin, minta pakacil liatin khasiatnya.
Bundoooo, jangan nuduh doong, he..
dasar judul gak nyambung.
mendingan ngomongin honor aja deh, bang.
biar kita tau berapa sih bayarannya buat ngomongin pemimpin yang sip dan manusia yang manis? hihi…
saya mau isi titik-titik di bawah ini, kayak jaman ulangan di sekolahan SD atau SMP pakacil,
klo kegiatan nguping bisa ngak dikasih kode, masak warna doang
Bah, kukira kisah ujian.
ngekekk dulu…
itulah Istilah titik2 di atas … terserah yang bikin istilahnya, yang penting ada penjelasannya, dan jika merasa kurang tepat penjelasannya buat saja istilah baru.
Honor saja tergantung dengan istilah2, bisa rendah atau tinggi gara2 istilah, tergantung bisa meyakinkan istilah yang dilekatkan untuk tingkatan honornya.
Oh ya … Pakacil udah dapat honornya kan?
Kalau ternyata kata, istilah itu diartikan bermacam-macam mungkin perlu dikembalikan lagi arti kata sebenarnya. Kata yang ada sekarang banyak yang mempunyai arti konotasi dan denotasi, maka boleh dong dicetuskan “Bebaskan kata dari makna.”