Bisa jadi anak muda itu ingat bahwa kami pernah bersua pada satu kesempatan, karena itulah ia tersenyum dan mengangguk tatkala melihat wajah saya. Saya pun tersenyum dan mengangguk. Ia tetap dengan properti yang sama, sebuah gitar. Mulailah ia memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak saya kenal judulnya. Ah… pasti itu lagu anak band abad 21.
Sore itu, saya dan Abahnya Najmy tengah menikmati bakso, pakai es. Sebab bakso kalau tidak pakai es jadinya bako.
Seingat saya, dari seluruh pengamen yang pernah saya jumpai di Banjarbaru, anak muda inilah yang memiliki suara paling bagus. Pada perjumpaan kami yang pertama dulu, saat ia mau beranjak pergi, kami bilang, “eit… mau kemana, nyanyi satu lagu lagi, Ibu, lagunya Iwan Fals”. Satu lagu terfavorit dalam hidup saya, karena kesederhanaan dan isinya yang luar biasa.
Anak muda itu menjawab, “maaf ulun kada hafal lagu itu…”. Sayang sekali, ia tak bisa membuat saya mendengar suaranya menyanyikan lagu yang pada keadaan tertentu, sungguh dapat membuat saya menitikkan air mata kalau menyanyikannya sembari memainkan gitar.
Namun sore itu, saya tidak lagi mengajukan request lagu. Saya biarkan ia selesai dan kemudian berkeliling mendatangi meja² mereka yang makan, untuk sekedar menjemput tanda jasa seusai ia bernyanyi. Saya hanya memperhatikan dan menunggu, sembari tangan kanan saya bergerak menarik kursi.
Sampailah ia di meja kami.. Saya pegang dan tarik lengannya sambil berucap, “duduk dulu kamu sini, ngobrol, sambil makan bakso”. Seporsi bakso pesanan tambahan untuknya pun tiba. “Sekarang giliranmu makan, saya sudah. Tak baik menolak rejeki…”, saya berucap menyuruhnya makan.
Sembari ia makan, saya ambil itu dia punya gitar, ah… saya pinjam sebentar maksudnya, saya pinjam pula pick-nya yang terbuat dari potongan plastik entah apa itu. Genjrang.. genjreng… saya mainkan dan mengalirlah sebuah lagu yang bertarikh dari akhir abad 20, Seperti Kekasihku, milik Padi.
Lagu yang mungkin ia juga kenal. Benar saja, kadang ia menimpali, duet ceritanya. Lagi pula sepertinya suaranya tak cocok untuk menyanyikan lagu² macam Biarkan Aku Menangis-nya Tommy J Pisa. Aap memilih jadi pendengar saja. Entah apa yang ada di kepala pemilik warung bakso dan para pelayannya melihat kami, biarkan saja. Lagi pula, lagu itu sendiri bagi saya masih masuk kategori lagu terbaru.
Sebuah lagu telah usai. Anak muda itu tetap sambil menikmati bakso-nya sembari kami berbincang tentang banyak hal. Saya juga bilang ke dia untuk ikut audisi Indonesian Idol kalau ada dilaksanakan di Kalsel, kalau tak ada ya apa boleh buat.
Sore yang indah …
Apa kabar kau, Ainun kawanku, pengamen dari sudut terminal? Bagaimana kiranya kabarmu bapak teman bicara, yang kerap jaga parkir di depan deretan pertokoan itu? Bagaimana kabarmu Dik… yang biasa bernyanyi dari warung ke warung di pinggir jalan Banjarmasin dan pernah kumintakan sebuah lagu untuk kau nyanyikan itu? Dimana kau Mas… rekan duduk dan tidur di emperan terminal bertahun lalu? Pak.. Bu.. kalian yang kerap menjajakan makanan kecil keliling, yang kita kerap bercanda di pinggiran jalan, apa kabarmu malam ini?
