Sebelumnya, berikut pernyataan sebelum membaca sampai tuntas:
Saya mengerti dan memahami bahwa:
- Tulisan ini tidak merujuk atau ditujukan untuk calon kepala daerah tertentu untuk tingkat apapun dan daerah manapun di Kalimatan Selatan.
- Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulisnya (Pakacil) dan tidak mewakili pendapat instusi atau lembaga apapun.
- Segala akibat yang timbul dari tulisan ini adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.
- Tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tingkat kegantengan atau kerapian penulisnya.
Saya membayangkan, seandainya saja, di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kalimantan Selatan 2010 yang akan datang terdapat kondisi ekstrim dengan hanya ada 2 (dua) kandidat dengan latar belakang sebagai berikut:
Kandidat 1
Bukan orang alim, belum berhaji, isterinya dua, masuk kantor sering telat, pengelolaan keuangan daerah tertib, mampu meningkatkan investasi dan perekonomian daerah, perhatian tinggi pada pendidikan dan kesehatan.
Pendek kata, nakal tapi memang bisa kerja.
Kandidat 2
Alim, kerap ceramah atau khutbah dimana-mana, sudah haji, isterinya cuma satu, tertib masuk kantor, pengelolaan keuangan daerah amburadul, tak bisa bikin terobosan pembangunan atau peningkatan kesejahteraan.
Pendek kata, alim tapi cuma bisa ceramah.
Maka, dengan dasar pemikiran sebagai berikut:
- Religiusitas adalah persoalan yang tak bisa diukur oleh mata.
- Pembangunan adalah keputusan bumi, bukan keputusan langit.
- Orang lapar itu diatasi dengan makan, bukan dengan disuruh sabar.
- Pengangguran itu diatasi dengan motivasi kerja dan terbukanya kesempatan, bukan dengan disuruh sabar.
- Daerah bisa maju dengan kerja riil, bukan dengan pasang baliho.
- Rendahnya kesejahteraan memiliki potensi lebih untuk menimbulkan keresahan.
- Kalau sekedar soal warna kopiah, di pasar juga banyak pilihan !!!
- dan lain-lain yang sejenis
Jelas, saya akan memilih Kandidat Nomor 1 !!!
Sebenarnya, masih ada item persetujuan lainnya, yang ketinggalan pada bagian awal di atas itu, yakni sebagai berikut:
Saya mengerti dan memahami bahwa:
- Inti utama dari tulisan ini adalah persoalan tugas dan kewajiban utama seorang kepala daerah (bupati/walikota/gubernur) dan bukan menghadapkan secara vis-a-vis persoalan religiusitas dan politik.
- Kesejahteraan tidak bisa dibangun melalui baliho dan proses pencitraan yang luar biasa, melainkan dengan kenyataan dan kerja.
Namun, bagi Anda yang sudah terlanjur selesai membacanya, maka saya anggap bahwa Anda juga menyetujui klausa terakhir ini, lagi pula setuju atau tidak, toh Anda sudah terlanjur baca. Namun lagi, jika memang Anda tetap tak sependapat, silakan klik Cancel di bawah ini untuk membatalkan :
![]()
Banjarbaru, yang ada di Kalimantan Selatan
di tengah gegap gempita promosi calon kepala daerah
serta tertular Pak Mars yang posting macam² dipakai itu















saya setuju dengan pakacil
untuk mengukur kadar keimanan seseorang bukanlah pekerjaan manusia. Terus mengenai pilihan No. 1 yang beristri dua ya selama dia bisa berlaku adil untuk kedua istrinya saya rasa sah2 saja.. terus kalo masuk kantor sering telat? emm sedikit pembelaan diri (berhubung sering telat ke kampus) yang penting adalah ia mampu tidak memaksimalkan waktu yang ada? ya ketimbang cepat datang ke kantor terus ngga ada kerjaan mending di rumah atau ke tempat lain saja kan
kalau pilihannya cuma dua aku pilih nomor dua, kepala daerah tidak bekerja sendirian tapi punya bawahan. Toh kalau nggak bisa mengatur keuangan bisa menyuruh bawahannya kepala daerah tinggal mengoreksinya.
Banyak lho perusahaan2 besar yg pemimpinnya tidak tahu njlimetnya pekerjaan dilapangan tapi perusahaan tersebut juga bisa survive dan maju karena mereka memiliki tenaga kerja yg pandai dalam masalah pekerjaan tsb. Yg penting adalah mampu memimpin dan berkomunikasi dgn baik.
apa boleh buat,
saya terpaksa setuju
bukankah eh ciri2 orang yg nomer satu itu ada pada pakacil ya
hahay… mantap ni tulisan sederhana tapi daleeemmmmm…..
Saia juga mau beristri dua …
dengan sadar, setuju dengan klausal terakhir …
Saya setuju mas. tentu, kondisi demikian mungkin kasuistik, tak bisa di generalisasikan pada pilkada di daerah lain. terlepas dari itu, saya sangat setuju itu urusan rakyat adalah urusan bumi, bukan urusan langit.
boleh saja mengatakan itu urusan langit. ya semacam kesadaran naif gitu, yang juga hak pribadi seseorang. tetapi keasadaran kritis juga jauh lebih di perlukan. masyarakat belum sejehtera itu karena faktor sistem negara yang belum berpihak kepada mereka, bukan karena takdir dan nasib semata. kenyataan demikian, masuk dalam jaminan undang-undang. dari sisi UU saja, bahwa persoal masyarakat memang karena faktor kebijakan negara yang belum berpihak.
dalam kondisi demikian, saya memilih nomer satu Mas… he..he..
Saya sependapat Mas…
dengan tidak ada paksaan dari pihak manapun dan dalam keadaan sadar sesadar2nya, bunda setuju saja dengan Pakacil.

takut gak boleh bertamu lagi he he
solusinya gini saja Pakacil, kandidat yg pertama jadi bupati/walikota/gubernur dan kandidat kedua yg jadi wakilnya.
salam.
hehhe tulisana menarik dan saya vote setuju asal tidak dengan pemaksaan
berkunjung lagi dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasih
apaa2n pula itu ada cancel lagi di bagian bawah.
saya sih juga milih yang nomer 1, kalo begitu keadaannya. tapi saya yakin sebagian besar masyarakat akan milih nomer 2.. kan kita masih hidup di masyarakat yang lebih mementingkan penampilan daripada gagasan atau kinerja seseorang.
Itu lah Indonesia…
haha!! saya sih pilih naek haji dan bertamasya pakacil..
yah, saya udah terlanjur baca. mau gak mau musti milih.
karena hidup memang semata-mata tentang pilihan, maka tentunya kita harus memilih yang terbaik. walaupun setiap pilihan seringkali sulit dan tidak ada yang benar-benar bisa mengakomodasi keinginan kita. setiap pilihan memiliki resiko, jadi pilihlah yang resikonya paling kecil atau yang paling mudah diantisipasi.
now i sound like the option #2, cuma bisa ngomong, tapi nggak bisa memberi jawaban pragmatis. haha.
mantap… saya setuju… yang penting bagaimana nantinya membangun dengan tindakan nyata bukan hanya jargon politik saja…!
Pilih saya….(lho…!)
seandainya harus memilih saya pilih nomor 1 aja deh