2 orang itu, yang satu pembeli, yang satu lagi penjual. Tempat kejadian perkaranya adalah sebuah kios. Saya juga ada di situ. Posisi saya juga jadi pembeli, sehingga total pembeli jadi ada 2. Sementara satu orang lagi asyik tertidur. Itu sodaranya yang sedang jadi penjual, jadi total penjual sebenarnya ada 2. Tapi sudahlah, ini soal antara penjual yang sedang bangun dan pembeli yang bukan saya.
Tangannya memegang roti, tangan itu pembeli maksudnya. Bertanyalah ia, tentu kepada penjual, “berapa ini harganya?”. Lalu itu penjual menyahut dengan santai, “itu ada harganya, di bungkusnya”. Lantas saya interupsi-lah itu penjual dengan pesanan 2 kotak minuman dingin dan 2 pak barang yang selalu disertai peringatan pemerintah minus peringatan DPR-RI itu. Interaksi mereka berlanjut. 2 orang itu. Bukan saya. saya cuma mendengar dan memperhatikan.
“Oh iya… ini harganya Rp 1500,-. Jadi kembalian punya saya sisa Rp 1000,-”, pembeli punya suara sambil menghitung kembaliannya sendiri. Turut membantu mungkin niatnya.
“Berapa harganya?”, penjual malah tanya sama pembeli, dan percayalah sodara, ini hal bikin saya bingung. Penjual tanya harga barang sama pembeli.
“Seribu lima ratus…”, ucapnya lagi.
“mana? 1500?”, itu yg jual seperti tak percaya.
“iya ini tulisannya 1500″, berusaha meyakinkan rupanya. Namun jempolnya kemudian bergerak, dan membuat tulisan harga agak terlindungi. Namun tenang, mata saya rupanya cukup terlatih dalam urusan lirik melirik.
“sini…”, itu penjual ambil bungkusan roti dari tangan pembeli, memperhatikan bungkusnya, tak lama kemudian berucap, “mana 1500-nya… ini harganya 3500 (tiga ribu lima ratus)”.
Sungguh sodara, saya menahan tawa. Saya ulangi ya… biar meyakinkan. Sungguh… saya menahan tawa, karena mata saya secara lincah melihat dan memperhatikan itu bungkusan roti, dengan jelas tertera harga hasil print-out komputer, tercetak tebal alias bold, menggunakan font sejenis Arial, dengan ukuran setidaknya 10px. Tercetak jelas harganya, 3000 !!!
Percayalah, antara pembeli dan penjual itu punya satu kesamaan, yakni sama-sama cari untung, paling kurang sama-sama tidak mau rugi.
Keterlaluan sekali saya ini, malah maunya tertawa, bukannya ikut bantu menyelesaikan. Tapi ya, saya pikir-pikir itu soal sederhana saja, mungkin hanya karena malam hari, lantas agak-agak kabur pandangannya dalam membaca angka-angka yang tertera jelas. Lagi pula, saya meyakini, itu tawar menawar, bargaining, kompromi, atau apapun namanya, untuk kelas begini ini jauh lebih mudah, demikian pula kalau belanja dipasar.
Hal yang sulit itu kalau proses tawar menawarnya berlangsung di/atau menyangkut pusat kekuasaan. Bargaining-nya bakal alot. Naik turunnya jauh susah. Bisa berlapis-lapis layar yang menutupinya. Lantas, kenapa tidak saya nikmati saja proses yang menarik tersebut? Karena jauh lebih mudah dinikmati dari pada proses tawar menawar semisal terkait century dan sejenisnya.
![]()















masalahnya yang di gedung bunder sana perkaranya bukan cuma soal 1500…jadinya perundingan lebih alot
weleh.. ada ya kejadian kayak gini… ? heran saya… ! klo pembeli ga jujur, penjual ga jujur.. kacau balaulah dunia ini..
Di dekat 2 pembeli dan 2 penjual tadi ada 3 cicak…
Yang 1 lari2, yang 2 pacaran.
Penjual yang tidur tak melihat cicak, tapi cicak yang lari2 melihat satu penjual tertidur.
2 cicak yang pacaran tak melihat ada 4 orang, karena dia asyik pacaran. Apalagi huruf arial, dia makin tak paham.
Penjual yang tidak tidur juga tak tau kalau ada cicak, karena dia hanya tau untung…
Penjual yang tidur tak dapat untung karena saat tidur dia tak bisa bedakan mana Rp. 1.500, Rp. 3000 atau Rp. 3.500.
hehhe bener banget om, tawar menawar itu untuk mendapatkan kesepakatan dari si pihak penjual mau cari untuk dan si pembeli juga mau cari untung dgn hrga yg lebih miring he mantp nuy
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
salam blogger
ha..ha..ha..
tawar menawar harga pas tancap gas…
saLam dari PurbaLingga…
antara penjual dan pembeli sama-sama mencari untung…
gimana caranya ya biar dua-dua dapet untung….
Apakah pakacil mau memberi untung kepada penjual dan pembeli…
wakakakakaak *pakacil pailit* .. jangan dehhh
sayang sekali pembeli gondrong itu hanya cengar cengir saja.. *tapi kalaupun nimbrung ngga yakin juga penjual dan pembeli yang sama-sama tak mau rugi itu bakal mengaku malu.
tulisan diatas mungkin ditulis saat Banjarbaru sedang sibuk tawar menawar harga pas.
huahuha… sama2 g nyambung!
hag,… sama2 penipu ternyata…
btw, ketawanya gede or dalam hati aja nih?
Saling cari untung rupanya, tapi gak konek he… he…
mungkin keduanya lagi uji nyali dan latihan meyakinkan satu sama lainnya bahwa harga mereka yang pas …
paling nggak sih kang Iwan pernah nulis, “tawar menawar harga pas tancap gas”
hahaha bisa aja nangkep kejadian jual beli orang… pak acil ga ikutan nawar?
mau 1500, 3500 atau 3000 yang penting SEPAKAT dan jelas saya dapatnya berapa persen
tiga kali saya membaca artikel ini, sengaja saya gantung belum meninggalkan jejak berupa komentar. saya menunggu sidang paripurna kasus century semalam.
ternyata tawar menawar harga pas antara penjual dan pembeli di atas kok analoginya sama dng lobi2 di sidang semalam.