Semoga kita semua tetap memiliki mimpi, tetap bisa bermimpi. Mimpi menjadi lebih baik lagi, atau mimpi menjadi pemilik bank sekelas century, mimpi menjadi pegawai negeri, mimpi menjadi penyanyi, mimpi selalu dekat dengan sang kekasih hati, mimpi memperoleh pendapatan lebih di esok hari, mimpi untuk tak lagi merasa sepi, dan berjuta mimpi lainnya lagi.
Sebab konon, mimpi yang bagus itu pertanda tidurnya enak, tiada beban tiada kesedihan. Percayalah, sekalipun beli kasur dan sprei berharga jutaan, tetap tidak tertera “bebas mimpi buruk” sebagai jaminan, yang ada cuma garansi pegas spring bed saja.
Paling tidak, marilah kita bernyanyi, untuk mengusir sepi, merajut mimpi & tetap berdiri…
…
nyanyian jiwa, bersayap menembus awan jingga / mega-mega, berberai diterjang halilintar
mata hati, bagai pisau merobek sangsi / hari ini, kutelan semua masa lalu
…
menjeritlah, menjeritlah selagi bisa / menangislah, jika itu dianggap penyelesaian
…
aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai / tapi aku tetap berdiri …
(Nyanyian Jiwa • Iwan Fals – SWAMI II 1991)
Banjarbaru, suatu hari yang entah kenapa















ah jadi pengen ngamen kapan2
dan mudahan hari ini saya bisa membawamu mengarungi lautan luas itu, amin
Saya kira kemaren pakacil mau duet ikut indonesia idol ..!
Kapan-kapan saya nunggu undangan makan bakso lagi…he..he..
Saya kira bako itu kalau pake es jadinya bakeso....btw.. kenapa ya sepertinya lagu lagu kesukaa anda itu juga merupakan kesuakaan saya….?
Mau dijelaskan alasannya om? Hohoho…
Bukittinggi di hatiku menjadi begitu indah pagi ini dijamu tulisan haru dari Banjarbaru.
**biarkan bundo menikmati dulu setangkup haru ini..
wah lagu2na bagus2 pakacil
berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih
hari hampir siang, Pakacil menyanyikan lagu yang mengharukan.
terdengar indah nian ditelinga…….
salam.
Minggu sore tadi saya melihat dua pengamen cewek nyanyi duet lagu kepompong… Mantep!
.-= • Amd nulis ini lho… Up Raih 5 Nominasi Oscar =-.
kirain isinya rekaman suara reportase langsung dari TKP… *kecewa mode on*
Hi..hi….dulu teman kuliahku ada yg ngamen, ternyata penghasilannya lebih besar dari kuli kantor, gimana gak? sehari dari satu bis ke bis , suaranya aduhai, makanya banyak yg ngasih seceng alias seribu perak, entah kemana mereka sekarang
saya pernah sekali ngamen malem2 di lesehan depan kampus, pak. sama temen saya, berdua. dari sana saya ngerti perasaan pengamen yang ditolak nyanyiannya…
padahal dikasih cepek aja mereka gak bakal nolak lho sebenernya.. lha? kalo belum apa-apa udah mengibas-ngibaskan tangan, patah hati lah mereka..
mimpi untuk tak lagi merasa sepi? saya mengimpikan itu bang….,
mengamen, ide menarik yang sejak dulu ingin saya lakukan… salute untuk pengamen yang memang menawarkan suara yang bagus, tak harus merdu,,, tapi kebanyakan pengamen hanya nyanyi minimal dan mengharap hasil maksimal…
wah keren….hehehehe
Maaf baru bisa berkunjung
semoga pintu maaf belum tertutup.
Menyenangkan selalu mengingat masa lalu, berkeliling Malioboro dan Kereta Bogor – Jakarta. oh God it a dejavu..
Salam kenal.
liriknya bernada tragis, pakacil. terlepas dari itu, saya terkesan cara pakacil mendekati pengemen itu.